Beranda Majalah Jepang Unggul Karena Menghargai Guru

Jepang Unggul Karena Menghargai Guru

50
0
Pengajaran hibrid Jepang: Kelas offline sekaligus online [nippon.com]

Ada peribahasa kuno Jepang yang mengatakan: “Sehari diajar guru hebat lebih baik daripada ribuan hari belajar sendiri.” Guru mendapat tempat terhormat dalam peradaban Jepang. Sejak zaman dulu sampai sekarang.

Hal pertama yang dilakukan anak-anak Jepang di pagi hari ketika di sekolah adalah menundukkan diri pada guru-guru mereka. Ini gerakan kecil yang mengatakan banyak hal. Penghormatan kepada guru ditanam kuat dari generasi ke generasi.

Di sini rasa hormat bukan sekadar lip services atau hanya jadi jargon. Penghormatan kepada guru benar-benar nyata di masyarakat Jepang. Penghormatan kepada guru adalah tulang punggung sistem sekolah Jepang, yang selama beberapa dekade telah menduduki peringkat atas dunia. Padahal rasio anggaran pendidikannya terbilang rendah dibanding negara-negara demokrasi lain; hanya 3,3 persen dari produk domestik bruto.

Bagaimana mereka melakukan begitu banyak hal dengan sedikit anggaran? Dengan berinvestasi untuk menghasilkan guru-guru berkualitas dan hebat.

Para guru dan administrator sekolah sangat dihargai di Jepang. Profesi guru mendapat penghargaan besar, setara dengan profesor dan dokter. Penghasilan guru benar-benar dijamin negara, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding posisi yang setara di sektor swasta dan layanan sipil (pegawai negara sipil). Singkat kata pekerjaan mengajar di negeri ini menjamin penghasilan seumur hidup dan mendapat prestise yang tinggi masyarakatnya.

Guru-guru di Jepang diperlakukan dengan lebih hormat dibanding negara-negara lain. Mereka disapa dengan “sensei”, artinya kehormatan, sebuah istilah yang juga digunakan ketika berbicara kepada dokter atau kepada anggota parlemen.

Baca Juga :   Mona Ratuliu, Menulis untuk Berbagi

Mayoritas guru Jepang adalah sarjana lulusan perguruan tinggi dengan gelar sarjana. Dan jumlah guru dengan gelar magister belakangan makin meningkat.

Guru mendapat respek yang sangat baik. Itu karena di pundak mereka diharapkan mengabdikan seluruh hidup mereka. Seluruh sistem diatur untuk menekankan pengembangan guru. Guru ditugasi mengubah anak-anak menjadi warga negara teladan. Jika seorang siswa ketahuan mengutil, misalnya, si guru lebih dulu kena peringatan sebelum orang tuanya. Guru lebih dulu bertanggungjawab atas ulah anak didiknya. Para guru sangat dihormati sehingga mereka sering dihubungi pertama kali oleh polisi jika ada seorang siswa bermasalah dengan hukum. Baru kemudian polisi menghubungi orang tua siswa tersebut.

Di dalam kelas, anak-anak belajar tanggung jawab. Membuka sepatu dan mengganti sandal di pintu masuk kelas, membersihkan gedung sendiri. Saat makan siang, anak-anak bergiliran membagikan makanan kepada teman sekelas dan gurunya. Tidak ada yang mengunyah lebih dulu sampai semua orang dilayani.

Satu guru di Jepang mengajar hampir semuanya, mulai dari tata krama meja hingga trigonometri, membutuhkan waktu. Semuanya dicatat untuk kemudian diperbandingkan satu guru dengan lainnya secara periodik. Meja mereka bahkan dikelompokkan bersama dalam satu ruangan. Pendidik di sana 60 persen waktunya dihabiskan dengan siswa dan 40 persen diisi dengan interaksi bersama guru-guru lain, utamanya menambah pengetahuan dan teknik bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Baca Juga :   Romantisme Dewi Lestari untuk Sebuah Ide Cerita

Guru yang Sibuk

Guru Jepang bertugas lima hari seminggu, sama dengan guru Indonesia. Namun dalam banyak kasus, mereka sering pergi ke sekolah selama liburan musim panas, musim dingin dan musim semi. Hak cuti hanya diambil beberapa hari jika mereka bisa. Mereka mengajar lebih sedikit daripada guru Amerika, tetapi menghabiskan lebih banyak waktu untuk urusan administrasi dan urusan ekstrakurikuler. Sebagian besar guru melaporkan bahwa mereka kelelahan karena beban kerja yang berat.

Rata-rata guru Jepang bekerja 55 jam seminggu, 11 jam lebih banyak dari yang dibutuhkan 44. Rata-rata, guru menghabiskan 10 jam dan 36 menit sehari di sekolah, tiba di sekolah pukul 7:49 pagi dan pulang pada 16:25 sore.

Soal kesibukan, lebih dari 90 persen guru Jepang melaporkan bahwa mereka “sibuk” atau “sangat sibuk.” Guru sekolah dasar dan menengah menghabiskan banyak waktu untuk urusan administrasi, acara sekolah, pertemuan, dan klub ekstrakurikuler. Banyak guru berpikir bahwa mengajar membutuhkan pengorbanan diri, dedikasi dan semuanya menimbulkan tekanan (stres). Mereka juga merasa bahwa mereka layak mendapatkan gaji yang lebih tinggi dan rasa hormat dari masyarakat. Namun di atas itu semua, mayoritas guru Jepang menyatakan bahwa mereka senang menghabiskan waktu bersama anak-anak.

Para guru di Jepang sangat sibuk mempersiapkan pelajaran, menilai ujian, dan mengawasi kegiatan ekstrakurikuler. Satu survei menemukan bahwa beban pekerjaan guru Jepang lebih besar daripada guru di negara lain. Sebaliknya guru-guru di Finlandia lebih banyak menghabiskan waktu “berkomunikasi dengan orang tua” dan “memberikan pelajaran tambahan setelah” sekolah.

Baca Juga :   Guru dan Tentara

Dalam banyak sekolah, guru melakukan kunjungan pribadi ke rumah masing-masing siswa untuk hanya sekadar mengobrol dan mengenal orang tua. Saat liburan dimanfaatkan guru menghadiri seminar-seminar atau mengikuti pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan umum dan keterampilan profesional mereka. Peningkatan kualitas dan sertifikasi menjadi penting karena undang-undang pendidikan baru yang disahkan pada Juni 2007 mengharuskan guru untuk memperbaharui lisensi mereka setiap 10 tahun. Lisensi diperoleh setelah lulus tes tertulis dan mengikuti 30 jam pelatihan. Sistem ini mulai berlaku pada tahun 2009. Lisensi guru berlaku seumur hidup.

Di Jepang usia pensiun guru adalah 60 tahun. Uang pensiun mereka besar, sekitar USD 62.000 (setara Rp 868 juta) per tahun, lebih tinggi di banding guru pensiunan di Amerika yang menerima USD 53.000 (Rp 742 juta).

Terlepas dari semua ini, nilai tes global yang sangat penting itu telah tergelincir: Jepang menduduki peringkat matematika di seluruh dunia pada tahun 2000, tetapi turun ke urutan ke-6 pada tahun 2006: masih jauh lebih unggul daripada AS yang berada di nomor 25.

Apa yang tidak berubah di Jepang adalah nilai yang diberikan pada pendidikan yang disimpulkan oleh pepatah Jepang: lebih baik sehari belajar dengan guru yang hebat daripada seribu hari belajar sendiri.

BAMBANG PRASETYO