Prof Arief Rahman : Guru Harus Memiliki Rencana Matang Sebelum Mengajar

0
22

SahabatGuru–Tokoh dunia pendidikan Prof Arief Rachman menyatakan, sebagai sebuah profesi, guru haruslah memiliki metode ajar dan trik khusus untuk bisa berinteraksi dengan siswa. Selain memiliki wawasan intelektual, guru juga harus memiliki kematangan emosional menghadapi siswa di dalam kelas.

Arief yang juga menjabat sebagai ketua harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO menyampaikan, ada banyak hal yang harus dievaluasi salah satunya kompetensi guru ketika mengajar. Karena itu, usia guru bukan menjadi persoalan dalam kompetensi guru ketika mengajar.

Pada usia yang ke-76 tahun, ia mengaku dirinya mampu membangun hubungan profesional sebagai seorang pengajar dan murid. Menurut dia, ada beberapa trik untuk bisa membangun interaksi yang profesional dengan siswa di dalam kelas.

Di antaranya, ia mengatakan, guru harus memiliki rencana matang sebelum mengajar. Selain itu, guru harus menjaga jarak dengan siswa, dan perlu ada pembinaan akhlak secara berkala dari pihak sekolah bagi siswa dan guru.

Ia menegaskan guru atau kepala sekolah itu harus membangun wibawa dirinya di hadapan siswa. Ia pun menceritakan pernah melihat ketika upacara di suatu sekolah, para siswa menertawakan kepala sekolah yang sedang berbicara di depan.

“Kenapa? karena kepsek itu berpidato tidak menggunakan bahasa resmi, alih-alih ingin gaul tapi malah ditertawakan. Jadi guru penting menjaga wibawa,” kata Arief yang dikenal sukses mengembangkan sejumlah sekolah ini.

Terkait video yang merekam seorang guru yang menjadi bahan bercandaan sejumlah siswa di Kendal Jawa Tengah, Arief menilai perlu ada penelaahan lebih dalam. Jika hubungan profesional guru dan murid terjalin dengan baik maka kejadian tersebut tidak akan terjadi.

“Jadi harus ada penelaahan yang mendalam dulu, bagaimana cara guru tersebut sehari-hari mengajar lalu sosiologi dan psikologi siswa juga seperti apa. Saya tidak ingin membela siapa-siapa, tapi yang pasti kejadian tersebut bisa terjadi karena guru tidak berwibawa atau muridnya kurang ajar,” kata Arief.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak menyenangkan seperti video yang viral tersebut, lanjut Arief, pihak sekolah harus merancang aturan tertulis yang mengatur batasan hubungan profesional guru dan siswa di dalam kelas. Kemudian, aturan tersebut juga harus disosialisasikan sehingga semua siswa mengetahui aturan tersebut.

“Juga sekolah harus memberi penghargaan dan hukuman. Penghargaan bagi guru atau siswa teladan, juga hukuman bagi guru atau siswa yang melanggar. Hukumannya bisa mulai dari teguran sampai pada sanksi, guru atau anak itu dikeluarkan,” kata dia.

Sebelumnya, viral sebuah rekaman video yang merekam seorang guru pria paruh baya menjadi sasaran guyonan murid-muridnya. Setidaknya, ada lima orang siswa yang tampak mengarahkan tendangan sambil tertawa ke arah guru tersebut.

Dalam video yang diduga terjadi di salah satu sekolah di Kendal, Jawa tengah, tersebut terlihat seorang siswa mendorong kemudian disusul siswa lain. Sang guru terlihat berusaha menghalau murid-muridnya dengan gerakan tendangan dan mengibaskan buku yang dipegangnya.

Mereka tampak terlihat seolah saling tendang bahkan sepatu guru tersebut melayang sebelah. Video berakhir dengan tawa-tawa siswa dan guru mengambil kembali sepatunya yang lepas.(rep/ris)

Leave a Reply