Menumbuhkan Minat Sastra Dengan Story Telling

Rendahnya minat siswa terhadap sastra, sesungguhnya bertalian dengan minat baca masyarakat Indonesia secara keseluruhan

May 19, 2023 - 01:16
 0
Menumbuhkan Minat Sastra Dengan Story Telling
Foto ilustrasi oleh cottonbro studio di Pexels

Sudah sering dikeluhkan, bahwa anak sekolah zaman sekarang kurang meminati sastra. Mereka memang tahu nama-nama sastrawan Indonesia, mulai angkatan Pujangga Baru sampai generasi milenial. Dan pengetahuan semacam itu bisa diperoleh dengan minta bantuan Mbah Google. Tetapi apakah mereka benar-benar pernah membaca karya para sastrawan itu?. Sebagiannya hanya baca ringkasan yang disajikan dalam buku mata pelajaran bahasa Indonesia, tetapi hampir bisa dipastikan hanya segelintir saja di antara mereka yang punya kebiasaan membaca karya sastra.

Rendahnya minat siswa terhadap sastra, sesungguhnya bertalian dengan minat baca masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Menurut UNESCO, indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,0001 persen. Jadi, dari 1000 orang di Indonesia, hanya ada satu orang saja yang gemar membaca. Hal ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statisitik (BPS) tahun 2012 yang menunjukan bahwa sumber informasi penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas diperoleh dari televisi (91,68 %), dan hanya sekitar 17,66 % yang menyukai membaca surat kabar, buku, atau majalah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan membaca bukanlah kebutuhan primer bagi masyarakat kita.

Salah satu bagian yang terpenting dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah memberikan pengenalan dan pengetahuan terhadap karya sastra sehingga karya sastra dianggap menjadi sesuatu hal yang paling penting untuk dipahami oleh peserta didik. Dalam hirarki jenjang pendidikan maka siswa sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan formal yang pertama dilalui oleh setiap siswa maka pada jenjang inilah karya sastra diperkenalkan yang dapat berimplikasi terhadap perkembangan diri seorang anak.

Petanyaannya adalah, langkah apa yang harus ditempuh oleh guru untuk menumbuhkan minat baca sastra di kalangan siswa?

Pertama kali yang harus diingat ketika mengajarkan sastra kepada anak, hendaknya guru mempertimbangan pada aspek penggunaan bahasa yang terdapat dalam karya sastra. Hal ini sangat penting karena karya sastra yang menggunakan bahasa yang sulit dimengerti akan berakibat ketidakpahaman yang berarti juga kegagalan dalam pengajaran sastra. Aspek kebahasan yang patut dipertimbangkan oleh guru yaitu memperhitungkan kosa kata yang baru, dan memperhatikan segi tata bahasa sehingga wacana yang muncul dalam karya sastra tersebut dapat dipahami oleh anak-anak. Yang kedua, guru harus memperhatikan psikologi anak, yang tentunya berbeda berdasarkan tingkatan usianya.

Ada beberapa metode dalam pengajaran sastra. Yang pertama adalah story­telling. Metode pengajaran ini dapat dilakukan oleh siswa atau guru. Dalam kegiatan ini guru atau siswa membacakan sebuah cerita yang dipilih berdasarkan keinginan. Seseorang yang menggunakan story­telling sambil duduk dengan dilingkari anak-anak. Agar lebih menarik, kegiatan story­tellling dapat menggunakan tata rias atau make up dan kostum tertentu yang menggambarkan karakter tokoh utama dalam cerita tersebut sehingga menimbulkan ketertarikan siswa terhadap isi cerita yang disampaikan oleh guru. Dalam penyampain cerita pun harus diikuti dengan gerakan dan mimik wajah tertentu. Beberapa prosedur yang harus ditempuh dalam melakukan story­telling di antaraya adalah memilih cerita yang akan dibacakan dengan memperhatikan kekuatan karakter pelaku dengan tegangan ceritanya sehingga nantinya benar-benar menarik perhatian anak. Berikutnya adalah membaca terlebih dahulu secara lisan sambil memperhatikan dan melatih bentuk visualisasi ataupun gerak mimik yang tepat. Untuk itu mesti dipahami gambaran ciri fisik dan perwatakan pelaku, gambaran suasana, dan bagian-bagian cerita, baik bagian awal tengah, maupun akhir. Setelah itu menentukan satuan bentuk cerita sehingga memudahkan pembuatan jeda penentuan saat dialog dengan anak-anak guna mempelajari, dan memudahkan antisipasi tempo dan ritme penceritaan. Langkah selanjutnya adalah mempelajari cara mengawali cerita maupun bentuk-bentuk tanggapan yang akan diinteraksikan dengan anak. Misalnya ketika menggambarkan pelaku yang lagi berkenalan dengan teman barunya, atau bentuk-bentuk interaksi lainnya. Setelah itu berlatih melakukan story­telling sampai diri sendiri merasa yakin dan nyaman menyajikannya di depan kelas. Dalam hal ini perlu diperhatikan keselarasan antara bunyi ujaran yang dihasilkan dengan gerak, mimik, dan posisi dalam bacaan. Terakhir, melakukan kegiatan penceritaan dengan suara, sikap, intonasi yang bisa diharapkan menarik anak-anak. Selama membacakan perlu adanya kontak pandangan mata dan komunikasi dengan anak-anak, misalnya dalam bentuk tanya jawab.

Metode kedua adalah readers theatre. Metode ini merupakan salah satu bentuk penyajian cerita dalam bentuk kelompok melalaui kegiatan “pementasan”. Meskipun disebut sebagai kegiatan pementasan, tidak berarti siswa harus menyiapkan kostum, propertis maupun penataan panggung. Dalam kegiatan ini anak-anak cukup mengubah cerita menjadi skrip yang disusun oleh mereka dan tidak harus menghapalkannya. Tetapi hanya mempraktekan gambaran tokoh yang diperankannya dengan menggunakan intonasi suara yang sesuai dengan tokoh dalam cerita. Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan dialog, lakuan dan interaksi dengan palaku lainnya secara tepat dan ber makna.                Selain itu kegiatan ini juga bermanfaat agar siswa dapat mengetahui karakter penokohan dan alur cerita dari karya sastra yang mereka pilih dan baca.

Berikut ini beberepa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan readers theatre. Pertama, guru memperkenalkan konsep readers theatre dan mempertegas perbedaannya dengan dramatisasi cerita. Setelah itu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membentuk kelompok yang disesuaikan dengan kebutuhan. Kedua, membantu memperbanyak atau mengkopi cerita yang dipilih oleh siswa untuk dibagikan pada setiap individu agar dapat dipelajari secara bersama-sama. Ketiga, anak-anak melakukan kegiatan membaca secara lisan dalam kelompok. Mereka juga sekaligus diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam memilih karakter tokoh yang dinginkan. Keempat, anak diberikan kesempatan latihan yang dibimbing oleh gurunya.

Metode ketiga adalah menggambar dan bercerita. Pada umumnya anak-anak sangat suka dalam kegiatan menggambar. Hal ini sangat berpotensi jika dikaitkan dengan kegiatan pengajaran sastra anak. Guru dapat mengarahkan anak-anak untuk menggambar dari cerita yang mereka baca, yang kemudian akan ditunjukkan di hadapan teman-temannya sambil menceritakan isi cerita dengan menggunakan gambarnya. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih anak-anak agar memahami isi cerita, meningkatkan daya kreativitas mereka, dan berani tampil dalam menceritakan isi cerita di depan teman-temannya.

Tetapi mengapa anak-anak harus diperkenalkan kepada dunia sastra? Pertama, bacaan sastra akan membantu menyegarkan otak mereka yang lelah karena berpikir yang rumit-rumit. Dengan demikian, bacaan sastra menjadi penghibur atau penyeimbang dalam kegiatan belajar dan dapat berpengaruh terhadap perilaku keseharian anak-anak. Kedua, karya sastra dapat berfungsi sebagai medium komunikasi. Dengan begitu, anak-anak, sesuai dengan tingkatan usia, akan memperoleh tambahan informasi baru, tambahan wawasan, atau pemahaman yang lebih baik terhadap dunia. Mereka juga akan mendapat sebuah kesadaran baru, petualangan spiritual, atau penghayatan terhadap nilai-nilai tertentu. Namun demikian, manfaat yang bisa di peroleh dari karya sastra juga tergantung pada jenis karya bermutu yang dibaca. Jadi, guru pun harus tahu mana karya sastra yang bermutu dan mana karya yang abal-abal. Selamat mencoba!

 

Endah Humaedah

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Sahabat Guru Inspirasi Indonesia Maju