Beranda Berita Inilah 5 Syarat Guru Era Industri 4.0 Menurut Prof Suyanto

Inilah 5 Syarat Guru Era Industri 4.0 Menurut Prof Suyanto

85
0

SahabatGuru–Revolusi industri 4.0 telah mengubah segalanya. Paradigma lama harus dibongkar untuk diisi dengan yang baru. Skill berubah dari tahun ke tahun baik dalam dunia kerja maupun praktik pembelajaran yang berkaitan dengan profesi guru.

“Apa-apa dimasukan dalam internet. Anak sekarang kalau diberi pelajaran dengan omong doang tidak bisa masuk. Nyatat tidak, mendengarkan juga tidak. Oleh sebab itu guru harus berubah yaitu harus melakukan kreativitas,” ujar Prof. Suyanto saat menjadi nara sumber pada Dialog Guru dan Industri 4.0 di Panggung Publik Hari Pendidikan Nasional 2019 di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Senin (29/4/2019).

Dalam paparan Prof Suyanto, setidaknya ada lima hal atau syarat bagi guru profesional di era revolusi industri 4.0 dan menghadapi tantangan abad 21. Berikut ini uraiannya.

1 Memiliki Akhlak Mulia (character building)

Menurut Prof. Suyanto, guru pada era industri 4.0 harus memiliki akhlak mulia atau Character Building, yaitu memiliki Performing Character dan Moral Character.

Performing Character adalah dorongan untuk berprestasi, menjadi nomor satu, tidak kalah dengan yang lain. Sedangkan Moral Character adalah landasan untuk berprestasi dengan cara yang benar. Bukan dengan cara yang tidak benar atau immoral.

Baca Juga :   Genjot Mutu SMK, Disdik Aceh Latihan Guru Jadi Asesor

“Guru harus memiliki dua-duanya tidak boleh hanya salah satu saja. Performing Character dan Moral Character saling menopang satu sama lainnya,” ujar Prof. Suyanto.

2 Guru Harus Menginspirasi

Guru profesional era industri 4.0, menurut Prof. Suyanto adalah yang bisa menginspirasi dalam proses belajar-mengajar. Oleh sebab itu guru tak cukup hanya menguasai cara mengajar yang secara diskripsi, menerangkan, menjelaskan dan mendemontrasikan.

“Semua perkembangan dan penemuan teknologi umumnya didorong oleh inspirasi,” ujar Prof Suyanto yang juga Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Menurut dia, kemampuan memberikan inspirasi menjadi sangat penting bagi guru dalam era industri 4.0 dan tantangan global yang semakin kompetitif. Sebab, guru adalah faktor yang menentukan dalam keberhasilan proses belajar-mengajar.

3 Memiliki Pola Pikir yang Berkembang (Growth Mindset)

Era industri 4.0 dan tantangan abad 21, menurut Prof. Suyanto juga membutuhkan guru yang memiliki pola pikir yang berkembang (growth mindset). Guru yang memiliki growth mindset maka akan terus belajar, berusaha, menerima tantangan serta mencari pemecahannya. Banyak ide dan banyak imajinasi.

Sebaliknya orang yang memiliki pola pikir yang mandeg (fixed mindset) hanya mengandalkan takdir. Menerima apa adanya dan cenderung menghindari dari masalah dan persoalan. Pikirannya terkunci. Tidak bisa merespon terhadap fenomena atau perkembangan yang ada

Baca Juga :   Di Kebumen, Peserta Tidak Jenuh Mengikuti Pelatihan

“Dari mana memulai bisa memiliki growth mindset? Dari diri sendiri!,” ujar Prof Suyanto.

4 Mampu Menganalisa, Mengevaluasi dan Memecahkan Masalah

“Guru dituntut harus bisa analisa, evaluasi dan creating dalam segala hal akan kompatibel dengan industri 4.0,” ujar Prof. Suyanto.

Mengutip prediksi McKensey dan World Economic Forum, dia mengatakan bahwa ditengah terjadinya perubahan skill dalam dunia kerja dan pembelajaran dari tahun ke tahun, namun ada yang senantiasa dibutuhkan yaitu skill complex problem solving. Oleh sebab itu guru harus memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan sistem yang komplek. Tidak sekedar diskriptif.

Semua itu, menurut Prof. Suyanto, membawa implikasi bahwa guru harus menguasai High Order Thinking Skill (HOTS). Sebab, guru juga dituntut harus bisa melakukan sharing, contributing, co creating. Pasalnya, ciri konektivitas itu adalah kebutuhan guru pada era industri 4.0.
Sekarang ini tidak harus sekolah memiliki segala galanya.

5 Profesional dan Kreatif

Baca Juga :   Penting, Literasi Digital dan Literasi Media Untuk Murid

Revolusi industri 4.0 telah mengubah segalanya. Paradigma lama harus dibongkar untuk diisi dengan yang baru. Sebab tak ada jaminan resep keberhasilan masa lalu bisa diterapkan lagi. Kini dan masa depan bukan bagian dari masa lalu.

Oleh sebab itu guru harus berani berubah yaitu harus melakukan kreativitas. Sebab kreativitas melahirkan inovasi. Selanjutnya inovasi menghasilkan teknologi.
Namun teknologi kini antara lain ditandai atau menghasilkan Disrupsi yaitu praktik lama sudah ditinggalkan. Sehingga menuntut siklus kreativitas yang tiada henti.

Guru harus menghadapi ini semua. Selain dituntut memiliki bakat, dedikasi juga menguasai profesi dan memiliki organisasi profesi.

Guru profesional adalah guru yang tindakannya benar dan mindset nya benar sehingga akan sukses.
Sebaliknya kalau mindset salah dan tindakannya salah maka akan gagal. Maka guru harus berubah supaya memiliki mindset benar dan tindakannya benar.

“Mindset yang memberikan keyakinan, kepercayaan, opini kepada guru terhadap situasi atau fenomena. Jadi guru itu harus khusnudon. Bahwa guru kalau percaya murid dan kelasnya pinter maka hasilnya akan maka diajarkan dengan cara yang hasilnya menjadi pintar,” ujar dia.(ris)

Facebook Comments

Komentar