Guru VS Kecerdaan Buatan (AI)

apa yang harus kita lakukan sebagai guru dengan hadirnya kecerdasan buatan, bersaing, berkolaborasi atau kitalah yang mngendalikannya untuk pendidikan yang lebih baik

May 9, 2023 - 09:20
Apr 4, 2023 - 10:40
 0
Guru VS Kecerdaan Buatan (AI)
Foto ilustrasi oleh Matheus Bertelli di Pexels

Dalam dunia pendidikan, kemampuan artificial intelligence (AI, kecerdasan buatan) tidak mengenal batas. Sekolah dapat menggunakan AI untuk mengotomatisasi dan menjalankan tugas-tugas rutin sehingga tidak lagi tergantung sepenuhnya pada manusia. Ini semua akan mengembalikan guru menjalani peran yang sangat penting, yang tidak bisa tergantikan robot, yakni mengajar. Teknologi akan menciptakan guru-guru super, bukan menggantikan mereka.

Pada hari-hari ini dunia dipenuhi berita tentang banyaknya pekerjaan manusia yang sedang diambil alih oleh robot. Ada robot yang bisa menyelamatkan terumbu karang di lautan, ada robot yang mengambil alih pekerjaan manusia di hutan Amazon dan bahkan Iran mulai menghasilkan robot-robot yang mampu membedah tubuh manusia.

Tidak ada jalan keluar dari kenyataan bahwa perkembangan ini akan mengarah pada pengurangan peran yang dimainkan oleh manusia. Di sektor-sektor mulai dari transportasi hingga perawatan kesehatan dan manufaktur, robot semakin menggantikan manusia. Pada 2019 diperkirakan 1,5 juta orang di Inggris saja terancam kehilangan pekerjaan karena otomatisasi.

Tetapi sama seperti penemuan telepon dan internet telah membawa manusia lebih dekat satu sama lain daripada masa-masa sebelumnya, teknologi robot dan otomatisasi (termasuk AI) sendiri tidak secara intrinsik mengakibatkan berkurangnya peran manusia. Pada kenyataannya sering kali bisa berarti sebaliknya.

Bahkan Revolusi Industri, di mana mesin benar-benar menggantikan jutaan sampai miliaran tenaga manusia dan membuat kaum pekerja cemas, justru menghasilkan peran lain yang lebih besar kepada manusia. Misalnya, karena mesin pintal bisa membuat kain lebih cepat dan lebih mudah akibatnya permintaan kain melonjak, hal ini justru menghasilkan lebih banyak manusia yang bekerja. Selain itu, mereka yang sebelumnya bekerja berjam-jam untuk memproduksi kain dengan tangan sekarang dapat menemukan pekerjaan yang lebih menguntungkan dan nyaman dalam penyelesaian kain atau menjahit. Dunia kreatif (mode dan fesyen) justru lebih besar perputaran uangnya dibanding hanya produksi kain. Ketika teknologi mengotomatisasi lebih banyak dan lebih baik di sektor produksi, hal itu secara paradoks membuka lebih banyak pintu bagi kita manusia. Membuka pintu-pintu kreatif manusia. Dunia kreatif menjadi lebih berkembang.

Begitu juga dengan dunia guru mengajar. Tidak ada yang mampu menggantikan peran guru karena robot dan mekanisasi tidak bisa melakukan aspek manusia-sentris yang paling penting dalam hidup kita. Seperti pengasuhan anak- anak, pewarisan nilai-nilai, sikap patriotik, teladan dalam hidup bermasyarakat, bekerja dan etika bermain dalam kelompok dan masih banyak aktivitas kemanusiaan lainnya. Itu semua hanya bisa diajarkan seorang guru.

Sementara sekolah dapat menggunakan AI untuk mengotomatisasi dan meningkatkan beberapa tugas-tugas rutin yang kurang tergantung pada manusia. Dengan demikian membebaskan waktu guru untuk fokus pada pengajaran dan pengasuhan siswa mereka.

Faktor terpenting dalam apakah teknologi menggantikan manusia atau tidak adalah kehendak kita sendiri. Berkenaan dengan mengajar, kehendak semua pemangku kepentingan yang terlibat sangat jelas. Politisi, pendidik, kepala sekolah, orang tua dan siswa sama-sama menghargai aspek pengajaran manusia.

Kita semua sadar guru yang sangat penting bagi perkembangan kita. Masing-masing dari guru itu adalah individu manusia dengan kepribadian dan pendekatan yang unik, tidak ada yang bisa digantikan oleh robot.

Sementara penting untuk pendidikan, kehidupan tidak ada yang pernah diubah oleh papan tulis atau proyektor overhead, dan tidak ada guru robot yang dapat menggantikan peran ketika ada anak yang mengalami hari yang buruk di sekolah. Robot tidak bisa memberikan empati. Jadi peran apa yang tersisa untuk teknologi dalam pendidikan? Dekade sebelumnya telah melihat banyak perangkat teknologi pendidikan memainkan peran yang semakin meningkat di ruang kelas di seluruh dunia, namun hanya sekarang para pendidik mulai memanfaatkan kekuatan sebenarnya dari teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), misalnya. Sekolah dapat menggunakan AI untuk mengotomatisasi dan meningkatkan beberapa tugas yang kurang tergantung pada manusia dalam mengajar, seperti absensi, sistem pelaporan dan perencanaan. Hal ini justru membebaskan waktu guru untuk fokus pada pengajaran dan pengasuhan siswa mereka.

AI sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah independen terkemuka di Inggris hingga kelompok pengungsi Suriah di Timur Tengah. Di situ AI digunakan untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak dari semua lapisan masyarakat, memperkuat peran guru dalam proses tersebut.

AI memiliki kekuatan untuk meningkatkan kehidupan kita dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan teknologi selama berabad-abad, sementara pada saat yang sama memperkaya tingkat interaksi manusia di sekolah. Penggunaan AI akan memperbanyak interaksi antar manusia, antar guru, antara guru-siswa, antara guru-orang tua murid dan antara sekolah dengan lingkungan humannya. Ini adalah suatu win-win solution untuk semua yang terlibat.

Priya Lakhani OBE

Penulis adalah Pendiri CEO CENTURY Tech edtechnology.co.uk

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

Sahabat Guru Inspirasi Indonesia Maju