Menjadi Bagian Sukses Generasi Milenial 2000

0
42

SahabatGuru – Tidak menghitung berapa kali saya masuk sekolah, mulai TK, SD, SMP dan SMA. Ada satu pertanyaan favorit yang selalu saya tanyakan: apa cita citamu nak?

Anak anak pun biasanya menjawab ingin menjadi dokter, tentara, polisi, PNS, guru, dosen, bupati dan bahkan presiden. Bertahun-tahun pertanyaan itu saya ajukan dan yang saya tahu, para guru umumnya juga menanyakan hal yang sama. Mayoritas jawaban anak-anak punsama. Sikap kita terhadap jawaban anak anak umumnya juga membenarkan. Bahkan ikut menyemangati dengan kalimat: bercita-citalah setinggi langit.

Belakangan saya menyadari ada yang salah dengan pertanyaan tersebut. Bila terus berlanjut, lalu itu akan membentuk keyakinan pada dirianak-anak. Kita semua harus bersiap akan menjadi orang tua, guru dan pemimpin anak-anak dan murid yang gagal.

Bagaimana tidak, kita telah mengingkari kenyataan bila jumlah kesempatan kerja di sektor formal seperti disebutkan oleh anak-anak itutidak lebih dari 2,5 persen dari kesempatan kerja. Kita bisa membayangkan setelah mereka lulus SMA atau kuliah lalu tidak mendapatkan seperti yang dibayangkan saat kecil, mereka akan kecewa dan bahkan bisa frustasi.

Kini kita harus membiasakan dengan pertanyaan yang lebih tepat, misalnya: di mana kalian besok akan hidup, dengan cara apa kalian akan hidup, dengan siapa kalian akan hidup dan kalian ingin menjadi kaya atau miskin? Pertanyaan ini lebih terbuka dalam membayangkan formasi pekerjaan di masa depan, lebih terbuka terhadap semua kemungkinan minat dan potensi anak anak.

Pertanyaan itu juga merangsang anak untuk berpikir karya apa yang mereka lahirkan bisa laku. Karya yang laku ini perlu dicatat karenaanak-anak umumnya ingin hidup layak dan mandiri. Bahkan anak-anak sudah mulai dirangsang untuk bersiap dalam kolobarasi atau kerja sama dengan pihak lain.

Harus kita akui, pertanyaan dan cita-cita formal adalah produk sejarah. Sejarah birokratisasi dan revolusi industri kedua yang berfokus pada sektor pertanian. Birokratisasi memerlukan sejumlah pegawai pemerintah dan karyawan untuk mengisi pabrik-pabrik yang menopang sektor pertanian. Sekolah dan perguruan tinggi didirikan hanya untuk melahirkan lulusan yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Kini zaman sudah sangat berkembang pesat. Dunia hanya sebentar memasuki revolusi industri ketiga karena sudah melahirkan revolusi industri keempat. Semua itu dipicu oleh komputer dan internet

Internet of and for everything, data besar, robotik, nano teknologi dan teknologi digital printing tiga dimensi dengan cepat mengubah gaya hidup, cara bekerja dan pola hubungan sosial. Jumlah penduduk yang terus tumbuh sementara sumber daya lahan malah berkurang menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan dengan sentralisasi. Untuk inilah demokratisasi dan otonomi daerah hadir. Agar para politisi dan publik dapat fokus pada problem dan cepat menyelesaikan masala bersama.

Semua kemungkinan gagasan, inovasi dan praktek solutif dapat dengan cepat tercipta lewat revolusi komunikasi sosial. Kini semua orang bisa menjadi produsen, agen dan konsumen informasi.

Dialektika ini memungkinkan lahirnya berbagai terobosan bisnis, di sektor keuangan lahirlah fintek, di sektor pariwisata lahirlah agen travelonline, dalam bidang perdagangan, omzet toko online bahkan mengalahkan hypermart.

Di bidang transportasi, skema sharing untuk taksi dan ojek dengan cepat mendisrupsi perusahan taksi yang sudah lama mapan. Satu lagi sungguh menarik, dari sisi pelaku bisnis. Jika dulu pebisnis harus punya basis keluarga atau koneksi kuat dengan kekuasaan dan modal. Kini kita dapat menyaksikan anak anak muda yang bukan siapa-siapa dapat melahirkan bisnis yang beromzet triliunan. Bisnis tidak lagi milik orang kota besar, bahkan di sebuah kota kecil dapat menjadi pusat perdagangan online.

Jadi saatnya kita melupakan pertanyaan soal cita-cita formal kepada anak-anak. Dunia sudah berubah. Banyak pekerjaan yang usang bakal lenyap. Namun akan muncul banyak jenis pekerjaan baru.

Beruntungnya anak-anak kita bukan produk sejarah seperti kita. Bagi kita mungkin keterikatan dengan rumah dan benda masih kuat. Karena itulah memiliki rumah dan kendaraan masih menjadi obsesi dan prestise. Begitu juga memakai sepatu pantofel dan seragam kerja masih menarik buat kita.

Tapi anak anak yang lahir tahun 2000, setelah reformasi, dan rata rata orang tuanya terdidik, tidak pernah kekurangan pangan. Sejak kecil sudah main game, sangat familiar dengan internet. Sikap, cara pandang dan perilakunya sungguh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka sangat percaya dengan komunikasi virtual sementara diantara senior atau orang tuanya masih nyaman dengan tatap muka atau kertas yang dapat dilihat dan diraba.

Anak anak harus dilatih melihat masa depan, mampu berniat positif, dapat melihat peluang, mulai merancang karyanya, melihat kehidupan dalam spektrum yang luas, siap berkolaborasi dengan siapa pun, hidup sehat, dan mempu mengelola diri untuk hidup bahagia. Tapi ini semua hanya dimungkinkan, jika kita tidak terjebak pada pertanyaan cita-cita formal, pola pendidikan yang dogmatis, tidak hidup dan menghidupkan, tidak mendorong semangat reflektif, kritis dan inovatif.

Bagaimana dunia pendidikan menyiapkan ini semua? Semua unsur pendidikan suka tidak suka harus memahami perkembangan sejarah kehidupan, revolusi industri 4.0, terlibat aktif kolaborasi dengan dunia industri.

Semua jenjang pendikan perlu bersinergi untuk terus dapat meningkatkan kurikulum dan pengayaan didaktik metodiknya. Satu hal lagi mari jadikan anak-anak milenial 2000 sebagai kawan aktif belajar. Bahkan juga kawan dalam merancang kurikulum yang relevan.

Saat ini di Universitas Muhammadiyah Gresik sedang mendisrupsi diri dan memastikan peta jalan transformasi pendidikan yang berorientasi industri 2.0 dan 3.0 ke industri 4.0 demi membantu anak anak milenial generasi 2000 lebih siap menghadapi hidup. Bagi kami inilah panggilan sejarah, panggilan Keindonesiaan dan Keislaman. Siapa mau gabung?

*) Dr. Suyoto. M.SI, dosen Univesitas Muhammadiyah Gresik, pernah bekerja di pemerintahan sebagai Bupati Bojonegoro tahun 2008-2018. Instagram: @kangyotobgoro

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini