Anak bagaikan wadah, isilah dengan hal yang baik

Perilaku sang anak terutama dalam usia emas sanagt mungkin dipengaruhi oleh keadaan disekitarnya. Mereka harus diberi sebuah filter agar teerlindungi dari perilaku buruk ynag akan terbawa kelak hingga dewasa

Aug 15, 2023 - 04:18
Aug 15, 2023 - 04:17
 0
Anak bagaikan wadah, isilah dengan hal yang baik
ilustrasi oleh freepik

Anak adalah peniru yang baik, mungkin inilah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan anak-anak yang suka meniru dari lingkungan sekitarnya. Anak-anak terutama dalam masa perkembangan fisik dan psikis (dari bayi hingga remaja) memang banyak belajar terhadap apa yang ada disekitar mereka. Mengingat mereka merupakan peniru handal, hendaknya kita baik sebagai orang tua ataupun guru memperhatikan lingkungan sang anak atau perserta didik dikarenakan mereka masih membutuhkan bimbingan untuk memilah mana yang baik dan buruk. Pernahkah kita mendengar bocah SD yang suka berbicara kotor? Jika sudah maka itu adalah bukti yang memperihatinkan bahwa anak sekecil itu justru melakukan hal yang sangat tidak pantas bagi seorang anak dibawah umur. Bagaimana bisa mereka berbicara seperti itu? Tentu saja dengan mengamati dan mengikuti lingkungan yang ada disekitarnya (terutama lingkungan sosial). Mungkin saja ia meniru dari tetangga, dunia virtual (media sosial), tontonan yang mereka lihat, atau bahkan dari orang terdekatnya sendiri seperti orang tua. Perlu diingat juga bahwa selain menjadi pengamat yang baik, mereka juga dapat membawa kebiasaan atau perilaku sejak kecil (terutama usia 0-9 yang disebut sebagai golden age) hingga dewasa. Komarudin (dalam Felicia et al, 2018:15) memaparkan bahwa semua kebiasaan yang diajarkan pada anak akan terbentuk hingga dewasa yang akan menjadi karakter dan kepribadian anak.

 

Seorang anak diibaratkan seperti sebuah wadah kosong, dimana wadah ini akan terisi entah dengan sesuatu yang baik ataupun yang buruk. Dengan menyadari kerentanan yang terjadi oleh sang anak. Sudah semestinya kita mengarahkan anak kepada hal yang baik. Untuk orang tua, cobalah amati lagi lingkungan disekitar anak anda. Apakah ada orang dalam lingkup sosial (tetangga, teman sepermainan) sekitar anak atau justru orang terdekatnya sendiri (seperti orang tua) yang memiliki perilaku yang buruk? Jika sudah maka usahakan jauhi anak dari mereka untuk sementara waktu. Selama masa “penjauhan” ini tanamkan sikap yang sepatutnya dilakukan. Orang tua bisa memberi tahu apa saja yanga seharusnya tidak boleh dan mana yang boleh. Tidak lupa juga agar para orang tua juga mempraktekan apa yang mereka sampaikan sehingga anak akan meniru kedepannya. Contoh: Mengajarkan anak agar memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan yang sopan seperti “om, bibi, kak, abang” untuk menanamkan respect bagi yang lebih tua. Selain lingkungan sekitar, media yang dikonsumsi sang anak seperti video YouTube yang mereka tonton juga memiliki pengaruh yang besar. Terkadang konten yang ada di YouTube mengandung unsur yang tak pantas seperti konten kekerasan maupun perkataan yang tidak baik. Untuk menangani ini orang tua dapat membatasi pemakaian gawai bagi anak agar mereka tidak terpaku dengan gawai. Pembatasan ini juga dapat diiringi dengan mengganti konten yang dilihat anak dengan sesuatu yang lebih edukatif dan bermanfaat seperti belajar bahasa inggris untuk anak anak (english for kids). Agar lebih baik para orang tua dapat berkonsultasi kepada pakar (dalam hal ini psikolog anak) dan mulai belajar ilmu parenting untuk tumbuh kembang anak yang lebih baik.

Guru pun juga dapat berpartisipasi dalam lingkup sekolah bagi masalah ini dengan menjadi role-model bagi murid. Selain itu prevensi (seperti membuat pendidikan karakter yang baik untuk meminimalisir kemungkinan perilaku yang tidak baik kedepannya) dan intervensi (memberikan pendidikan karakter yang lebih intens dengan target utama mengubah perilaku murid agar kembali bersikap baik) dapat dilakukan untuk menangani masalah ini. Pada akhirnya, baik dan guru memiliki perannya masing-masing untuk mencegah seorang anak membawa perilaku tidak baik hingga dewasa.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Darma Putra Kusuma Wijaya Saya adalah mahasiswa jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Universitas Gadjah Mada. Saat ini saya memiliki ketertarikan dalam isu pendidikan di Indonesia