Dialog Murid dan Guru Soal Siapa Yang Lebih ‘Nakal’?

0
98
(foto: G. Susatyo)

Suyoto *)

“Bangunlah jiwanya, didiklah murid-muridmu dengan spirit dan keteladanan hidupmu. Karena api jiwamu akan menyalakan jiwa muridmu.”

SahabatGuru – Sebelum lulus kuliah tahun 1989, dosen saya, Bapak Imam Suprayogo meminta saya menjadi asistennya. Saya bersama Sarju Tobroni, kini guru besar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Sutiaji kini Walikota Malang, diminta beliau membantu mengelola KKN IAIN di Malang.

Saat itu tahun 1988. Berbeda dengan dua rekan tersebut, saya adalah murid pak Imam yang tidak pernah diajar secara langsung oleh beliau. Meski demikian, hubungan belajar saya dengan beliau sangat intens sejak perkenalan itu. Saya mendapatkan kepercayaan menjadi dosen UMM juga wasilah beliau.

Sejak mengenal lebih dekat dengan beliau, saya mendapatkan tantangan yang bertubi tubi. Begitu masuk kampus, saya harus menulis buku, mengelola tabloid dan menulis artikelnya. Saya juga ikut terlibat proses pendidikan intensif bahasa Arab dan mengelola kajian keIslaman dosen serta mahasiswa.

Intensitas hubungan kami berlanjut setelah beliau tidak lagi menjabat sebagai Pembantu Rektor UMM. Beliau mendapat amanah menjabat sebagai Pembantu Ketua STAIN Malang, dan kemudian Rektor UIN Malang. Saya masih sempat mengajar bahasa Arab di kampus pak Imam dan menjadi asisten beliau mengajar Sosiologi Pendidikan dan Kepemimpinan.

Spirit Hidup

Secara fisik, intensitas pergaulan saya dengan pak Imam berkurang setelah saya pindah ke Gresik. Pada tahun 2000, saya menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Setelah menjadi anggota DPRD Jatim, saya kemudian mendapat amanah menjadi Bupati Bojonegoro pada 2008 sampai 2018.

Meski secara fisik jauh, namun hati dan pikiran tetap dekat. Spirit hidup saya terbangun dalam pergumulan panjang dengan pak Imam dan orang-orang yang hadir dalam hidup saya. Terus terang, saya tidak akan mengenal secara intensif dengan Bapak Malik Fadjar, Bapak Muhadjir Effendy, tokoh-tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan tokoh nasional bila pak Imam tidak membawa saya ke UMM.

Cara beliau mendidik yuniornya kadang terasa keras. “Jika hanya terfokus pada materi, harga hidup tidak lebih baik dari limbahmu”. Begitu salah satu doktrin beliau. Saya harus mengisi peran-peran yang penuh tantangan dan berhubungan dengan para senior dan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang ilmu.

Hubungan itu mengharuskan saya membaca berbagai buku dan berkomunikasi. Pak Imam menyebut proses itu semua dengan metode peran. Kalau saya berhasil, pak Imam tidak pernah memuji di depan saya, tapi kepada pihak lain.

Resikonya saya harus jadi kelinci percobaan dan bisa jadi sasaran cemburu. Sebaliknya kalau ada yang kurang dari peran dan karya saya, pak Imam langsung menegur tidak peduli di mana pun. Namun saya menikmati seluruh proses pergaulan dengan beliau karena sejak awal saya menempatkan diri sebagai murid.

Hidup Pak Imam penuh obsesi. Iman tidak artinya apa-apa kalau belum dihayati dan dijalani penuh secara pribadi. Di mana pun berada, keimanan itu harus ada bekasnya. Pak Imam membuktikan ajarannya. Tanda-tanda hidupnya dapat dilacak pada perkembangan UMM, UIN Malang dan perkembangan Perguruan Tinggi Islam Indonesia. Pak Imam juga sosok yang tidak pernah berubah. Tanpa jabatan pun, beliau terus mengambil peran pencerahan.

Tapi kini apakah sesungguhnya yang paling mendasar dalam keprihatinan pak Imam tentang pendidikan? Percakapan saya dengan beliau lewat Whats App (WA) patut menjadi bahan refleksi.

Suatu pagi saya mengirim dua tulisan pendek saya ke Pak Imam. Keduanya soal pendidikan, Menjadi Bagian Sukses Generasi Milenial 2000 dan Keterampilan Berniat Baik.

Inilah komentar beliau, “Subhanallah, bagus sekali tulisan ini. Pada sisi yang lain, kini saya bertanya soal kejujuran dan kenakalan. Bukankah orang yang paling jujur seharusnya lulusan S3, tetapi nyatanya justru lulusan PAUD atau TK. Soal kenakalan, saya minta dibandingkan, nakal mana antara anak TK dan SD. Dijawab anak SD lebih nakal. Gimana anak SD dibanding anak SMP, dijawab anak SMP lebih nakal. Jika dibanding anak SMA, katanya anak SMA lebih nakal, dst. Maka ternyata lembaga pendidikan tidak saja gagal menyiapkan kemampuan kerja, tetapi kenakalannya justru semakin meningkat…itulah problem pendidikan kita, komplit!”

Saya tercenung dengan komentar beliau. Saya berusaha menjawab dengan refleksi pendek, “Bagaimana sebenarnya proses belajar saya alami bersama pak Imam. Saya lulusan S3, saya merasa belum baik, tapi saya bersemangat untuk berbuat baik.”

Episode Sejarah

Pak Imam dulu mengajarkan kepada saya kuliah kehidupan. Sejatinya belajar itu ya belajar hidup. Pak Imam meminta saya membuat tabloid Nurani dan saya banyak belajar dengan cara menulis.

Dari situ saya mulai belajar tentang manusia, interaksinya dengan lingkungan alam dan sosial dalam bentuk apa pun. Lalu saya membaca sejarah. Saya menemukan aktivitas ekonomi, politik, budaya dan seni. Setiap zaman dan kawasan mencoba menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri. Saya mulai bisa melihat bagaimana cara berbagai agama mendidik manusia. Bagi saya menjadi rektor, anggota DPRD dan bupati hanyalah cara mengisi episode sejarah Keindonesiaan dengan Keislaman saya.

Saya dapat banyak pelajaran dari perjalanan ini, saya menikmatinya dan bahagia. Kini saya kembali ke kampus. Saya terkejut praktek pendidikan masih belum sepenuhnya berakar pada semangat mengisi sejarah, membangun kehidupan. Banyak hal diajarkan di kampus, namun kampus masih seperti jualan onderdil mobil, mahasiswa harus merangkainya sendiri.

Saya tidak bisa menolak atau mengiyakan pernyataan Pak Imam, kenapa semakin tinggi level pendidikan, semakin nakal seseorang? Tapi biarkanlah menjadi pertanyaan dan bahan refleksi bagi dakian saya sebagai pendidik.

Setiap pendidik harus berani mengambil tanggung jawab, dalam level apa pun. Hubungan guru dan murid itu bukan sekadar pola transaksional sekedar melepas kewajiban. Bahkan tidak terbatas di kelas dan saat lulus, namun berlanjut dalam perjalanan kehidupan lewat hubungan spitual, intelektual dan silaturrahim.

Transformasi spirit kejuangan itu tidak ada yang instan. Bahkan pak Imam dengan rendah hati merasa mendapatkan spirit dari orang lain. Pak Imam setelah membaca beberapa alinea di awal tulisan ini dalam perjalanan pulang dari Juanda ke Malang setelah siang dari Lhokseumawe Aceh, menyatakan;.

“Subhanallah, sebelum membaca tulisan ini, sungguh saya sudah lupa semuanya. Saya menjadi ingat setelah membacanya. Waktu itu, saya bersemangat ngajak Mas Yoto berlatih, berjuang dari hasil berbincang-bincang dengan Pak Amir Hamzah Wiryosukarto, tokoh politik yg saya anggap tulus untuk umat. Beliau seorang yang kritis dan kukuh membela Islam. Suatu saat beliau menyampaikan bahwa ita punya calon pemimpin hebat, agar bibit kepemimpinanya tumbuh harus kita carikan peluang. Apa yang saya lakukan ketika itu adalah memberikan peluang dan sekaligus tantangan agar calon pemimpin hebat yang disebut Pak Amir Hamzah Wiryosukarto benar-benar tumbuh dan alhamdulillah, benar-benar tumbuh. Sayang Pak Amir tidak menikmati hasil apa yang dipikirkan, dan tentu sayalah yang beruntung dapat melihat hasil apa yang saya terasa ikut menanamnya. Tentu sejarah hidup ini belum final, saya masih ingin lihat prestasi yang lebih hebat lagi ke depan dan saya yakin akan terjadi…

Di ujung kalimat ini Pak Imam tidak sedang memuji saya, tapi sedang menguatkan pesan agar terus berjuang. Sebuah ketulusan batin untuk menjaga api semangat perjuangan hidup. Sejarah hanya dapat dibentuk oleh mereka yang menjaga roh kehidupan dan membaginya kepada pihak lain. Inikah roh pendidikan itu?

*) Dr. Suyoto, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Gresik, pernah bekerja sebagai Bupati Bojonegoro (2008-2018)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini