Agar Anak Berpikir Kritis dalam Pembelajaran IPA

1
31

SahabatGuru – Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam sekitar secara sistematis melalui suatu proses ilmiah Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD), dengan demikian, tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep, tetapi juga memberi pengalaman langsung pada siswa berinteraksi dengan lingkungan alam melalui kegiatan pengamatan dan percobaan untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari.

Prinsip pembelajaran IPA di atas sesuai kurikulum KTSP (2006: 483). Bahwa proses pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman langsung dengan mengembangkan berbagai kompetensi agar siswa dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Pembelajaran IPA, dengan demikian, harus berpusat pada siswa. Mereka secara aktif menemukan dan mengonstruksi berbagai macam pengetahuan, keterampilan yang dipelajari. Menurut Sulistyorini (2007: 39), pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Siswa, karena itu, tidak hanya menguasai konsep atau subtansi materi IPA, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan berpikir.

Keterampilan berpikir kritis diperlukan dalam menggali dan mengenal IPA. Siswa pun dapat menguasai cara-cara kerja yang ditempuh dalam mempelajari alam dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari.

Persoalannya, banyak guru mengalami kesulitan dalam mengajarkan IPA sebagaimana yang diharapkan kurikulum. Mereka mengajar dengan cara memberikan informasi secara langsung tentang berbagai hal sesuai yang tertulis di buku pelajaran.

Kadang kala, guru mengajak siswa melakukan eksperimen. Hanya sebelum pelaksanaan, guru sudah menjelaskan secara lengkap tentang materi yang akan dieksperimenkan. Siswa pun tidak menemukan sendiri konsep yang dipelajari melalui kegiatan eksperimen. Mereka hanya membuktikan atau memantapkan konsep. Dalam mengerjakan soal, siswa pun tidak dituntut menggunakan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Untuk itu, diperlukan suatu penerapan model pembelajaran yang tidak hanya digunakan mencapai tujuan penguasaan konsep, tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana mengembangkan keterampilan berpikir siswa. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran induktif.

Pendekatan Induktif

Menurut Eggen dan Kauchak (1996) pendekatan induktif menempatkan siswa sebagai pusat dari suatu proses pembelajaran. Siswa secara aktif menyusun pemahaman mereka sendiri, sedangkan tugas guru membimbing siswa menuju pemahaman yang benar tentang suatu topik yang dipelajari. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya menguasai substansi materi yang dipelajari, tetapi juga melatih mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Model pembelajaran induktif berdasarkan prinsip konstruktivisme, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri tentang berbagai hal yang dipelajari. Pembelajaran tersebut didesain sedemikian rupa untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain, membantu siswa memahami suatu topik yang spesifik, melibatkan siswa menyusun pemahamannya sendiri, dan mendorong siswa mengembangkan keterampilan berpikir.

Model pembelajaran induktif membutuhkan lingkungan kelas yang membuat siswa merasa bebas serta bertanggung jawab atas kesimpulannya sendiri tanpa merasa takut dikritik atau dipermalukan. Suasana kelas yang demokratis sangat mendukung keterlaksanaan model ini, sebut saja sebagai ‘struktur sosial dari model induktif’.

Struktur sosial tersebut menandakan peran tertentu guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah mengaktifkan siswa. Guru mendorong siswa melakukan observasi terhadap contoh-contoh yang diberikan dan fokus observasi melalui pertanyaan pembimbing. Terdapat lima fase dalam model pembelajaran induktif yaitu (1) fase pengenalan pelajaran, (2) fase terbuka, (3) fase konvergen, (4) fase penutup, dan (5) fase aplikasi.

Berpikir kritis

Berpikir kritis (Johnson, 2010: 183), merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, menganalisis asumsi dan melakukan penelitian ilmiah. Berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi dan juga kemampuan untuk mengevaluasi secara sistematis bobot pendapat pribadi atau pendapat orang lain.

Berpikir kritis dapat terjadi ketika seorang membuat keputusan atau memecahkan suatu masalah. Dalam situasi tersebut, mereka akan mempertimbangkan apakah mempercayai atau tidak, bertindak atau tidak, atau mempertimbangkan untuk bertindak dengan alasan dan kajian tertentu.

 

Pembelajaran Induktif dan Berpikir Kritis

Pada fase pengenalan pelajaran, dapat dikembangkan keterampilan mengemukakan pertanyaan dan merumuskannya dengan jelas dan teliti melalui penyajian media oleh guru dan siswa diberi kesempatan untuk mencermati dan mengajukan berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan media yang disajikan.

Fase terbuka dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pertanyaan dan merumuskannya dengan jelas dan teliti, mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevan, berpikir terbuka dengan menggunakan berbagai alternatif, mampu membedakan antara fakta, teori, opini, dan keyakinan.

Kemampuan tersebut dikembangkan melalui kegiatan siswa dalam mencermati contoh dan non-contoh yang diberikan guru, mengidentifikasi ciri, membandingkan ciri contoh dan non-contoh, serta mendiskusikan dengan teman.

Sedangkan pada fase konvergen, siswa mencermati informasi yang sudah diperoleh dari contoh dan non-contoh, menganalisis, membandingkan, membuang informasi yang tidak relevan dan pada akhirnya menemukan ciri khusus dari contoh. Melalui kegiatan ini dapat mengembangkan kemampuan mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevan, membedakan antara fakta, teori, opini, dan keyakinan, serta mengkomunikasikan dengan efektif kepada orang lain.

Fase penutup dan fase aplikasi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa merumuskan simpulan berdasarkan ciri spesifik hasil pengamatan terhadap contoh dan non-contoh yang diberikan guru sehingga mengembangkan kemampuan menarik kesimpulan dengan alasan yang kuat dan bukti serta mengujinya dengan menggunakan kriteria tertentu.

Pada fase aplikasi, siswa dibimbing untuk dapat mengaplikasikan berbagai konsep yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bisa digunakan untuk mengembangkan kemampuan memunculkan ide-ide baru relevan, berpikir terbuka dengan menggunakan berbagai alternatif sembari mengenali, menilai, dan mencari hubungan antara semua asumsi, implikasi, dan akibat-akibat praktis.

Kasdan, S.Pd.SD

Kepala SDN Wonosari I Senori Tuban

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan Tulis Komentar Anda
Masukan Nama Anda Disini