Segudang Prestasinya, Mantul Pendidikan Karakternya

Jul 14, 2023 - 06:28
 0
Segudang Prestasinya, Mantul Pendidikan Karakternya
dokumentasi web SMPN 1 Purbalingga

Waktu menunjukkan pukul 06.55 ketika seorang siswa berdiri di depan pintu gerbang sekolah dengan nafas terengah-engah. Jam pelajaran pertama sekolah ini dimulai pada pukul 06.50. Ia pun bernegosiasi dengan penjaga gerbang sekolah. Setelah diizinkan masuk, ia segera berlari ke sudut ruang guru untuk mengambil secarik kertas. Ia menulis: ‘Saya berjanji tidak akan datang terlambat lagi’.

Ilustrasi di atas adalah salah satu gambaran tentang bagaimana bentuk hukuman yang mendidik diterapkan sebagai model implementasi pendidikan karakter di Sekolah Menengah Pertama Negeri I (SMP N I) Purbalingga, Jawa Tengah. Meski tidak sering, peristiwa semacam itu beberapa kali terjadi. Namun, anak-anak di sana tahu apa yang harus dilakukan ketika melanggar aturan kedisiplinan, diktum yang mereka tanda tangani sejak diterima sebagai siswa SMP tertua di kota kenalpot itu. Menurut sang Kepala Sekolah, “Siswa yang indisipliner, setelah membuat surat penyataan di atas, biasanya tidak akan mengulangi pelanggaran serupa”.

SMP N I Pubalingga, selain dikenal sebagai sekolah negeri favorit dengan segudang prestasi, juga menonjol dalam pendidikan karakternya. Bentuk punishment yang mendidik di atas hanya satu dari sekian warna-warni implementasi pendikan karakter di sekolah ini. Menyusul pemberlakuan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), serta Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang PPK Pada Satuan Pendidikan Formal, implementasi pendidikan karakter di SMP N I Pubalingga kian terasa alias diperkuat. Salah satu program PPK yang sukses dikembangkan adalah kegiatan “Menjadi Mereka”. Penguatan PPK menyatu dengan seluruh kegiatan belajar-mengajar, baik di kelas maupun di luar kelas, baik kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler.

Pada beberapa waktu lalu, Sahabat Guru berkesempatan berkunjung ke SMP N I Purbalingga dan berhasil berkeliling ke seantero sekolah yang sebagian bangunannya bergaya arsitektur era kolonial ini.

 

Menjadi Mereka

Sebagaimana semua mafhum, PPK adalah kebijakan pendidikan dimaksudkan untuk membentuk pribadi siswa berkarakter yang siap menghadapi era persaingan global dengan cara yang kontekstual. Lima nilai utama akan menjadi ciri setiap siswa adalah nasionalis, religius, mandiri, gotong royong/lingkungan, dan integritas. Selanjutnya, setiap sekolah sebagai unit pendidikan mengembangkan berbagai program dalam implementasi PPK ke dalam ragam kegiatan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, baik di dalam kurikuler maupun ekstrakurikuler.

Kegiatan “Menjadi Mereka” menjadi salah satu program PPK andalan di SMP N I Purbalingga. Kegiatan berupa penugasan kepada siswa-siswi secara berkelompok untuk dapat menjalankan peran-peran profesi tertentu di suatu tempat atau lembaga (pemerintah atau swasta), seperti petugas pelayananan publik, pedagang, dan lain-lain. Menurut wakil kepala sekolah bidang kesiswaan kala itu, Nurhadi Santosa, M.Pd, melalui kegiatan ini, siswa dapat belajar, menyelami dan menghayati dinamika sosialnya sebagai media trasformasi nilai- nilai utama program PPK. Siswa sendiri yang menentukan tempat yang akan di jadikan sebagai media pembelajaran. Sekolah memberikan fasilitasi berupa surat pengantar.

“Kami hanya memberi surat pengantar, selanjutnya anak-anak sendiri yang menentukan ke mana mereka akan berpraktik ‘menjadi mereka’. Karena Purbalingga adalah kota kecil, kami dari pihak sekolah pada akhirnya juga menjalin komunikasi baik formal maupun informal dengan penanggung jawab di tempat kegiatan anak- anak,” kata Nurhadi Santosa.

Nurhadi menambahkan, kegiatan ‘Menjadi Mereka’ ini bukan magang. “Beda lokusnya. Ini lebih kepada penghayatan terhadap profesi dan lingkungan tertentu. Dari sana siswa belajar untuk berempati, dan memahami kenyataan berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki,” kata Nurhadi.

Evaluasi yang dilakukan sekolah, kegiatan tersebut berjalan dengan baik dan efektif dalam menumbuhkan pemahaman dan sikap empati siswa terhadap lingkungan sosial di luar sekolah. Hal ini sekurang-kurangnya dapat dilihat dari laporan kegiatan siswa. “Laporan anak-anak cukup ekspresif, dan sepertinya kegiatan Menjadi Mereka ini cukup menyenangkan bagi mereka,” tutur Nurhadi.

“Ini pertanda anak-anak kami cukup menghayati apa yang terjadi di lapangan selama menjadi penjual koran, misalnya, atau ketika berkenalan dengan dunia pelayanan publik pada kantor-kantor pemerintah, anak-anak dapat merasakan betapa repotnya mereka. Atau, di dunia perbankan, meski dalam pemahaman sederhana, mereka jadi mengenal kompleksitas kegiatan jasa keuangan atau perekonomian secara umum,” ucap Nurhadi menambahkan.

 

Santun, disiplin dan toleran

Indikasi keberhasilan program PPK tersebut sederhana, yakni anak-anak menjadi disiplin dan santun dan toleran. Ia yang baru satu tahunan memimpin SMP N I Purbalingga, dan selama ini menjadi kepala sekolah di kawasan pinggiran kota, merasa salut terhadap dua ciri itu pada anak-anak asuhnya. Sekedar asumsi, kehidupan sosial anak-anak di kawasan kota yang biasanya lebih nakal dan macam-macam ketimbang anak-anak di perdesaan.

“Saya merasa implementasi penguatan pendidikan karakter di sekolah kami cukup berhasil. Kesantunan anak-anak kami tidak kalah dibanding siswa-siswi di kawasan perdesaan. Ini dapat kami perhatikan dari cara mereka berkonsultasi dengan kepala sekolah, misalnya, bahasa anak-anak kami cukup tertata baik dan santun,”.

Transformasi nilai- nilai kesantunan dan kedisiplinan itu tak lepas dari kultur sekolah yang selama ini mengembangkan pola relasi dan komu- nikasi harmonis antara guru dan siswa di setiap kesempatan. “Selain kami menyambut anak-anak tiap pagi saat masuk sekolah, kami juga membiasakan untuk saling mengucapkan salam, apakah selamat pagi, selamat siang atau assalamu’alaikum, serta tidak saling menunggu apakah guru atau siswa duluan,”.

Praktik komunikasi harmonis itu juga terlihat dalam kegiatan bimbingan dan konseling (BK) yang berjalan efektif. Siswa tak segan-segan mendatangi guru BK, bahkan kepada kepala sekolah. “BK ini penting tidak hanya bagi anak berma- salah, tetapi juga baik untuk siswa yang tak bermasalah. Bagi anak bermasalah BK untuk menemukan problem solving, bagi anak yang tak bermasalah BK bagus untuk penguatan,”.

Sementara itu, mengingat siswa-siswi dilarang membawa perangkat gadget, pihak sekolah menyediakan satu line telepon yang dapat digunakan sebagai sarana komunikasi siswa secara gratis pada jam istirahat. Fasilitas ini seperti hendak menegaskan bahwa urusan belajar adalah tanggung jawab bersama sekolah dan orang tua.

Dalam kultur semacam itu, sekolah mudah dalam upaya menanamkan nilai- nilai pokok PPK. Contohnya pada nilai utama religius, di mana di dalamnya ada nilai- nilai toleransi. Sekolah ini memiliki tradisi ibadah salat zuhur berjamaah. Mengingat jumlah anak siswanya cukup banyak, anak- anak dipersilahkan salat berjamaah di mesjid besar yang hanya berjarak puluhan meter. “Kebiasaan baik ini berjalan selama waktu istirahat kedua selma setengah jam,”

Kegiatan pesantren kilat dan kegiatan lain dilakukan secara bersama-sama seluruh civitas akademika di sekolah. “Teman-teman guru dan siswa nonmuslim terlihat dalam kegiatan seperti menyiapkan makanan untuk berbuka bagi peserta pesantren kilat. Hal semacam ini sederhana namun besar bagi peserta akan makna kebersamaan, dan lebih khusus lagi bagi penguatan PPK siswa”.

 

Sekolah berprestasi

Segenap pengelola SMP N I Purbalingga meyakini bahwa di tengah situasi dan tuntutan kompleks revolusi industri 4.0, pendidikan mental spiritual bukan soal remeh-temeh atau dianggap bertentangan dengan upaya mendorong siswa untuk berpikir kritis, terbuka, kreatif, inovatif serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan mental-spiritual adalah modal penting dalam menghadapi perubahan serba cepat yang cenderung akan menggerus aspek-aspek moralitas. “Kami menyetujui pendekatan iptek dan imtak. Justru di situlah program PPK menemukan relevansinya,” kata Supangat, wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

Dapat dibilang, lantaran keberhasilannya dalam mengimplementasikan pendidikan karakter itulah SMP N I Pubalingga maraup banyak prestasi, baik bidang akademik maupun nonakademik. Dengan kata lain, implemetasi program pendidikan karakternya mantul (mantap betul).

Dari sisi sarana dan prasaana, SMP N I Purbalingga dapat dibilang cukup memadai. Selain memiliki sarana dan prasarana olah raga, sekolah ini juga dilengkapi laboratorium multimedia, laboratorium IPA, dan perpustakaan. Karena itu, dalam penilaian akreditasi pada 2017 SMP N I Purbalingga memperoleh nilai 97 atau peringkat A dengan predikat ‘Unggul’.

Berbagai lomba di tingkat kabupaten, SMP N I Purbalingga selalu memperoleh nomor terhormat, seperti pada lomba siswa berprestasi, Sosial dan Sains (Sosien), Palang Merah Remaja (PMR) dan lain-lain. Bahkan untuk kemampuan di bidang Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI), sekolah ini bah- kan memperoleh juara pertama tingkat provinsi. Unjuk kebolehan mereka dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=g- Yaf8IawFw0 . Di tahun 2015, SMP N I Purbalingga tercatat sebagai wakil Provinsi Jawa Tengah dalam pemilihan Sekolah Adiwiyata di tingkat nasional.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Sahabat Guru Inspirasi Indonesia Maju