Senakal-nakalnya remaja, mereka adalah aset masa depan bangsa

Remaja diidentikan dengan masa yang penuh gejolak. Dan gejolak ini diidentikan dengan kenakalan. Yang dapat kita lakukan adalah meluruskan mereka jika salah, bukannya dibiarkan begitu saja atau malah mendukungnya

Aug 21, 2023 - 01:37
Aug 16, 2023 - 06:29
 0
Senakal-nakalnya remaja, mereka adalah aset masa depan bangsa
Foto ilustrasi di Freepik

Transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, yang dikenal sebagai masa remaja, adalah perjalanan yang menarik dan kompleks. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi rentang usia remaja dari 10 hingga 19 tahun. Masa ini sering diisi dengan semangat eksplorasi dan pencarian jati diri, ditandai dengan dorongan kuat untuk menggali potensi dan mengukir prestasi. Namun, tak jarang pula remaja terjebak dalam konflik identitas, menunjukkan ego yang tinggi, dan menolak disebut sebagai "anak-anak". Dinamika ini memunculkan dua gambaran berbeda, di mana remaja bisa menjadi agen perubahan positif yang membawa harapan atau justru terperangkap dalam perilaku negatif yang merugikan diri sendiri dan masyarakat.

Tentunya, tugas membimbing dan mendampingi remaja melewati masa ini bukanlah hal yang mudah. Terutama dalam menghadapi fenomena kenakalan remaja, dimana Kartono, seorang ilmuwan sosiologi (dalam Dadan et al, 2017), menggambarkannya sebagai perilaku menyimpang yang melanggar norma dan kaidah masyarakat. Kenakalan ini bisa meliputi berbagai bentuk, mulai dari merokok dan minum-minuman keras hingga berkeluyuran hingga larut malam. Di lingkungan sekolah, perilaku menyimpang mencakup tindakan bullying, membolos pelajaran, dan mengabaikan otoritas guru.

Sejumlah faktor dapat memengaruhi timbulnya kenakalan remaja. Faktor internal seperti perubahan fisik dan emosional yang dialami remaja, termasuk dalam proses pencarian identitasnya, dapat memicu perilaku negatif. Sementara itu, faktor eksternal seperti pengaruh dari teman sebaya dan konten negatif yang diaksesnya melalui berbagai media, juga berkontribusi dalam membentuk perilaku remaja. Bahkan, faktor lingkungan, seperti pola asuh keluarga yang kurang tepat dan dampak kriminalitas, juga turut memainkan peran dalam merangsang perilaku menyimpang (Sharma, 2012).

Dalam menghadapi tantangan ini, guru dan orang tua memiliki peran yang sangat penting. Mereka perlu membentuk aliansi yang kuat dalam mendampingi dan membimbing remaja melewati fase krusial ini. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:

 

1. Menciptakan Lingkungan Penuh Perhatian dan Kasih Sayang:

Remaja sering mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan mereka. Oleh karena itu, penting bagi guru dan orang tua untuk memberikan perhatian yang memadai serta menunjukkan kasih sayang. Dengan merasa diperhatikan dan dihargai, remaja dapat merasa lebih terikat dan cenderung menghindari perilaku menyimpang hanya untuk mendapatkan perhatian.

2. Menghindari Normalisasi Perilaku Negatif:

Lingkungan yang tidak mengindahkan atau bahkan menganggap biasa perilaku menyimpang dapat memberikan pesan keliru kepada remaja. Oleh karena itu, penting untuk tidak normalisasi perilaku negatif dan memberikan sanksi tegas terhadap tindakan menyimpang. 

3. Memberikan Pendidikan Karakter yang Baik:

Orang tua memegang peran sentral dalam memberikan pendidikan karakter kepada anak-anak mereka. Mereka perlu memberikan contoh dan nilai-nilai positif, serta menghindari perilaku yang dapat merusak moral dan etika remaja. Di lingkungan sekolah, guru dapat mengadopsi pendekatan humanis namun tegas dalam mendidik remaja.

4. Menyediakan Sarana Ekspresi dan Pengembangan:

Memberikan wadah untuk menyalurkan minat dan hobi yang positif adalah cara yang baik untuk menghindari perilaku menyimpang. Dalam konteks sekolah, diadakannya klub atau kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat remaja dapat membantu mengarahkan energi mereka ke hal-hal yang konstruktif.

5. Berkomunikasi Terbuka dan Membangun Koneksi:

Membangun komunikasi yang terbuka antara remaja, guru, dan orang tua dapat membantu dalam mengatasi konflik dan tantangan yang timbul selama masa remaja. Dengan saling mendengarkan dan memahami, potensi munculnya kenakalan remaja dapat ditekan lebih awal.

6. Memberikan Pendidikan tentang Dampak Negatif:

Mendidik remaja tentang dampak negatif dari perilaku menyimpang, baik itu terkait kesehatan, pendidikan, atau hubungan sosial, dapat membantu mereka lebih menyadari konsekuensi dari tindakan mereka. Informasi yang akurat dan faktual akan membantu mereka membuat keputusan yang lebih bijak.

7. Mendukung Pengembangan Diri:

Mendorong remaja untuk mengembangkan potensi diri dan minat mereka akan membantu mengarahkan energi mereka ke arah yang positif. Dukungan dari guru dan orang tua dalam mengejar cita-cita dan impian mereka dapat meningkatkan rasa percaya diri dan menghindarkan remaja dari perilaku menyimpang.

Melalui upaya sinergi antara guru dan orang tua, serta pendekatan yang penuh kasih sayang dan pengertian, remaja dapat melewati masa transisi ini dengan baik dan meraih potensi terbaik mereka. Jangan lupa bahwa remaja adalah investasi masa depan, dan melalui bimbingan yang tepat, mereka dapat tumbuh menjadi individu yang tangguh, bijaksana, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Darma Putra Kusuma Wijaya Saya adalah mahasiswa jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Universitas Gadjah Mada. Saat ini saya memiliki ketertarikan dalam isu pendidikan di Indonesia