Shahnaz Haque dan the Power of Touch

0
54

Mendidik anak di era now memang gampang-gampang susah. Demikian kata artis Shahnaz Haque (46), saat berbincang dengan SahabatGuru di Jakarta,  beberapa waktu lalu.

“Kita para orang tua mesti jeli dalam membesarkan anak-anak di era digital ini. Anak-anak kita adalah generasi milenial dengan etos dan orientasi yang sama sekali berbeda dengan kita,” kata Shahnaz mengawali obrolan.

Semua tahu, perangkat digital seperti gawai, dan produk-produk aplikasinya semisal media sosial, seolah berambisi hendak menggantikan semua hal di dunia nyata. Persentuhan intensif anak-anak dengan dunia maya melahirkan komunitas di layar datar cukup kuat.

Menurut Naz, demikian Shahnaz biasa disapa, itu semua pada akhirnya akan membentuk kebiasaan baru hingga mindset anak, termasuk‘kreativitas’ untuk selalu menentang atau berseberangan dengan orangtua. Tatanan nilai di dunia maya memang cenderung longgar.

“Ya, di situ kita sebagai orangtua mesti benar-benar hadir mendampingi anak-anak kita. Kehadiran orang tua mesti benar-benar berasa dan bermakna bagi anak. Jika kebiasaan tersebut ada dalam kehidupan sehari-hari di rumah, guru terhadap murid di sekolah, dan juga kohesivitas sosial masyarakat, kita tidak perlu menghawatirkan perkembangan anak-anak kita,” ucap Naz.

Istri drumer kenamaan Gilang Ramadhan ini mencontohkan kehadiran orangtua melalui pijitan. Pijitan mirip message sebagaimana lazim dilakukan seorang ibu terhadap bayi. Itulah yang ia sebut power of touch, kekuatan sentuhan.

Power of touch ini mewakili kehadiran orang tua tadi, sentuhan yang melibatkan jiwa, ada dialog batin di sana,” ujar lulusan Fakultas Teknik Sipil UI 2002 tersebut.

“Besar loh pengaruh pijitan orang tua bagi anak, seperti juga saat memeluk, mencium atau menyapa anak dengan melibatkanlah hati. Orang tua memang harus menyediakan waktunya untuk itu. Ketika anak merasa nyaman, dan orang tua sebagai pihak pertama tempat bertanya tentang apa yang ia cari dan butuhkan sesuai perkembangan usianya, maka komunikasi kita dapat dibilang berkualitas,” kata perempuan yang hobi membaca itu. “Sentuhan itu terutama dari ibu,” kata ibu dari Mieke Namira Haque Ramadhan, Charlotte Fatima Haque Ramadhan, dan Pruistin Aisha Haque Ramadhan ini.

Lebih jauh, Naz meyakini bahwa seorang ibu dalam sebuah keluarga adalah sumber kebahagiaan. Bila ia tidak bahagia, maka seluruh isi rumah akan sakit.

“Banyak perempuan berupaya mati-matian, selain berdoa tiada henti, untuk dapat memiliki anak, tapi momongan tak kunjung datang. Sementara saya dengan mudahnya mendapatkan titipan ilahi berupa tiga anak perempuan. Bagi saya, jangan sampai amanah ini lahir dalam kondisi bagus tapi pulang bonyok,” tutur pemeran Fatimah dalam film Jakarta Hati (2012) ini berpesan.

Meski fasih bicara parenting serta dunia anak,  Naz masih terus belajar. Ia juga bukan tak pernah berbuat keliru di depan anak, seperti tak dapat menahan marah atau memaksakan kehendak.

“Seringlah itu terjadi.  Kita kan manusia, jadi banyak salah,” kata pengasuh acara Buah Hatiku Sayang di TVRI ini.

“Namun, seiring dengan perjalanan waktu serta pengalaman bersama tim ahli tadi, saya mungkin cukup terlatih untuk cepat memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam pengasuhan terhadap anak. Berkomunukasilah dengan jiwa,” kata Shahnaz yang kerap tampil mengenakan kostum warna hitam ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini