Anak-Anak Korban Gempa Palu Tetap Harus Sekolah

0
62
Kemendikbud menyediakan tenda darurat yang bisa dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar di Palu, Sigi, Donggala yang terkena bencana tsunami. (foto: tempo.co)

SahabatGuru – Gedung sekolah rusak dan ambruk akibat gempa dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala,Sukawesi Tengah, tidak menyurutkan semangat belajar mengajar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, apa pun kondisinya.

“Anak-anak yang menjadi korban tetap harus sekolah. Mereka akan dibantu peralatan sekolah. Guru-guru dimotivasi agar kembali mengajar,” kata Mendikbud seperti dikutip Inews.id, beberapa waktu lalu.

Tak sekadar memberi motivasi dan mendorong anak-anak untuk kembai bersekolah dan guru tetap mengajar, Kemendikbud membangun sekolah darurat. Kementerian juga segera mendata baik siswa, guru, sarana prasarana maupun fasilitas pendidikan yang terdampak gempa bermagnitudo 7,4 skala richter tersebut.

“Meski gempa, anak-anak harus sekolah. Jangan sampai anak tertinggal sekolah dan mental mereka menjadi down. Siswa harus diberikan kegiatan rekreatif untuk pulihkan kondisi psikologis. Yang penting mereka sekolah dulu,” tutur Muhadjir

Mendikbud berharap masyarakat bersama sekolah bergotong-royong membangun kelas darurat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari lingkungan sekitar.

“Sudah kita siapkan anggaran dari Kemendikbud dan modelnya sudah ada seperti yang kita lakukan di Lombok. Dengan anggaran Rp30 juta, kita sudah bisa menyediakan enam kelas. Bahannya tidak beli, hanya atapnya terpal dari Jakarta. Itu bisa bertahan sampai satu tahun, termasuk bantuan pelaksanaannya,” jelasnya.

Sedangkan untuk kebijakan jangka panjangnya, Kemendikbud akan mengadakan relokasi sekolah-sekolah yang sudah tidak dapat digunakan. Selain itu kebijakan zonasi yang saat ini sudah dilakukan akan diterapkan di daerah korban bencana.

Terkait pelajar yang mengungsi ke luar Sulteng, Mendikbud mengimbau pemerintah daerah lainnya mengedepankan fleksibilitas dalam menerima siswa baru terdampak gempa di Palu dan Donggala. Termasuk bila mereka pindah secara permanen. Muhadjir berharap sekolah di luar Palu dan Donggala bisa melayani siswa dengan tidak mengedepankan proses birokrasi

“Semua sekolah, di mana saja sekolah itu berada saya minta untuk bersedia menerima anak-anak yang dalam status pengungsi. Urusan administrasi tolong dibuat lebih fleksibel, kedepankan pemenuhan hak anak-anak untuk bisa terus belajar. Tidak ada yang boleh tertunda belajarnya karena bencana,” imbau Muhadjir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini