Karangasem, The Spirit of Bali

0
40
Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri melakukan pembenahan di banyak sektor di kabupatennya, tak terkecuali pariwisata. (foto: Agung Y. Achmad)

SahabatGuru – Dunia sempat geger menyusul peristiwa eruspi Gunung Agung di penghujung tahun 2017 lalu. Betapa tidak. Lantaran erupsi yang diperkirakan menyemburkan material ke angkasa hingga 3000 meter dari puncak gunung itu telah menghentikan semua kegiatan Bandara Internasional Ngurah Rai akibat hujan abu tebal. Begitu pun dengan kunjungan wisata ke Bali mandek dalam beberapa pekan

Tak heran pada beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla lantas datang ke Karangasem untuk memastikan kepada masyarakat dunia bahwa Bali telah aman untuk dikunjungi. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 60 duta besar negara sahabat, juga 124 agen wisata global, diundang pada acara tersebut.

Demikianlah, betapa penting arti Karangasem bagi Bali, bahkan Indonesia. Hingga hari ini pulau dewata itu masih merupakan ikon wisata dan sumber penyedot devisa terbesar di sektor turisme di negeri ini.

Mata dunia layak melihat kembali catatan sejarah dan potensi Kabupaten Karangasem yang beribu kota di Amlapura ini. Bagi masyarakat Bali, Gunung Agung adalah ikon keanggunan serta pusat spiritualitas. Hal itu tidak lain karena keberadaan pura terbesar di Bali, bahkan paling akbar di dunia, yaitu Pura Besakih, di lereng barat baya Gunung Agung.

Kabupaten Karangasem, Bali, dengan ikonnya, Gunung Agung. (foto: desabugbug.com)

Pura ini dipercaya sebagai tempat pertama kali wahyu Tuhan diterima Hyang Rsi Markendya, yang kemudian melahirkan agama Hindu Dharma yang dianut masyarakat Bali hingga hari ini.  Semua kegiatan seluruh pura yang ada di Bali merujuk ke Pura Besakih yang telah terdapat dalam daftar pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995 ini.

Di lain pihak, posisi Karangasem yang berada di ujung timur Bali itu belum didukung infrastruktur transportasi memadai. Karena itu, Karangasem sering ditinggal dalam dinamika Bali. Menyadari hal itu, Karangasem di bawah kepemimpinan Bupati I Gusti Ayu Mas Sumantri berusaha melakukan pembenahan di banyak sektor, tak terkecuali pariwisata.

Pengelolaan wisata didesain sedemikian rupa sehingga terjadi kolaborasi yang sangat bagus antara konservasi budaya, alam serta pemberdayaan  masyarakat lokal. Otentisitas Karangasem dapat berdampingan dengan tuntutan kepariwisataan. Terdapat beberapa komoditas khas Karangasem, seperti sapi, kopi, salak, dan lain-lain.

“Karangasem ingin mewujudkan pariwisata spiritual berbasis Desa Adat,” Bupati I Gusti Ayu menerangkan.

Karangasem mempunyai delapan kecamatan, tiga kelurahan, 78 desa, 52 lingkungan dan 552 dusun, 190 Desa Adat dan 605 Banjar Adat. Masing-masing kecamatan memiliki kekhasan yang menarik dan unik.

Kecamatan Abang, misalnya, memiliki potensi bawah laut terbaik di dunia. Kecamatan Bebandem menyodorkan ikon produksi salaknya tidak terdapat di kecamatan lain, di luar taman abadi di Desa Sibetan.

Kecamatan Karangasem eksis sebagai pusat kerajaan bersejarah. Kecamatan Kubu adalah penghasil komoditas mete. Keamatan Manggis adalah pintu dunia (di Padang Bai). Kecamatan Rendang  memiliki padang bunga Kasna, berada di Desa Temukus. Kacamatan Sidemen merupakan pusat produksi kain endek dan songket. Dan, Kecamatan Selat adalah wilayah dengan batu cadas khas.

Demi menjaga otentisitas dan kekhasan masing-masing kawasan, Pemkab Karangasem mengembangkan program One village one product dan Desa-preneur. Kewajiban Pemkab adalah menyediakan infrastruktur akses, pendanaan, mempermudah perizinan, pembinaan hingga penyelenggaraan atraksinya.

“Kami juga sudah meminta kepada pihak pengelola hotel, misalnya, untuk mengutamakan penggunaan produk-produk Karangasem. Misalnya buah salak menjadi welcome fruit,” kata Bupati.

Dua program di atas membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, selain menjadi wahana pembelajaran bagi siswa-siswi untuk mendalami potensi lokal masing-masing. “Misalnya, sekolah menyelenggarakan ekskul tenang cara menanam, beternak sapi, dan lain-lain,” ujarnya.

Bagusnya, dua program tersebut dilakukan tidak secara top down, melainkan memperhatikan aspirasi masyarakat. Jadi, nanti akan ada MoU (Memorandum of Understanding) antara Pemkab dan seluruh desa adat sehingga efektivitas dan feedback-nya jelas.

“Biarkan mereka yang tahu daerah masing-masing untuk merencanakan produk unggulan apa yang akan mereka kembangkan. Semua pihak, termasuk organisasi perangkat daerah harus tahu apa yang akan dikerjakan,” tutur I Gusti Ayu.

Di luar tempat-tempat wisata di atas, Anda rindukan pantai di Karangasem? Jangan khawatir. Karangasem menyediakan banyak pantai yang masih indah sekaligus unik. Di sana ada Virgin Beach, pantai  Padang Bai yang diapit dua pantai, yakni pantai Blue Lagoon utara selatan dan Pantai Bias Tugel di sebelah selatan.

Tak jauh dari bibir pantai berpasir putih di Blue Lagoon terdapat dua batu karang besar dan air lautnya berwarna biru dengan gradasi warna hijau bila cuaca cerah. Di pantai teluk Labuhan Amuk ada wisata bahari eksklusif, yakni naik kapal selam Odyssey, selain aneka water sport di pantai Tanjung Benoa Bali.

Dengan potensi dan pengembangan yang dikembangkan Pemkab di atas, Karangasem dengan bangga menjadikan Karangasem The Spirit of Bali. Benarlah, belum ke Bali bila belum berkunjung ke Karangasem. Anda belum mengenal Bali yang sebenarnya jika belum ngeh  semua hal tentang Karangasem. Pesona Karangasem memang tak tergantikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini