Beranda Majalah Teknologi di Kelas, Apakah Baik Untuk Anak-Anak?

Teknologi di Kelas, Apakah Baik Untuk Anak-Anak?

42
0
Siswa di Buton belajar dengan komputer [sahlan-shutterstock]

Penggunaan teknologi dalam pendidikan sering meleset dari sasaran. Bahkan ditengarai menimbulkan akibat buruk. Antara lain, menurunkan kemampuan matematika, tulisan tangan siswa makin jelek dan siswa tidak fokus. Peran guru tetap tidak tergantikan.

Sering terdengar bahwa teknologi menjadi bagian yang semakin penting di dalam kelas. Banyak sekolah, terutama di kota-kota besar, menampilkan diri sebagai sekolah yang modern dengan menunjukkan kelas-kelas berisi sejumlah perangkat teknologi. Coba saja lihat iklan-iklan mereka.

Tetapi apakah ini membantu memberi anak-anak keterampilan yang mereka butuhkan untuk masa depan mereka sendiri?

Sebuah laporan baru-baru ini dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menunjukkan bahwa penggunaan komputer di kelas mengakibatkan penurunan hasil tes untuk matematika, sains dan membaca. Di tempat lain, penggunaan yang konstan IPad, tablet, smartphone dan sejenisnya dipersalahkan atas penurunan kemampuan menulis. Tulisan tangan siswa sekarang makin jelek, makin tak mudah terbaca. Ada anekdot: tulisan siswa sekarang mirip tulisan resep dokter.

Siswa yang memiliki tablet atau komputer di depan mereka selama pelajaran akan tergoda untuk bermain daripada mendengarkan. Guru harus menetapkan target yang jelas dan memastikan penggunaan teknologi secara tepat. Jika tidak hal itu akan berdampak buruk.

Tidak semua penggunaan teknologi berdampak buruk. Ada banyak sisi positifnya. Teknologi adalah alat. Yang harus diperhatikan guru adalah cara cara teknologi itu digunakan di kelas. Peran guru tak tergantikan.

Keterampilan komputasi baru saat ini tidak begitu berbeda dengan keterampilan tradisional. Pendidikan sekarang menuntut pelakunya untuk memiliki kemampuan berpikir secara logis, juga kemampuan untuk mengkomunikasikan ide pada level yang berbeda dengan era sebelumnya.

Baca Juga :   Mereka Ingin Kamu Tetap Miskin

Dunia menjadi semakin sulit diprediksi. Digunakan cara-cara inovatif untuk menghadapinya. Karena itu pelatihan guru dan dukungan infrastruktur menjadi penting. Di tangan guru-guru yang handal, teknologi dapat membuka cara-cara baru pembelajaran dan meningkatkan keterampilan inti.

Penggunaan teknologi di kelas harus menjadi alat, bukan sebagai pendekatan dalam mendidik. Sisi positifnya, siswa bisa mempelajari keterampilan teknologi penting seperti keyboard, coding dan cara menggunakan internet untuk mengumpulkan informasi. Di sisi negatifnya, ada bukti bahwa mereka tidak mempelajari keterampilan emosional dan sosial yang sangat penting untuk kesuksesan dalam pekerjaan dan kehidupan.

Terlepas dari banyak keuntungan yang diperoleh dari penggunaannya di ruang kelas, pengadaan teknologi dalam kelas perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

Biaya

Membangun infrastruktur teknologi seringkali merupakan masalah yang mahal, baik menyangkut dana maupun tenaga kerja. Sekolah mungkin tidak memiliki tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menangani peralatan baru. Mengadakan komputer laptop dan tablet menghadirkan masalah biaya lebih lanjut. Penggunaan bandwidth juga mengharuskan investasi tambahan. Sekolah perlu melatih para guru agar menguasai, setidaknya memahami, infrastruktur teknologi yang dipakai. Juga akan dibutuhkan departemen teknis yang selalu siaga menangani masalah-masalah kecil yang mungkin timbul.

Membangun jaringan teknologi di sekolah seringkali merupakan masalah yang mahal. Terlebih buat sekolah-sekolah negeri, yang hanya mengandalkan subsidi negara.

Pengelolaan

Baca Juga :   Mona Ratuliu, Menulis untuk Berbagi

Di atas kertas, menggunakan teknologi untuk tujuan pendidikan adalah ide yang bagus. Namun banyak guru dan pendidik percaya bahwa tablet, ponsel cerdas dan PC/laptop dengan koneksi internet adalah sumber gangguan bagi pelajar. Sulit bagi guru untuk memonitor siswa di kelas apakah mereka benar-benar memanfaatkannya untuk belajar atau mencari hiburan. Dalam kasus di mana siswa memiliki tablet dan telepon pintar, memfilter konten mungkin bukan pilihan yang layak. Efektivitas teknologi di ruang kelas dalam kasus-kasus seperti itu sulit diukur.

Kebutuhan Sosial

Penggunaan teknologi di ruang kelas menghilangkan kebutuhan untuk bertatap muka dengan guru. Ketidakhadiran seorang guru mungkin tidak lagi jadi masalah. Siswa dapat saja mengambil pelajaran kurang serius terutama karena tidak ada pengawasan. Dengan tidak adanya atmosfer kelas di mana siswa dapat menjalin persahabatan dan hubungan normal dengan sesama siswa dan dengan guru, mereka mungkin tidak belajar tentang nilai-nilai sosial, kerja sama dan etika. Ketika siswa gagal bersosialisasi dengan baik, kinerja mereka di dunia nyata mungkin terpengaruh. Atas pertimbangan seperti ini sebagian besar orang tua lebih suka metode tradisional daripada teknologi pendidikan yang inovatif.

Perbedaan Teknologi

Ada ketimpangan besar dalam hal akses teknologi di dunia. Ini terjadi baik antara negara-negara juga antara daerah satu dengan lainnya. Sekolah-sekolah di dunia maju lebih mempunyai akses dari pada negara berkembang. Sekolah di perkotaan pasti lebih lancar aksesnya daripada sekolah di pelosok. Masalah ini disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, kurangnya sumber daya (infrastruktur, jaringan), pengetahuan yang memadai dan kendala anggaran.

Baca Juga :   Nasib Guru dan Sarjana Pendidikan Kita

Namun demikian integrasi teknologi dalam pendidikan saat ini menjadi suatu tuntutan zaman. Anda tidak bisa melawan perubahan dan penggunaan teknologi dalam pendidikan telah menjadi norma baru.

Generasi anak-anak kita adalah Generasi Z (yang lahir dari 1995 sampai dengan tahun 2010) dan Generasi Alpha (generasi yang lahir dalam rentang tahun 2011 sampai 2024). Mereka adalah kelanjutan dari Generasi Milenial, yang lahir 1981 sampai dengan 1994. Generasi Z dan Alpha sangat akrab dengan internet dan teknologi canggih serta berbagai aplikasinya. Ini semua akan mempengaruhi kepribadian mereka. Di titik ini sentuhan pendidikan karakter sangat penting.

Ini bukan tentang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh menggunakan teknologi yang tersedia untuk mereka. Sebaliknya, dengan membiarkan mereka menghabiskan waktu secara teratur di ruang-ruang sosial dan lingkungan alam, kita dapat membantu mereka menjadi lebih sehat dan lebih bahagia. Mereka akan melakukan yang lebih baik di sekolah dan berkonsentrasi lebih keras. Mereka akan lebih percaya diri dan fisik mereka lebih bugar.

Teknologi jelas memiliki pro dan kontra ketika digunakan di kelas. Tetapi intinya adalah ini: Kita hidup di dunia digital, dan siswa berinteraksi dengan teknologi, dan bahkan mungkin membawanya ke sekolah, setiap hari. Manfaat menggunakan teknologi di kelas sangat luas dan perlu dikuasai oleh pendidik modern yang berupaya mempersiapkan siswa untuk kehidupan dewasa. Peran guru tetap tidak tergantikan.

BAMBANG PRASETYO