Membuat Anak Bangsa Cerdas, Tanggung Jawabnya Siapa?

Menjadi bagian dari guru abad 21 itu memang membanggakan. Setidaknya banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi ini, meskipun sebagian juga ada yang masih mengeluhkannya karena gaji yang tidak seberapa. 

Membuat Anak Bangsa Cerdas, Tanggung Jawabnya Siapa?
Membuat Anak Bangsa Cerdas, Tanggung Jawabnya Siapa?

Menjadi bagian dari guru abad 21 itu memang membanggakan. Setidaknya banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi ini, meskipun sebagian juga ada yang masih mengeluhkannya karena gaji yang tidak seberapa. 

Namun percaya atau tidak, disadari ataupun tidak, menjadi guru masih dianggap sebagai pekerjaan yang kadang dipandang baik, namun juga kadang masih juga suka dipandang sebelah mata. Filosofi kata "guru" itu sendiri yang masih kerap terikat dengan sintesa "digugu dan ditiru" kadang menuai kebanggaan yang sangat berarti bagi guru itu sendiri, menyangkut profesinya. 

Namun kenyaataan masih ada saja guru yang hanya dibayar dengan jasa yang di bawah UMR kok jadi memberikan kesan kalau menjadi guru itu "terlalu ngenes".

Saya pernah berhenti di SPBU ketika pagi-pagi hendak berangkat mengajar. Bapak-bapak muda usia 20an akhir seusia saya yang melayani pada waktu itu bertanya, "Enak ya, Pak, ngajar." 

Kalimatnya terdengar datar. Saya jadi agak bingung untuk mendeskripsikan apakah kalimat tersebut hanya perkataan biasa, atau malah pertanyaan. Saya menoleh ke pria tersebut sambil tersenyum dan membuka tutup bensin agar memudahkannya mengisi BBM.

"Aku dulu pernah ngajar. Tapi berhenti," celetuk pria itu lagi menggantung. Nah, kali ini saya merasa ada celah untuk menjawab. "Kenapa berhenti, Pak?" tanya saya langsung, saya tidak bisa berpikir banyak kala itu, karena memang belum begitu kenal, meski di akhir pembicaraan akhirnya saya tahu kalau dia adalah suaminya tetangga saya. 

Pertanyaan saya pun terhenti di situ, tanpa ada jawaban darinya. Karena dia keburu melayani pelanggan lain di belakang saya yang jika digambarkan masih banyak mengekor sampai jauh.

Di sepanjang jalan saya jadi tidak habis pikir. Pria ini sebelumnya menyatakan kalau menjadi guru itu enak. Namun kenapa dia berhenti? Saya bertanya sendiri. Pernyataannya masih mengganjal bagi saya. Jika memang dia merasa kalau menjadi guru itu "enak", semestinya dia melanjutkan pekerjaan itu.

Makin ke arah sini sepertinya alasan yang menjadi pemicu keluarnya pria itu dari mengajar pasti karena minimnya gaji yang didapatkannya dari pekerjaan sebagai guru. Apalagi kalau dibandingkan dengan upah yang didapatkannya dengan bekerja di SPBU, jauh, jauuh sekali. Saya paham sih sekarang, dia ingin berjuang untuk anak istrinya.

Kemudian hadirnya Mas Menteri Nadiem, dengan gagasan PPPK, yang sebetulnya sudah ada sejak 2018 lalu, tapi masih hangat sampai sekarang, terlebih setelah keluarnya pengumuman kelulusan PPPK beberapa hari ini.

Alhamdulillah. Jika boleh berucap syukur saya ikut senang mengetahui teman dekat saya, yang saya sagat tahu bagaimana perjuangannya mengajar selama ini, akhirnya mendapatkan penguatan atas jasanya di kemudian hari, dan akhirnya memperoleh NIP di bawah namanya.

Apakah perjuangannya cukup mudah? Tidak juga.

Saya jadi ingat dua tahun yang lalu, ketika saya lulus CPNS di Kabupaten Musi Rawas Utara. Meski saya lulus murni kala itu, masih saja ada yang bertanya kepada saya, "Nyogoknya habis berapa?"

Tapi saya tidak akan mempermasalahkan hal itu kali ini. Mari kita kembali ke pembahasan guru lagi. Kita kembali ke situasi dua tahun terakhir, di mana anak-anak usia sekolah terpaksa "dirumahkan" untuk diberikan pembelajaran jarak jauh.

Mungkin memang efektif untuk guru dan peserta didik yang berada di kota. Bagaimana dengan guru yang mengabdi di daerah yang minim jaringan? Jangankan bisa menjadi guru abad 21 yang katanya dituntut mampu menggunakan teknologi, kadang-kadang kami tidak punya fasilitas atau mungkin referensi yang cukup untuk melakukan itu. 

Namun sekali lagi, terimakasih kepada Mas Menteri yang tidak terlalu menuntut, dan memberikan kami kebebasan untuk melakukan merdeka belajar. Saya sebagai guru bisa mengajar murid saya ke rumahnya. Terkesan seru, awalnya, namun lama-lama saya merasa tidak enak juga kepada wali murid saya, apalagi saya laki-laki dewasa dan dia perempuan dewasa. Meskipun niat saya ke sana untuk mengajari anaknya. Tapi agak risih saja sih. Ruang gerak saya sebagai guru jadi terbatas.

Ketika pandemi semakin mencuat, dan membuat zona yang semula kuning menjadi merah, pembelajaran jadi berhenti. Tidak belajar daring, luring pun juga tidak, lepas, los, murid hanya bertemu guru seminggu sekali untuk mengumpulkan dan menjemput tugas yang baru.

Jadi sekarang pertanyaannya membuat anak-anak bangsa ini pintar menjadi tanggung jawabnya siapa? 

Anak-anak ketemu gurunya jarang. Belajar di rumah dengan bimbingan orangtuanya pun tidak maksimal. Orangtuanya menyalahkan guru. Guru jadi kebingungan disebabkan anak lebih banyak waktunya bersama orangtua.

Saya rasa menjadi guru abad 21 sekarang ini sangat tidak mudah. Selamat berjuang para guru muda. Ingatlah dan tanamkan dalam hati lirik lagu Bangun Pemudi Pemuda yang mengatakan, "Masa yang akan datang, kewajibanmu lah, menjadi tanggunganmu terhadap nusa!"

Semangat berjuang teman-teman guru. Mencerdaskan anak bangsa memang penting, tapi lebih penting lagi kesehatanmu, jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan dan berrdoa. Semoga Tuhan semesta alam senantiasa membimbing kita melakukan kebaikan.

HADI KURNIAWAN