Beranda Majalah Mereka Ingin Kamu Tetap Miskin

Mereka Ingin Kamu Tetap Miskin

51
0
Robert Toru Kiyosaki - mythos.jdevcloud

Robert Toru Kiyosaki

Sistem sekolah sebenarnya mengajar masyarakat untuk miskin. Sistem sekolah tidak pernah mengajar murid-muridnya tentang uang. Semua sistem sekolah dirancang untuk mengajar murid menjadi karyawan, pegawai, atau seorang dokter, seorang pengacara atau spesialis. Tapi tidak pernah tentang bagaimana caranya menghasilkan uang.

Ayah saya seorang kepala sekolah, punya gelar Phd dan gelar-gelar hebat lainnya. Saya tanya dia: “Kenapa kami tidak pernah diajari tentang uang di sekolah?” Dia melihat saya dan berkata: “Karena pemerintah tidak membolehkan kami mengajari materi itu. Pemerintah mengatur apa saja yang boleh diajarkan dan apa yang tidak boleh.”

Buat saya itu aneh. Lalu saya bertanya lagi: “Bukankah seharusnya kami ke sekolah untuk belajar tentang uang?” Dia menjawab: “Bukan! Tugas kamu adalah mencari kerja.”

Kemiskinan ada di mana-mana, dan ada di keluarga kamu. Terjadi di banyak keluarga. Juga terjadi di kelas menengah. Dan sekarang banyak orang duduk di rumah, berjuang keluar dari problem keuangan, atau mereka khawatir dan tidak bahagia karena tidak bisa menghasilkan banyak uang, dan akibatnya tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Itu semua mungkin sudah diajarkan kepada Anda. Superego Anda sudah diarahkan untuk “cari kerja, kerja keras” atau “Saya tidak bisa kaya”, atau “orang kaya itu penjahat.” Atau apapun…

Kemiskinan pertama kali ada dalam mentalitas kita. Tertanam sejak awal dalam pikiran kita. Kuncinya ada dalam cara pandang (mindset). Sampai kamu ubah cara pikir kamu, sebanyak apapun uang yang kamu punya tidak akan membantu. Sebanyak apapun uang Anda, selama mindset Anda masih miskin, Anda akan selalu miskin.

Baca Juga :   Romantisme Dewi Lestari untuk Sebuah Ide Cerita

Kita bisa lihat hal itu terjadi pada orang yang menang lotere (judi). Atau kaya mendadak, kaya dalam waktu singkat. Mereka punya banyak uang tapi tetap terkena masalah sama, uangnya segera habis. Itu karena mereka memiliki mentalitas orang miskin.

Jika kamu merasa miskin, kamu akan selalu miskin.

Ini yang sulit dimengerti masyarakat. Uang pasti hilang cepat. Seperti dialami banyak olahragawan profesional. Karir mereka hebat, menghasilkan jutaan dolar, tapi lima tahun kemudian 65 persennya bangkrut. Itu karena mereka berasal dari keluarga miskin. Jika sekarang Anda beritahu mereka soal itu mereka pasti marah. Mereka akan berkilah: “Ini gara-gara kesalahan orang-orang kaya. Mereka yang bikin saya miskin! Pemerintah yang membuat saya miskin!”

Mentalitas miskin mungkin diturunkan secara genetik. Seperti apa yang dikatakan Mr Lipton (Bruce Lipton, seorang peneliti biologi yang risetnya menyimpulkan hal kontroversial: kemiskinan diwariskan dalam gen dan sudah tertanam dalam DNA), kemiskinan diwariskan secara genetik.

Orang-orang miskin selalu ada di sekitar kita. Karena berasal dari sikap tadi. Sikap itu ada dalam mental mereka, ada dalam perkataan mereka. Apa yang mereka katakan akan jadi kenyataan. Jika mereka selalu berkata “Saya tidak mampu”, atau “Saya tidak bisa”, mereka akan benar-benar menjadi seperti apa yang mereka katakan. Mereka akan menjadi seperti apa yang mereka yakini.

Baca Juga :   Gaya Silaturahmi dan Diplomasi Jaz ala Harry Toledo

Saya bertemu banyak orang yang punya keyakinan seperti itu. Yang selalu berkata: “Saya tidak bisa, Saya tidak mampu menghasilkan banyak uang”. Sikap itulah yang sebenarnya membuat orang menjadi miskin.

Saat kamu bilang “Saya tidak mampu!” saat itu pula pikiran kamu tertutup. Dan Anda benar-benar menjadi apa yang Anda katakan itu.

Ada lagi jebakan dalam dunia entrepreneurship (wirausaha). Pada dasarnya wiraswasta bekerja tanpa bayaran. Wiraswastawan sejati bekerja untuk ide. Ia justru menciptakan peluang, kesempatan bersama. Jadi ada momen saat aku membayar kamu, saat itulah kamu akan merasa jadi pegawai saya. Itu jebakan.

Manakala kamu menerima cek bayaran, otakmu menjadi mati. Tidak kreatif. Selama kamu lapar kamu akan terus berpikir. Otakmu terus bekerja. Banyak orang bilang “mengapa tidak kamu beri uang saja kepada orang miskin?” Kamu tahu, sikap ini justru akan menciptakan lebih banyak orang miskin.

Beri satu ikan kepada seorang miskin, dia akan makan habis ikannya dalam satu hari itu saja. Dan akan makin banyak orang yang meminta ikan. Lain halnya jika mengajar mereka bagaimana cara memancing ikan.

Saya dijuluki sebagai Robin Hood pengetahuan, karena memberi pengetahuan yang membuat orang-orang kaya takut dan berkata “jangan bocorkan itu, Robert.”

Ya, ya, ya… “Jangan beritahu apa yang saya tahu. Biarkan saja mereka miskin.”

Baca Juga :   Mimpi Jefri Harumkan Bangsa Menjadi Kenyataan

Betul, kita semua punya rasa takut. Semua orang punya. Tapi bagaimana kita mengatasi rasa takut itulah yang membedakan seseorang.

Einstein berkata: “Imajinasi lebih penting dari pada pengetahuan. Namun dengan pengetahuan kita memperkuat imajinasi kita.” Dan apa yang membuat banyak orang lemah adalah sedikitnya pengetahuan tentang dunia bisnis yang benar-benar terjadi, tentang akuntansi, tentang utang, tentang pajak. Kamu harus tahu tentang itu semua karena hal-hal itu tidak mereka ajarkan di sekolah.

Anda tahu, kebanyakan orang takut membuat kesalahan karena hal itu tidak diajarkan di sekolah. Hal yang demikian malah membuat dia tidak berkembang. Selama ini kita diajarkan tentang apa yang benar, bagaimana mencapai yang benar itu, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana belajar dari kesalahan-kesalahan. Tiap kali saya gagal seharusnya saya berkata: “Ok, baik, saya gagal kali ini. Apa yang saya pelajari dari semua ini?”

Kita diajari untuk takut gagal, tetapi kegagalan itu justru membuat kita sukses. Sekolah menghukum kita karena berbuat kesalahan. Itu sebab kenapa banyak orang tidak mau mengakui kegagalan mereka dengan jujur. Padahal mengaku gagal adalah satu cara untuk menjadi sukses.

Mereka miskin karena mereka belum pernah gagal. Mereka belum pernah membuat kesalahan yang diajarkan di sekolah. Mereka selalu bermain di wilayah aman. Itu artinya mereka tidak belajar apapun.

Disadur dari sebuah wawancara Robert T Kiyosaki.