Tradisi Literasi Masih Sangat Lemah, Ini Penyebabnya

1
45
Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada Kabinet Gotong Royong (2001-2004)Abdul Malik Fadjar menuturkan bila tradisi literasi di masyarakat kita masih lemah. (foto: Agung Y, Achmad)

SahabatGuru – Gerakan Literasi Nasional (GLN) sesungguhnya telah membangkitkan minat baca masyarakat. Namun di sisi lain masyarakat seperti menjauh dari tradisi membaca, apalagi tradisi literasi.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Abdul Malik Fadjar menuturkan bila tradisi literasi di masyarakat masih sangat lemah. Tak hanya di lapisan masyarakat bawah dan anak-anak sekolah yang lemah tradisi literasinya, tapi juga di kalangan mahasiswa, bahkan para guru.

“Kelemahan ini kian buruk menyusul kemunculan media sosial. Lemahnya tradisi literasi disebabkan tiga hal, yaitu secara kultural masyarakat kita cenderung lebih kuat pada tradisi lisan ketimbang tradisi literer. Selanjutnya, revolusi teknologi informasi telah membuat orang lebih tertarik membuka internet daripada buku,” kata Pak Malik, sapaannya, kepada Agung Y. Achmad dari SahabatGuru, beberapa waktu lalu

“Selain itu, pranata sosial yang bersifat mendidik atau pranata pendidikan itu sendiri banyak yang tak berfungsi, hilang, atau telah dihapus tanpa dibangun penggantinya. Ringkasnya, pranata pendidikan tidak optimal bekerja,” ucap dia.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini sesungguhnya tak mempersoalkan tradisi lisan. Menurut Malik Fadjar tradisi lisan tetap memberikan pembelajaran baik karena kegiatan mengobrol itu terkait dengan nilai-nilai kecerdasan lokal selain merupakan pranata sosial yang bersifat mendidik.

Nilai-nilai itu terdapat pada pranata-pranata pendidikan seperti Pendidikan Masyarakat (Penmas), Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa (Kelompencapir), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Bahkan, pranata pendidikan semisal Perpustakaan Daerah itu banyak sekali. Sayangnya, kata Malik Fadjar, ini telah mengubah pranata-panata pendidikan semisal Penmas, selain campur tangan politik di sana seperti pada kasus Kelompencapir.

“Saya sedih karena sekarang banyak orang lebih suka bergosip ketimbang membaca buku. Membaca di sini dalam pengertian utuh dan luas, membaca ayat-ayat qauliah dan kauniah. Itu yang semestinya tumbuh pada generasi masa depan bangsa. Tidak bisa kita hanya mengandalkan google untuk memenuhi kebutuhan akan pengetahuan. Mestinya melalui buku. Dalam hal ini, buku tak tergantikan,” mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

“Teknologi informasi itu alat, bukan tujuan. Sementara kita belum dapat beralih dari budaya ngobrol, kehadiran teknologi informasi seolah memperburuk gerakan literasi. Ini mesti kita cermati bersama dengan baik. Padahal, di antara arah gerakan literasi kita adalah penguasaan teknologi,” ucap Malik Fadjar.

Malik Fadjar mengusulkan agar ada upaya revitalisasi terhadap pranata-pranata sosial yang bersifat mendidik itu. Pranata-pranata sosial ini penting sebagai wahana penumbuhan gerakan literasi.

“Termasuk, di dalam kegiatan pendidikan kita di sekolah, bikinlah yang lebih luwes, jangan terlalu struktural seperti membuat aturan-aturan yang kaku,” katanya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini