Beranda Berita Literasi Harus Didukung Distribusi Buku

Literasi Harus Didukung Distribusi Buku

24
0
Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando (Foto: antaranews.com)

SahabatGuru – Literasi masyarakat Indonesia tidak hanya rendah tetapi juga kekurangan buku. Bahkan distribusi buku ke masyarakat pun tidak merata. Ini yang menjadikan problem literasi harus dipandang secara komprehensif.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan literasi harus dipandang secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir. Termasuk harus didukung kondisi distribusi buku di masyarakat. Menurut Syarif Bando budaya baca rendah masyarakat Indonesia yang berdampak pada rendahnya indeks literasi.

Kondisi itu diperparah dengan kekurangan pada distribusi buku yang tidak merata di masyarakat. Akibatnya pertumbuhan literasi tidak terlalu signifikan.

Ibu Gubernur Jatim ternyata sudah sangat paham sehingga rencana itu akan dipusatkan di Universitas Islam Malang

“Saya kira yang menjadi masalah di Indonesia, kalau hilirnya sudah fakta. Budaya baca rendah karena kurang paham bacaan, otomatis indeks literasi juga rendah. Kemampuan mencetak barang dan jasa pun menjadi rendah,” kata Syarif Bando seperti dikutip antaranews.

Syarif Bando menilai penyebaran buku yang tidak merata membuat kualitas manusia Indonesia mengalami kesenjangan. Apalagi, banyak daerah yang belum mendokumentasikan sejarah dan sumber daya daerahnya dalam bentuk buku.

Baca Juga :   Eks Mendiknas: Jangan Hanya Andalkan ‘Mbah Gugel’

Ini yang menjadikan dia mendorong pemerintah daerah mendokumentasikan kondisi, sejarah, dan potensi daerahnya dalam buku. Syarif Bando memberi contoh di Jawa Timur. Menurut dia seharusnya ada buku tentang sejarah panjang kejayaan Jawa Timur, potensi sumber daya Jawa Timur, pariwisatanya.

“Ibu Gubernur Jatim ternyata sudah sangat paham sehingga rencana itu akan dipusatkan di Universitas Islam Malang. Gubernur juga menunjuk rektor sebagai pemimpin untuk kajian tentang Jawa Timur,” ujar dia lagi.

Literasi Miliki Nilai Kemanusiaan

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji menuturkan literasi harus memiliki nilai kemanusiaan, ke-Bhinnekaan, dan spiritual. Ia menilai, indeks literasi harus dibarengi dengan nilai kemanusiaan agar memiliki nilai manfaat bagi hidup dan kehidupan.

Baca Juga :   Juli, Cianjur Adakan Pelatihan Program Unggulan APKASI-YPAN

Oleh karena itu, buku yang disajikan di perpustakaan harus sesuai kebutuhan pembaca dan harus mengandung nilai ke-Indonesia-an dan ke-Bhinneka-an yang tidak mengandung bahaya laten. Sutiaji menjelaskan hal ini menjadi kebijakan pemerintahannya agar buku yang dibaca oleh pemustaka sesuai dengan kebutuhan.

Persoalan rendahnya minat baca tidak hanya dialami Indonesia karena pegiat literasi Djoko Saryono menjelaskan, rekannya di Malaysia juga menyatakan keluhan yang sama.

Kondisi itu disebabkan beberapa hal, yakni harapan yang terlalu tinggi bahwa segala masalah dapat diselesaikan oleh literasi, perhatian yang terlalu luas sehingga sulit mengukurnya, dan medium untuk mengukur minat baca yang terbatas pada aksara dan tidak disesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Baca Juga :   Ini Petunjuk Teknis Bantuan Kuota Data Internet 2020

“Membaca itu seharusnya tidak hanya membaca bacaan. Sekarang itu membaca juga bisa di tablet, bisa di tayangan, dan membaca juga harusnya tidak hanya aksara,” ujarnya.

“Ada juga desain thinking. Kalau desain thinking itu seperti gambar, infografis, dan seterusnya. Nah kalau instrumen kita minat baca rendah itu hanya aksara saja, maka kita berada dalam suatu dilema bahkan disorientasi. Minat baca itu apa, apa mediumnya, itu juga yang harus dipertimbangkan sekarang,” kata Djoko.*