Meningkatkan Moral Anak pada Dunia Pendidikan

May 24, 2023 - 00:21
Jun 5, 2023 - 05:02
 0
Meningkatkan Moral Anak pada Dunia Pendidikan
Foto ilustrasi oleh Freepik

Etika dan pendidikan adalah dua pokok yang saling terkait. Seseorang yang memiliki pendidikan akan terlihat dari cara dan gaya hidupnya yang menunjukan sifat-sifat serta perkataan yang sopan dan santun. Etika Pendidikan sebagai kajian nyata bahwa manusia harus melakukan sesuatu dalam tindakan beretika, termasuk di dalamnya proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Namun di masyarakat, sebagai lapangan praktik dunia pendidikan, tidak memberikan nilai-nilai etika yang benar sebagai dasar yang mendidik. Untuk mengurangi krisis moral pada dunia pendidikan, maka secara internal harus di terapkan model pendidikan yang berkarakter dan berbasis pada firman Tuhan.

Dapat dikatakan bahwa Etika Pendidikan merupakan sebuah proses pendidikan yang berlangsung secara terus menerus dalam kehidupan seseorang melalui pengajaran dan penekanan terhadap etika itu sendiri sehingga kemampuan, bakat, kecakapan dan minatnya dapat dikembangkan seimbang dengan etika yang baik dan benar dalam kehidupannya. Hal ini dibentuk sebagai landasan etika, karena menurut Umar Tirtaraharja bahwa, “Pendidikan membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusian merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Pendidikan yang baik dan berhasil, jika seorang pendidik memahami dan menerapkan konsep keteladanan yang baik berdasarkan etika dan moral yang baik.”

Seorang guru harus menjadi teladan yang baik bagi para siswa dalam mewujudkan perilaku siswa yang berkarakter. Oleh sebab itu bukan hanya siswa saja yang dituntut untuk memiliki etika dan moral yang baik, seorang guru dituntut untuk memiliki etika dan moral yang baik sehingga siswa dapat mengambil contoh dari guru tersebut. Apapun yang dilakukan oleh seorang guru akan terekam di memori siswa.

Seperti pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Di dalam pepatah ini kita dapat mengambil kesimpulan apabila kita memberikan contoh yang tidak baik terhadap anak didik kita jangan heran suatu saat nanti siswa kita akan melakukan hal yang lebih parah. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu memberikan contoh-contoh yang baik bagi peserta didiknya.

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk membentuk generasi yang siap mengganti tongkat estafet generasi tua dalam rangka membangun masa depan. Karena itu pendidikan berperan mensosialisasikan kemampuan baru kepada mereka agar mampu mengantisipasi tuntutan masyarakat yang dinamis. Perubahan yang terjadi dengan begitu cepat tidak terlepas dari perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, atau yang lebih dikenal dengan Era Globalisasi.

Selain dari guru, orang tua dan masyarakat juga sangat penting mengajarkan etika. Tujuan mempelajari etika yakni untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu.

Ketika seorang siswa mengetahui etika yang ada di masyarakat, diharapkan meraka akan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebab, ketika bersentuhan langsung dengan masyarakat, siswa ini tidak akan dinilai dan ditanya tentang pelajaran akademis. Yang pertama kali dinilai masyarakat adalah aksi nyata dan perilakunya.

Bagaimana cara mengajarkan etika yang paling efektif?. Banyak caranya. Di antaranya mengajarkan pemahaman agama yang benar, memberikan nasihat, kisah, materi tentang akhlak, dan di atas itu semua cara yang paling penting adalah menjadi contoh nyata. Di sekolah, siswa akan menilai setiap ucapan gurunya.

Siswa ini juga dibentuk oleh lingkungan masyarakat dan keluarganya. Oleh karena itu, perkataan haruslah sesuai dengan perilakunya. Jangan salahkan seorang siswa ketika ia kurang sopan dan tidak mendengarkan guru di sekolah, bisa jadi ada kesalahan pada diri guru. Namun, bisa jadi juga, siswa tersebut memang berasal dari lingkungan yang buruk dan keluarga yang kurang perhatian.

Sayangnya, meskipun diketahui bahwa etika itu penting, terkadang sekolah masih lebih mengedepankan kecerdasan intelektual. Siswa berkepribadian baik dan disiplin jarang menjadi sorotan bila mereka memiliki nilai akademis yang tidak mencapai standar. Kita memang sering mengharapkan secara bersamaan nilai tinggi dan akhlak mulia ada dalam diri setiap siswa, tetapi itu mustahil terjadi begitu saja.

Pola pikir bahwasanya tujuan sekolah bukan hanya sekadar untuk masuk universitas terkenal atau bekerja di perusahaan ternama haruslah ditanamkan sejak dini. Sekolah untuk belajar tentang kehidupan melalui materi yang diajarkan, bertoleransi terhadap sesama dan menjadi kuat dalam menghadapi masalah. Ada baiknya guru tidak memarahi siswa yang nilai pelajarannya kecil karena tidak seorangpun yang ingin mendapatkannya. Bukan kemarahan yang pantas mereka dapatkan, melainkan bimbingan dan motivasi agar mereka menjadi lebih baik.

Ada prinsip dalam bimbingan dan konseling yang mungkin bisa menjadi pemahaman yang perlu kita renungkan. Prinsip itu adalah KTPS (Konseling/ Siswa Tidak Pernah Salah) sebab pada dasarnya setiap individu, terlebih anak-anak, selalu ingin menjadi orang yang baik. Tentu saja, anak yang berbuat salah harus dikatakan salah, tetapi guru tidak bertugas untuk menyalahkan siswa. Perlu diingat nilai kecil bukanlah kesalahan. Kesalahan terletak pada perilaku malas. Yang wajib dilakukan adalah memunculkan kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat tanpa merusak dan menjatuhkan harkat martabatnya.

Jika siswa ternyata memang sulit memperbaiki nilai akademisnya karena kemampuannya, kita bisa cukup menilai tingkah laku kebaikannya sehari-hari. Selain itu, siswa dapat diarahkan untuk memunculkan potensi terpendam yang ia punya yang menjadi kelebihan dirinya dibandingkan siswa yang lain.

Semoga guru, orang tua, siswa dan masyarakat secara umum mengerti pentingnya etika dalam kehidupan. Siswa tidak hanya belajar keras ketika menghadapi ujian, tetapi merekapun bekerja keras dalam mempelajari lingkungan sekitar dan bagaimana menyikapinya. Tujuannya agar siswa menjadi pribadi yang unggul di manapun mereka berada dan bermanfaat bagi manusia lainnya.

Bagaimanapun, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Rudi Purnawan

Guru SMP Al-Furqon NW Bayan,

 Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Sahabat Guru Inspirasi Indonesia Maju