Karangasem, Regrouping Sekolah Saat Terjadi Bencana

0
80
Anak-anak sekolah di Kabupaten Karangasem menerima arahan terkait kegiatan belajar-mengajar selama erupsi Gunung Agung, Bali. (foto: Pemkab Karangasem)

SahabatGuru – Menyelenggarakan kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah dalam situasi normal, apa pun ceritanya, adalah hal biasa. Namun, bila praktik tersebut dapat berlangsung dengan baik (seperti dalam situasi normal) ketika terjadi bencana, seperti gempa bumi, banjir atau gunung meletus, maka itu hal yang luar biasa.

Pengalaman tersebut pernah dibuktikan Kabupaten Karangasem, Bali, ketika terjadi erupsi Gunung Agung, November tahun silam. Pemerintah setempat mampu menjamin kesinambungan penyelenggaraan kegiatan pendidikan sebagaimana mestinya. Menariknya, kegiatan belajar-mengajar dilakukan di luar wilayah administrasi Karangasem alias tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Kok bisa?

Mungkin ini pengalaman pertama dalam sejarah pendidikan di tanah air. Kita membayangkan, hal itu hanya mungkin dilakukan dengan persiapan matang serta tidak dalam waktu sehari. Termasuk saat menjalin kerja sama dan koordinasi lintas-pemerintah daerah. Namun, karena bencana datang secara mendadak, pengalaman Karangasem justru dilakukan dalam masa-masa tanggap darurat bencana erupsi Gunung Agung.

Koordinasi Supercepat

Pada akhir November 2017, aktivitas vulkanik Gunung Agung mencapai puncaknya. Gunung pun meletus. Sebagian langit di atas wilayah Karangasem tertutup asap dan abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.500-3.000 meter dari puncak gunung.

Sebanyak 200 ribu jiwa dari 500 ribu penduduk Karangasem yang tinggal di lereng dan kaki gunung turun mengungsi ke kabupaten/kota tetangga. Hiruk pikuk penduduk berkonsentrasi kepada upaya-upaya penyelamatan diri. Karangasem dapat dibilang lumpuh kala itu.

Dalam situasi sangat tidak nyaman itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem  bertekad menyelamatkan kegiatan pendidikan bersamaan dengan tindakan-kegiatan darurat kebencanaan. Tindakan ini dilakukan secara intensif dan simultan yang dimotori langsung Bupati I Gusti Ayu Mas Sumantri.

“Ada 415 titik pengungsian di Bali saya kendalikan siang dan malam. Saya berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan meminta bantuan agar kabupaten/kota yang menjadi tujuan pengungsian warga kami dapat memberikan tempat bagi putra-putri kami tetap masuk sekolah,” cerita I Gusti Ayu.

I Gusti Ayu Mas Sumantri, Bupati Karangasem (foto: istimewa)

Dilanjutkan oleh bupati kepada SahabatGuru, Maret lalu, “Secara pribadi maupun dinas, saya juga berkoordinasi dan meminta kepada bupati-bupati sekitar Karangasem untuk memfasilitasi siswa-siswi dan para guru asal Karangasem. Dengan demikian, mereka tetap bisa melakukan kegiatan belajar-mengajar. Saya telepon mereka satu per satu, dan terus menjalin komunikasi.”

Sambutan masyarakat dan institusi kabupaten/kota di sekitar sangat baik. Mereka memperlakukan warga Karangasem seperti anggota keluarga sendiri. Selain menempati pos-pos pengungsi, ada korban bencana yang tinggal di rumah-rumah penduduk.

“Pokoknya Ibu nggak usah khawatir. Kami layani warga ini di sini,” tutur I Gusti Ayu menirukan sambutan salah seorang bupati di sana.

Benar, kegiatan belajar-mengajar siswa-siswi Karangasem tanpa dikenai biaya apa pun karena Pemkab menanggung semua kebutuhan para pengungsi. Situasi seperti ini bukan hanya memudahkan serta melegakan para orang tua, tetapi juga anak-anak yang kala itu tengah menghadapi tes semester.

“Jadi, anak-anak kami dari Karangasem dapat belajar di sekolah di mana ia mengungsi karena pemerintah kabupaten/kota beserta jajaran dinas pendidikan dan dan kebudayaan setempat menyambut dengan senang hati,” jelasnya.

“Tanpa ditarik dana sepeser pun, seperti mereka belajar di Karangasem selama ini. Begitu juga dengan ibu bapak guru asal Karangasem dapat mengajar di mana pun mereka mengungsi. Jadi, istilahnya, proses belajar mengajar di-BKO-kan ke kabupaten/kota tetangga Karangasem,” kata I Gusti Ayu memaparkan.

Kegiatan belajar-mengajar siswa-siswi dan guru-guru di kabupaten tetangga berlangsung sekitar satu bulan. Mereka juga mengikuti tes semester pertama tahun ajaran 2017/2018.

“Dan, efek dari erupsi Gunung Agung ternyata tidak membawa pengaruh besar terhadap hasil tes anak-anak kami. Itu berarti penyelenggaraan kegiatan pendidikan saat bencana di Karangasem dapat dijalankan dengan baik,” tutur bupati.

Menciptakan situasi seperti ini berdasarkan pengalaman banyak daerah pada saat mengalami bencana besar selama ini memang bukan perkara mudah. Padahal ini masih dalam skala satu kabupaten. Karangasem dan kabupaten/kota di Bali mampu menunjukkan solidaritas regional dengan sangat baik.

Praktik terbaik ini telah menginspirasi (menjadi model regrouping) banyak daerah di Indonesia tentang bagaimana pemerintah deerah menyelenggarakan urusan wajibnya itu bila terjadi bencana.

Banyak daerah telah mengadopsi pengalaman Karangasem ini, mengingat kegiatan pendidikan adalah salah satu bidang yang akan terdampak langsung ketika terjadi bencana. Dan, hampir seluruh daerah di Indonesia merupakan wilayah rawan bencana.

“Ini mungkin model regrouping sekolah pada saat terjadi bencana,” kata I Gusti Ayu

Tri Hita Karana dan Nawa Satya Dharma Masdipa

Kabupaten Karangasem di bawah kepemimpinan I Gusti Ayu sejak 2016 tengah menunjukkan kemajuannya. Semua sektor bergeliat, berkembang. Seperti diketahui, Kabupaten yang terletak paling timur Bali itu merupakan daerah dengan indeks pembangunan manusia (IPM) terendah dan termiskin di provinsi itu. Salah satu upaya mendorong perubahan itu adalah dengan cara meningkatkan mutu pendidikan.

Peristiwa erupsi Gunung Agung seperti hendak mengingatkan semua komponen di Karangasem bahwa misi dan kegiatan pendidikan, bila semua pihak bahu-membahu, dapat berlangsung dengan baik. Bisa jadi keberhasilan manajemen pendidikan di saat genting di atas lantaran sang bupati adalah mantan guru sehingga ia tahu betul makna dan arti penting pendidikan bagi anak-anak sekolah.

Para siswa di Kabupaten Karangasem tetap bersekolah meski daerahnya terkena dampak erupsi Gunung Agung, Bali. (foto: Pemkab Karangasem)

Namun, hal yang lebih menentukan itu semua adalah bahwa kabupaten ini telah kukuh dengan visinya, yakni: Mewujudkan Karangasem yang cerdas, bersih, bermartabat dan berlandaskan Tri Hita Karana. “Cerdas itu tidak lain pendidikan,” kata Bupati.

Cerdas mengandung arti terwujudnya masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual, emosional dan spiritual yang seimbang. Bersih bermakna terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN. Bermartabat memiliki pretensi kepada  terwujudnya Karangasem yang Bangkit, Berwibawa dan Memiliki Daya Saing.

Bidang pendidikan termuat di urutan pertama dari enam poin Misi Kabupaten Karangasem, yakni: membentuk sumber daya manusia yang cerdas, sehat, bermartabat dan unggul melalui pencapaian wajib belajar 9 (sembilan) tahun dan pelayanan kesehatan yang terjangkau, murah, ramah dan paripurna.

Peningkatan kualitas pendidikan juga merupakan satu dari Nawa Satya Dharma Masdipa (Sembilan Program Unggulan) Kabupaten Karangasem, yakni: kesetaraan masyarakat dalam memperoleh pendidikan formal dan informal jenjang usia dini, SD dan SMP sederajat secara gratis utamanya bagi masyarakat miskin melalui Kartu Karangasem Cerdas.

“Selama ini, Pamkab juga menfasilitasi masyarakat yang telat masuk sekolah melalui paket A, B, dan C,” kata I Gusti Ayu.

Tak heran bila anggaran bidang pendidikan di Karangasem terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemkab dalam rentang waktu dua tahun kepemimpinan I Gusti Ayu juga telah membenahi kualitas sumber daya guru melalui berbagai program dan kegiatan, seperti beasiswa, pelatihan dan kompetisi, selain mengembangkan prasarana transportasi sehingga kegiatan pendidikan dapat berjalan dengan baik.

Demikian juga dengan perbaikan prasarana dan fasilitas sekolah, semisal lapangan olah raga dan area bermain. “Belum semua dapat kami tangani. Sebanyak 65% kondisi bangunan sekolah belum memadai,” kata Bupati.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini