ISODEL 2018, Siswa Harus Siap Memasuki Revolusi Industri Keempat

0
22
Kemendikbud menyelenggarakan International Symposium On Open, Distance and E-Learning 2018 (ISODEL) di Bali, 3-5 Desember 2018. Melalui simposium, pendidikan di Indonesia harus lebih memahami apa yang dimaksud dengan Pendidikan 4.0. (foto: kemdikbud.go.id)

SahabatGuru – Bukan karena latah atau sekadar ikut-ikutan, tetapi revolusi industri keempat memang sudah merambah ke seluruh penjuru dunia. Era digitalisasi yang telah mengubah tidak hanya wajah sosial tetapi juga budaya manusia.

Di era dengan istilah revolusi 4.0, dunia pekerjaan sudah melampaui dari apa yang dibayangkan mereka dari generasi yang lahir pada 1970-an atau 1980-an. Generasi itu pun ikut melakoni pekerjaan yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Apalagi generasi milenal yang kian akrab dengan revolusi keempat tersebut.

Dunia tidak bisa menghindari revolusi 4.0. Ini yang menjadikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperhatikan bagaimana pendidikan di era tersebut. Ya, pendidikan 4.0 yang kian berkembang pesat dan jangan sampai pendidikan Indonesia tertinggal. Bila sampai tertinggal sumber daya manusia (SDM) Indonesia dipastikan kalah bersaing.

Penyelenggaraan simposium seperti International Symposium On Open, Distance and E-Learning 2018 (ISODEL) setidaknya mengupas bagaimana pendidikan 4.0 memiliki keseimbangan antara technology skill (kemampuan teknologi) dan human character (karakter manusia). Simposium yang mengangkat tema Making Education 4.0 for Indonesia diselenggarakan di Bali pada 3-5 Desember 2018.

“Indonesia telah meluncurkan rencana pembangunan ekonomi nasional Making Indonesia 4.0. Untuk mengikuti perkembangan zaman tersebut, Kemendikbud membuat inisiatif dengan menyelenggarakan simposium internasional dengan tema Pendidikan 4.0. untuk Indonesia,” kata Mendikbud sebagaimana dikutip dari kemdikbud.go.id.

Kehadiran revolusi 4.0 memang ditandai dengan makin pesatnya teknologi informasi. Mendikbud mengatakan keberadaan Teknologi Infomasi Komunikasi (TIK) merupakan peluang dan tantangan.

“TIK  membantu pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif, atau lebih mudah dan sederhana. Peningkatan digitalisasi dan otomasi ini juga berdampak signifikan terhadap pendidikan dalam beberapa tahun terakhir,” tutur Mendikbud.

ISODEL 2018 diikuti 877 peserta, terdiri dari guru dan tenaga pendidikan, Unit Pelaksana Teknis Kemendikbud, sivitas perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, serta pemerhati pendidikan lainnya tersebut. Simposium tersebut dilaksanakan untuk memberikan wawasan baru, gagasan, pengalaman, dan praktik terbaik tentang cara mengintergrasikan TIK dalam pendidikan.

“Tujuan dari acara ini untuk memberikan kesempatan bagi pembuat kebijakan, ilmuwan, akademisi, guru, peneliti dan praktisi dari seluruh dunia untuk bertukar pengetahuan, ide, dan pengalaman mereka untuk mendukung transformasi pendidikan di Indonesia menuju Pendidikan 4.0,” kata Ananto Kusuma Seta, Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud.

Menurut Ananto ada empat topik yang dibahas pada ISODEL 2018, yaitu bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memajukan pendidikan Indonesia, bagaimana mentransformasikan pendidikan secara digital, membangun anak bangsa dan pendidik yang melek digital tapi tetap berkarakter, serta pendidikan vokasi.

“Pendidikan 4.0 bukan berarti gawai dan jangan diartikan komputerisasi. Pendidikan 4.0 harus seimbang antara kemampuan teknologi dan karakter manusia, itu yang penting. Bila saat ini kita memasuki era 4.0, nanti akan berubah dari 4.0 menjadi 5.0, 6.0. Pertanyaannya, bagaimana menyiapkan siswanya memasuki era 5.0, 6.0. Mereka bisa mudah menggunakan gawai tapi bagaimana moral penggunaannya,” tuturnya.

ISODEL 2018 merupakan hasil kerjasama antara Kemendikbud, Universitas Terbuka, UNESCO, ICDE, SEAMEO Centre, dan IDLN. ISODEL tahun ini menampilkan berbagai pembicara dan pakar bidang TIK dan pendidikan baik dalam dan luar negeri.

Ada pun sebagai pembicara kunci, antara lain, Ilham Akbar Habibie (Ketua Dewan TIK Nasional), Tian Belawati (Guru Besar Universitas Terbuka), Don Carlson (Direktur Education, Microsoft Asia Pacific), Deden Rukmana (Profesor Urban and Regional Planning, Alabama A&M University, Amerika Serikat), Lim Cher Ping (Chair Professor of Learning Technologies and Innovation, Universitas of Bristol, Hongkong), dan Mame Omar Diop (Koordinator UNESCO International Institute for Capacity Building in Africa).

Leave a Reply