Romantisme Dewi Lestari untuk Sebuah Ide Cerita

0
68

SahabatGuru – Bagi kebanyakan penulis, ide cerita adalah barang mahal. Inti sebuah karya ada pada ide, sementara lain-lainnya, betapa pun penting, adalah pelengkap. Ketika ide cerita telah dikonstruksikan ke dalam tulisan yang cair, sistematis, serta enak dibaca, penulis baru merasa lega.

Demikian pengalaman Dewi Lestari, penulis novel Supernova yang kesohor itu, berkali-kali merasakan hal itu seusai menyelesaikan sebuah karya. Dee, sapaannya,telah melampaui perjalanan memaknai ide cerita novel terbarunya Aroma Karsa (2018). Novel setebal 724 halaman yang terdiri dari 18 bagian itu digarap selama satu tahun lebih. Pantas bila ibu dari Keenan Avalokita Kirana (13 tahun) dan Atisha Prajna Tiara (8 tahun) ini sekarang berhak untuk bernafas lega.

“Kelegaan muncul lebih karena kita merasa telah merampungkan suatu tantangan baru.  Aroma Karsa mengangkat hal-hal yang jarang ditulis orang. Itu menjadi tantangan yang ingin kupenuhi,” tutur Dee yang mengaku telah menemukan ide cerita novel tersebut lima tahun lalu.

Benar. Bisa jadi karena aroma dan penciuman, hal yang  yang sesungguhnya lazim digunakan orang pada umumnya untuk mengidentifikasi sesuatu, itu bersifat abstrak dan kompleks.  Namun, melalui tokoh utamanya, Jati, sosok unik yang bekerja sebagai buruh di suatu pabrik kompos di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sampah, yang juga pekerja di pabrik parfum di sore harinya, Dee berhasil mengemas makna penciuman dalam filosofi kehidupan yang renyah yang menarik dalam Aroma Karsa.

Alkisah, Jati menjadi andalan perusahaan karena daya penciumannya yang istimewa. Pada suatu saat, bos di tempat ia bekerja dianggap telah merugikan perusahaan pesaing yang lebih besar. Konflik  dua perusahaan tak terelakkan.

Akhir dari perseteruan itu, karena ada masalah pelik yang melilit sang bos, sebagai bentuk komprominya, Jati terpaksa mau menjadi pekerja di perusahaan pengugat tadi. Di tempat barunya, Jati juga menjadi peracik pafum yang diandalkan. Dalam upaya memenuhi tantangan bos barunya untuk melahirkan parfum beraroma istimewa itulah Jati menemukan banyak kenyataan unik dan penuh misteri yang menjadi pokok kisahnya.

Keberanian mengangkat tema serta menjawab hal-hal baru memang menjadi ciri karya-karya penulis ramai dan yang murah senyum itu. Untuk itu, Dee tidak tanggung-tanggung dalam melakukan riset.

Demi kesempurnan Aroma Karsa, Dee rela menyusuri tumpukan sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Ia pun harus mendaki Gunung Lawu demi mewawancarai juru kuncinya. Di gunung setinggi 3.265 m yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur itu Dee menemukan atmosfer misteri dan sisi-sisi legenda Majahpahit yang ada dalam peta cerita Aroma Karsa.

Bahkan, agar dapat menghayati karakter Jati, Dee mengikuti kursus dasar meracik pafum di sebuah perusahaan di Singapura yang berafiliasi kepada sebuah institut kredibel di Prancis selama sebulan. Selain itu, Dee mendalami beberapa hal seperti seluk-beluk industri parfum, industri kosmetik, dan beberapa jenis tanaman semisal anggrek.

Keseriusan Dee dalam menulis telah mengantarkan anak keempat dari lima bersaudara ini menjadi novelis yang karya-karyanya selalu ditunggu.

“Bagaimanapun, cara kita bercerita tetap yang utama, yang meliputi pengaturan plot, pembuatan dialog, pembangunan karakter, penyusunan narasi, dan seterusnya,” ujarpenikmat cerita Donal Bebek dan aneka komik di masa kanak-kanaknya, dan penggila fiksi-fiksi terjemahan karya Enid Blyton, Alfred Hitchcock dan Sydney Sheldon di masa remajanya, itu berbagi rahasia.

Novel Aroma Karsa dirilis dalam dua versi, yakni digital dan cetak. Versi digital dirilis lebih awal melalui platform Bookslife (www.bookslife.co) sejak 18 Januari lalu, sementara penampakan versi cetaknya pada 16 Maret 2018. Versi digital disajikan dalam bentuk cerita bersambung (cerbung).

“Tepat di edisi terakhir cerbung versi digital adalah hari rilis Aroma Karsa versi cetak,” kata suami ahli terapi holistik Reza Gunawan ini.

Leave a Reply