Penuhi Kebutuhan Pasar, Kudus Kembangkan 12 Sekolah Vokasi

0
265

 

SahabatGuru – Sekolah vokasi sangat dibutuhkan karena menjawab keperluan pasar akan tenaga terampil. Pemenuhan kebutuhan itu yang dijawab oleh sekolah-sekolah vokasi yang banyak berkembang di Kabupaten Kudus.

Tidak hanya sekadar berkembang, tetapi Pemerintah Kabupaten Kudus mendorong dan mengarahkan sekolah vokasi benar-benar menghasilkan lulusan yang ahli menangani hal-hal bersifat teknis.

Bupati Kudus H. Musthofa menuturkan pengembangan sekolah vokasi tidak terlepas dari keprihatinannya akan lulusan sekolah menengah kejuruan yang masih belum siap kerja. Mereka tak bisa memenuhi kebutuhan pasar. Hal tersebut yang kemudian memunculkan istilah link and match atau penyambung rantai.

“Pendidikan itu modal utama pembangunan. Dan, pendidikan itu harus terus diperbaiki dan dikembangkan karena harus memenuhi kebutuhan pasar,” kata Musthofa.

Ia menegaskan pasar membutuhkan tenaga-tenaga terampil, dan sekolah harus tahu keterampilan apa yang dibutuhkan pasar. “Itulah yang disediakan sekolah-sekolah di Kudus melalui sekolah vokasi,” jawabnya.

Di Kudus telah dikembangkan 12 sekolah vokasi. Sekolah-sekolah itu dikembangkan menurut bidang keahliannya seperti pelayaran (nautika), teknik permesinan, animasi, jaringan komputer, tata boga, tata busana, tata kecantikan, dan teknik furnitur dan gambar teknik.

Pengembangan bidang keahlian pelayaran boleh dikatakan unik, karena Kudus tidak memiliki wilayah laut. Meski demikian di kota tersebut terdapat SMK Wisudha Karya yang memiliki kejuruan Nautika dan Teknika Kapal Niaga. Hebatnya, alumni sekolah ini mampu memenuhi kebutuhan pasar di berbagai daerah.

“Ketika Presiden Joko Widodo mendeklarasikan bahwa Indonesia adalah poros maritim, kami pun menjawabnya dengan mengembangkan jurusan Nautika atau Kemaritiman. Kami ditanya bukankah Kudus tidak punya laut, lalu mengapa buka jurusan Nautika? Saya menjawab, Singapura punya apa? Tapi negara itu bisa menguasai ekonomi,” kata Musthofa.

Dia melanjutkan lebih baik sebuah daerah yang tidak memiliki laut tapi mampu menghasilkan lulusan yang menguasai maritim dibandingkan daerah yang punya laut tapi tidak hanya menjadi penonton saja.

Tidak hanya di kemaritiman, jurusan tata boga SMKN 1 juga menjadikan siswa yang tidak sekadar menjadi juru masak, tetapi dinaikkan level menjadi chef atau peramu. Mampu melahirkan peramu, SMKN 1 kini malah sebutan Sekolah Kuliner Dapur Nusantara.

Melalui pengembangan sekolah vokasi, Kudus diharapkan menjadi ‘paku bumi’ pendidikan vokasi. Lulusan sekolah vokasi dari kota itu tidak sekadar dilirik, tetapi paling ditunggu kedatangannya saat memasuki dunia kerja.

“Saat orang bicara sekolah vokasi, Kudus menjadi pusat perhatian. Kudus menjadi ‘paku bumi’ pendidikan, terutama untuk pendidikan vokasi. Saat bicara sekolah vokasi, mereka bicara Kudus,” ujar Musthofa.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini