Gaya Silaturahmi dan Diplomasi Jaz ala Harry Toledo

0
24
Pemain bas yang menggeluti musik jaz, Harry Toledo, menganggap musik memiliki bahasa universal sehingga sangat efektif menjadi bahasa diplomasi. (foto: istimewa)

SahabatGuru – Untuk apa musik dilahirkan di dunia ini? Jawaban beragam, tergantung pengalaman dan penghayatan seseorang tentang musik. Tapi bagi bassist tenar Harry Toledo (46), musik sangat baik sebagai media silaturahmi. Silaturahmi melalui musik akan lebih smooth, karena musik dapat menembus ke semua lini dan sekat sosial, politik dan kebudayaan.

“Musik itu bahasa universal yang tidak dibatasi lingkup sosial atau kepentingan politik mana pun. Musik juga dapat dibilang sebagai bahasa diplomasi yang efektif,” kata Harry kepada SahabatGuru di Jakarta di sela-sela kesibukannya menyiapkan sebuah event jazz internasional, beberapa waktu lalu.

“Anggapan bahwa musik itu hanya untuk hiburan adalah cara pandang konvensional, itu mainstream,” tutur musikus penyuka warna hitam ini menambahkan.

Di mana letak ‘kecerdasan’ musik sebagai media silaturahmi atau diplomasi itu? “Dengan bermusik, kita akan terlatih untuk nge-thinking, nge-feel, dan mengatur tensi (dinamika),” kata pemain bas bernama asli Azharianto Akha ini.

Karena itu, Harry menyayangkan anggapan sebagian masyarakat, juga dunia pendidikan kita, yang masih memandang musik dengan sebelah mata. Ia sendiri adalah ‘korban’ dari orientasi garing tentang musik. Cita-citanya menjadi pemain bas bahkan tidak mendapat dukungan kedua orangtua.

Meski maklum dengan sikap orangtua, tetapi dia nekad belajar secara otodidak. Alat musik berdawai empat itu menjadi pilihannya. Harry pun berlatih serius sejak kelas 6 SD. Mimpinya ingin sepiawai tokoh-tokoh yang ia ketahui kala itu, seperti Yance Manusama, Mates dan Jeffrey Tahalele, sangat besar.

“Maklum, hidup di kota kecil musik belum dapat menjanjikan masa depan,” kata pria asal  Indragiri Hulu, Riau, itu. “Saya hormati keinginan orangtua. Bagaimanapun petuah orangtua itu demi kebaikan anak. Tetapi, saya juga tidak mau menjalani masa depan hidup yang saya sendiri tidak enjoy. Jalan komprominya, saya hijrah ke Yogyakarta,” kata alumni Fakultas Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu mengenang.

Intuisi Harry terbukti benar. Di kota pelajar itu ia menemukan wahana belajar musik seperti yang ia impikan. Kepiawaiannya bermain bas kian terasah. Ia bertemu dengan sejumlah pemain bas terkenal, dan lantas berguru pada mereka.

Saat namanya kian diperhitungkan, Harry berjumpa dengan Gita Wirjawan yang mengajaknya bergabung di grup musik Cherokee. Mereka pun melahirkan album Inner Beauty.

Bassis Harry Toledo saat beraksi. (foto: istimewa)

Sejak itu, pergaulan Harry kian meluas hingga ia tergabung di Grup Bali Lounge 1 dan 2, serta berjumpa dengan sejumlah musisi dari Malaysia, Amerika Serikat, Perancis, dan Singapura. Harry juga telah melahirkan beberapa album solo seperti Soul Emotion Bass 1 (2006), Soul Emotion Bass 2 (2007), dan Soul Emotion Bass 3 (2008) yang juga melibatkan lima penyanyi,  Tompi, Desy Elfa, Marsha Idol, Hans, dan Dwight.

Tidak silau dengan kemegahan di puncak karirnya saat ini, Harry kian merasakan ada semacam transendensi pada musik.  Benarkah? “Musik ini kan melahirkan ekspresi tentang keindahan.  Dan, Allah itu indah dan menyukai keindahan. Agama itu prasyarat untuk menjadikan orang bijak, dan musik memberikan lapisan halus terhadap performa kearifan tadi,” kata Harry berfalsafah.

“Makanya, orang yang suka musik cenderung tidak menyukai perilaku kekerasan. Musik itu juga pada akhirnya bicara perilaku. Musik itu silaturahmi,” kata ayah dari empat putra-putri itu menambahkan.

Anggapan Harry tidak berlebihan. Kontribusi musik, khususnya jaz, terhadap kegiatan diplomasi Indonesia di kancah pergaulan internasional pun kian terasa. Tentu ini bukan semata peranan Harry. Semua pemusik dan penyanyi jaz di negeri ini sama-sama berkontribusi. Di regional ASEAN, jaz Indonesia dapat dibilang nomor satu. Di Asia, Indonesia bersaing dengan Jepang.

“Dan, bisa kok jaz merangkum kesenian lokal. Java Jazz itu festival jaz terbesar di dunia loh. Amerika yang tempat asal jaz saja kalah,” kata pria yang ingin mengabdikan hidupnya untuk musik jaz ini.

Dalam blantika musik Indonesia hari ini, Harry Toledo bukan nama asing. Ia bahkan identik dengan bas, instrumen musik yang memegang peranan penting dalam genre jaz. Itulah kenapa ia dijuluki ‘setan bass’.

Reputasinya dapat disejajarkan dengan musikus jaz kawakan semisal Ireng Maulana, Indra Lesmana, Bob James, Phil Perry, Kenny Rankin, Harvey Mason, Jack Lee, Asia Beat, Incognito dan Akira Jimbo. Sejak tahun 2017, putra Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi—hasil pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu—ini terpilih sebagai President Indonesian Bass Family (IBF).

Kini, Harry tengah mempersiapkan Kendal International Jazz Festival yang akan digelar pada 1 Desember 2018. Event yang digelar untuk umum dan gratis itu akan mendatangkan pemusik-pemusik dari mancanegara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini