Beranda Majalah Guru, Jangan Hanya Jadi Pegawai

Guru, Jangan Hanya Jadi Pegawai

150
0

Dr Adjat Wiratma banyak aktivitasnya. Selain menjadi presenter TV, ia masih menggeluti minatnya sebagai pengajar dan pendidik di Akademi Indonesia Sekolah Darurat Kartini, terutama buat anak-anak jalanan di wilayah Senen, Jakarta. Doktor Manajemen Pendidikan lulusan Universitas Negeri Jakarta ini tesisnya tentang Perilaku Guru SMK. Spesifik di wilayah Jakarta Utara. Dengan riset mendalam.

OCB adalah Organizational Citizenship Behavior, teori perilaku dalam organisasi Dennis W Organ. Teori manajemen ini membahas tentang kesukarelaan seseorang melakukan hal-hal di luar tugas pokok. Bukan yang dikategorikan sebagai kinerja. Yang termasuk kinerja guru itu antara lain tentang bagaimana mengajar, datang tepat waktu dan lain-lain. Sementara OCB melihat hal-hal yang dilakukan guru di di luar tugas-tugas pokoknya sebagai guru.

Ilmu ini biasa dipakai untuk dunia industri, menilai untuk karyawan-karyawan kontrak. Namun dalam perkembangannya ada variabel-variabel baru. Adjat mencoba mencoba menguji teori ini khusus untuk guru-guru SMK. Studi khusus di wilayah Jakarta Utara, tentu dengan banyak referensi.

Berikut wawancara SahabatGuru dengan Dr Adjat Wiratma:

Di tentara ada istilah “melampaui tugas yang diberikan”. Apakah seperti itu?

Kalau “melampaui” itu kinerja. Kalau OCB melakukan kerja yang bukan tugasnya, tidak terkait kinerja. OCB itu melihat kesukarelaan melakukan hal-hal yang di luar tugasnya, namun hal itu berakibat baik untuk organisasi. Organisasi di sini adalah sekolah.

Misalnya, saya seorang guru, namun saya rutin membersihkan sampah yang berserakan yang sebenarnya tugas OB (office boy), atau saya membantu orang baru yang gaptek (gagap teknologi) saya ajarin, yang sebenarnya itu tugas bagian IT. Jadi guru itu melakukan kerja di luar tugasnya. OCB itu tidak mendapat apresiasi karena itu di luar sistem.

Apa yang Anda temukan?

Yang saya temukan hanya beberapa guru yang melakukan OCB. Padahal di Jakarta gaji guru sudah sangat tinggi, dibanding daerah lain. Yang PNS kan sudah bisa belasan juta, yang honorer sekitar Rp3 juta-an ke atas. Namun pendapatan yang tinggi itu rupanya tidak juga meningkatkan OCB mereka. Kepuasan itu belum tentu berpengaruh terhadap kesukarelaan dia melakukan hal-hal di luar tugas pokok. Padahal saya melihat Guru itu sangat mulia.

Lalu saya coba melihat apa yang bisa meningkatkan OCB guru. Soal kepribadian personal rupanya sangat penting. Kepribadian itu khas sifatnya, bentukan dari pengalaman masing-masing, dari lingkungan, rumah, pemahaman, penghayatan akan nilai-nilai. Namun untuk menjadi Guru salah satu kompetensinya adalah kepribadian.

Jarang pimpinan sekolah yang melihat masalah kepribadian ini. Yang dinilai lebih banyak kepada masalah terkait statusnya, gajinya dan lainnya. Memang banyak guru yang berkinerja baik namun alangkah lebih baik jika guru juga melakukan OCB. Karena profesi guru sebenarnya dituntut melakukan hal-hal di luar tugasnya. Saya membayangkan jika ada murid yang melihat guru membantu orang lain di luar tugas mereka itu akan jadi inspirator. Jadi pada saat dia berada di luar ruang-ruang lain selain sekolah dia harus bisa membantu orang lain, sekalipun itu bukan tugas dia.

Jadi OCB guru yang Anda temukan rendah?

Ya. Saya masih menemukan rendah. Saya kemudian mencari faktor penyebabnya. Kepribadian mempengaruhi OCB rendah.

Memang OCB itu sesuatu yang sangat idealis karena saat ini yang diutamakan memang kinerja. Kinerja saja sekarang masih dipertanyakan, baik soal input maupun output yang diinginkan pemerintah.

Namun tuntutan buat seorang Guru itu memang seperti itu. Bukan hanya sekadar kerja. Datang saja dia tidak cukup tepat waktu. Harus lebih dulu. Apalagi jika bolos. Memang OCB itu masih sangat ideal.

Apakah fenomena itu hanya di Jakarta Utara saja?

Referensi yang saya dapat fenomena itu juga terjadi di Jakarta. Ada satu sekolah yang memiliki beberapa guru dengan OCB tinggi ternyata mampu membuat sekolah itu lebih berprestasi.

Jadi saya mencoba memberi rekomendasi. Untuk memunculkan sosok OCB, selain dari faktor kepribadian, juga penting adanya kepuasan lingkungan kerja. Pimpinan juga berpengaruh. Kalau pimpinannya hanya memperhatikan hal-hal sesuai tugas, seperti datang tepat waktu, tugas mengajarnya baik, tidak melakukan OCB, ya sudah, begitu saja. Yang penting saya sudah menjalankan tugas dengan baik, sesuai standar, toh pendapatan saya sudah memuaskan. Padahal profesi guru itu bukan cuma pegawai. Di mata saya, Guru itu sempurna.

Baca Juga :   Gerakan Literasi Ala Ratna Listy

Jadi sosok Guru yang Anda temukan adalah sosok pegawai?

Kebanyakan begitu. Kebanyakan guru itu berperilaku sebagai pegawai. Padahal sosok guru lebih dari itu, mendekati sempurna. Ia digugu dan ditiru, kalau orang Jawa bilang. Tidak hanya mengajar tapi dia bisa menjadi sosok orang tua, bukan hanya di sekolah namun juga di luar sekolah. Sekarang banyak guru yang hanya menjadi guru di sekolah. Misalnya, jika sudah lulus, apakah dia peduli anak didiknya sudah bekerja atau belum? Yang penting saya telah melaksanakan tugas mengajar, mengadakan ujian, setelah lulus anak itu bukan tanggung jawab saya. Dia hanya seorang alumnus dan bukan tanggung jawab saya. Begitu mungkin pikiran guru.

Padahal seorang guru ideal itu lahir batinnya menyatu dengan anak didiknya. Selain jadi role model (teladan) dia juga harus jadi orang tua. Kalau orang tua kan terus memperhatikan anak-anaknya dari kecil sampai besar.

Bukankah sosok itu terlalu idealis?

Memang guru itu profesi yang idealis. Sosok yang mulia.

Kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang memang masih hanya memperhatikan kinerja.

SMK-SMK Negeri Jakarta itu bagus-bagus. Gedung dan fasilitasnya bagus-bagus, karena pemerintah saat ini lebih memprioritaskan SMK. Tapi secara praktik dan materi ajarnya masih kurang. Seperti enterpreneurship masih kurang. Gurunya sendiri jiwanya masih di luar itu. Padahal SMK tujuannya mencetak entrepreneur kan. Misalnya guru tata boga hanya mengajarkan masak. Padahal cita-citanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu guru harus punya dua keahlian. Guru tata boga juga harus mengajarkan manajemen, bisnis makanan dan lain. Juga guru teknik, tidak hanya teknik mesin saja, harus punya keahlian elektrik dan lainnya.

Apalagi sekarang ini banyak guru yang bukan dari pendidikan guru. Banyak yang belum dididik pedagogi. Bayangkan jika orang itu harus mendidik.

Kebijakan-kebijakan yang ada sekarang belum menyentuh masalah personal guru. Belum memperhatikan masalah personal, kesukarelaan di luar tugas pokok. Padahal di luar lingkungan sekolah banyak sosok inspiratif, mereka yang pendapatannya kecil bahkan tidak digaji pemerintah namun melakukan hal-hal baik di masyarakatnya. Sosok-sosok ini bekerja untuk rakyat.

Atau dari dalam kalangan guru sendiri tidak ada keinginan untuk melakukan OCB?

Ya. Karena tidak disentuh. Belum ada perhatian.

Karena belum ada kebijakan yang inspiratif, yang memotivasi guru untuk melakukan OCB?

Kebijakan yang ada sekarang belum menyentuh OCB. Jadi kepribadian guru tidak dikembangkan. Bagaimana membuat dia menjadi ikhlas, penuh kasih, tanggap dengan lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lain-lainnya. Dan pelatihan untuk itu juga bukan yang sifatnya keterampilan, seperti di diklat-diklat. Hal-hal seperti yang jarang diberikan kepada guru-guru kita. Lebih banyak yang sifatnya teknis.

Sentuhan ke guru itu harus langsung ke hatinya.

Guru tugasnya mulia. Satu dari tiga tujuan negara adalah “mencerdaskan kehidupan berbangsa”. Putusan Mahkamah Konstitusi 20 persen APBN harus untuk pendidikan. Apa yang kurang untuk guru?

Seharusnya anggaran saat ini untuk perbaikan kualitas guru. Bukan lagi hanya untuk gaji dan infrastruktur. Saya rasa masalah 20 persen APBN itu belum menjawab. Anggaran itu tidak hanya untuk pendidikan, khususnya guru. Saya lihat anggaran itu menyebar.

Padahal untuk menyiapkan orang-orang yang akan melaksanakan tujuan negara, yakni “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia” (tujuan pertama), “memajukan kesejahteraan umum” (tujuan kedua) dan “melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” (tujuan keempat), itu harus lewat guru, harus dengan “mencerdaskan kehidupan berbangsa” (tujuan ketiga). Ini yang masih belum menjadi perhatian negara.

Untuk memajukan kesejahteraan umum itu diperlukan orang-orang yang siap di bidang itu. Dan untuk membentuk, katakanlah ekonom-ekonom dan wiraswasta, entrepreneur, manajer, diperlukan guru-guru.

Tentang masalah pendidikan sekarang, kita selalu disibukkan soal bongkar pasang kurikulum. Seharusnya dimulai dari perbaikan guru, kualitas, kuantitas dan personal guru. Karena di tangan guru-guru yang hebat kurikulum itu berkembang. Jangan sampai guru terkekang oleh kurikulum yang dibuat. Padahal seharusnya guru itu mengembangkan kurikulum di kelasnya. Bagaimana menanamkan karakter murid.

Baca Juga :   Nasib Guru dan Sarjana Pendidikan Kita

Kalau sekarang kurikulum dipaksa, gurunya tidak akan berkembang karena akan mengikuti teknis kurikulum. Harusnya gurunya yang ditingkatkan secara kepribadian dan profesionalismenya, dia yang akan mengembangkan kurikulum itu. Dan akan beragam. Itu tidak jadi masalah. Malah akan memperkaya kurikulum.

Mana negara yang jadi contoh guru yang ideal?

Sekarang yang banyak menjadi contoh adalah negara Finlandia ya. Tapi mereka butuh 20 tahun sampai 30 tahun untuk menjadi seperti sekarang ini. Yang pasti Finlandia sangat concern dengan guru. Dari guru pendidikan dasar, menengah sampai tinggi.

Saya pernah studi banding ke situ. Yang menarik, di sana satu guru mengajar dari kelas satu sampai kelas enam. Wali kelasnya hanya satu. Akibatnya si guru sangat tahu perkembangan masing-masing muridnya. Kalaupun ada guru mata pelajaran lain, namun yang jadi role model-nya adalah si guru itu.

Materi ajarnya juga diserahkan kepada sekolah dan guru. Di Finlandia tidak ada ujian negara. Tidak ada beban tugas yang dibawa ke rumah. Semua dikerjakan di sekolah. Ujian diserahkan kepada masing-masing sekolah. Menarik. Jadi negara mempercayakan penuh pendidikan anak-anaknya kepada guru dan sekolah-sekolah. Ini berbeda dengan Indonesia. Anggaran pendidikan sudah cukup besar namun secara tidak langsung masih tidak percaya dengan kualitas pendidikan sehingga harus ada standarisasi. Padahal pengajaran di tiap daerah sudah beda-beda juga.

Anak-anak SD kita banyak membawa buku. Dibawa pulang. Di Finlandia ada locker (lemari simpan) murid untuk menyimpan buku-bukunya. Jadi tidak perlu dibawa pulang.

Di sana yang paling penting kalau masuk sekolah anak-anak itu bahagia. Senang. Jangan sampai anak itu tertekan, ada banyak tugas, tuntutan.

Hal lain lagi, banyak pendidik terutama di SD yang bukan dari pendidikan guru. Banyak yang belum belajar ilmu pedagogi. Secara personal itu mempengaruhi anak didik. Misalnya begini. Seorang sarjana teknik diminta untuk meng-create kepribadian murid di kelas. Jika mengajar soal teknik mungkin ia kompeten, namun sentuhan-sentuhan personal untuk mendidik anak berbeda.

Saya juga melihat fenomena lain. TK itu kan biasanya cuma satu guru. Sekarang sudah banyak guru-guru di TK. Tiap pelajaran ada gurunya. Padahal TK dan SD seharusnya lebih menekankan pendidikan karakter dasar.

Makanya jika hanya sekadar mengurus kurikulum, tidak akan selesai. Seharusnya lebih kepada menguruskan perbaikan guru. Karena di tangan guru-guru hebat kurikulum apapun akan berkembang dengan baik.

Misalnya sekarang ngurus soal gaji, honorer atau PNS. Sementara orangnya tidak disentuh. Padahal kalau pribadi gurunya yang disentuh, dia akan menjadi guru yang baik. Mungkin tidak terlalu peduli berapa honor dan gajinya. Istilahnya, walau gaji kecil namun hatinya benar-benar ikhlas, ridho, dia penuh mengabdi sebagai guru, ia akan mengajar dengan sepenuh hati. Namun negara tetap menjamin kebutuhan dasar guru, seperti pendapatan minimum, kesehatan, air bersih dan lain-lain.

Tapi sosio-kultur bangsa Finlandia kan berbeda dengan Indonesia.

Memang tiap daerah kita beda-beda ya. Makanya standarisasi nasional itu harus menjadi acuan untuk memancing potensi-potensi lokal. Ada hal yang penting bagi SMK. Namun harus dibarengi pemenuhan SDM yang kompeten. Misalnya, ada SMK jurusan Kelautan. UNJ ada tidak ada pendidikan guru jurusan Kelautan. Nah siapa yang mengajar di SMK itu? Siapa yang akan melahirkan guru ilmu kelautan? Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) mana yang akan menyediakan pengajar kelautan?

Untuk SMK seharusnya LPTK-nya diperkuat dulu, karena dia akan melahirkan guru-guru SMK.

Jadi pengembangan pendidikan kadang-kadang belum didukung infrastrukturnya.

Lembaga sertifikasi guru kita belum dipikirkan negara. Seharusnya itu dibuat tersendiri. Ada standarisasi profesional tenaga pengajar untuk semua ilmu yang dibutuhkan. Sebenarnya kita punya banyak perguruan tinggi ilmu kependidikan. Yang besar-besar UNJ, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Negeri Malang. Jadi bisa di situ untuk mendidik tenaga pengajar pada ilmu-ilmu yang dibutuhkan. Sekarang ini tiap kementerian dan lembaga membuat lembaga diklat sendiri.

Rekrutmen guru itu sudah puluhan tahun lalu belum beres. Pendekatan pemerintah masih soal pemenuhan tenaga pengajar dan pemerataan. Yang penting ada dulu tenaga pengajar. Namun akibatnya ironis, secara nasional sekarang guru honorer lebih banyak dari pada guru PNS. Kebutuhan banyak namun tenaga guru masih sedikit. Nantinya akan berakibat pada kualitas pendidikan kita. Bayangkan saja, sudah honor atau gajinya sedikit, namun kepribadian atau personality mereka tidak disentuh, sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi di dalam kelas.

Baca Juga :   Mona Ratuliu, Menulis untuk Berbagi

Atas memang senengnya kayak gitu. Kurikulum aja belum selesai-selesai sampai sekarang. Padahal materi-materi diklatnya sudah berubah.

Tentang teknologi informasi yang makin mewabah. Di kota-kota hampir tiap orang punya gadget. Sekolah banyak menggunakan sistem informasi lewat HP. Anak-anak sekolah juga makin banyak waktunya main HP. Apa pengaruh bagi perkembangan anak-anak?

Jika tidak ada penguatan orang tua di rumah dan guru di sekolah tentu akan bahaya. Orientasi murid bukan lagi ke sosok nyata. Padahal guru harus menjadi role model.

Ada beberapa aplikasi atau situs yang memang membantu murid. Seperti ruangguru. Itu hanya bisa dijadikan sebagai media ajar. Tapi peran guru tetap tidak bisa tergantikan oleh apapun. Ia harus hadir. Karena yang disentuh itu jiwa murid. Dan bahayanya jika teknologi ini tidak diperhatikan orang tua dan guru, anak-anak malah mendapat pengetahuan yang tidak sesuai dengan ilmu pedagogik.

Satu contohnya begini. Ada materi untuk pendidikan anak usia dini di Youtube mengajarkan huruf. A, B, C, D, E, F, G… Itu sebenarnya salah. Seharusnya pertama kali yang diajar apa saja itu huruf vokal. Lalu huruf konsonan. Pemahaman huruf sebaiknya mulai dari pengelompokan seperti itu. Lalu konsonan yang paling sering digunakan, huruf B dan D, yang perutnya di depan dan perutnya di belakang. Kemudian M dan N, yang kakinya dua dan kakinya tiga. Dan seterusnya. Jadi pengenalan huruf buat anak itu sebaiknya dengan cara pengelompokkan dulu, lalu kombinasi untuk membentuk kata dan kalimat. Dengan cara ini membuat anak berpikir terstruktur dan sistematis. Begitu menurut ilmu pedagogik.

Internet sering memberikan jawaban instan tapi tidak memperhatikan proses.

Kalau untuk andragogik, pendidikan orang dewasa, mungkin bisa. Karena pemahaman orang dewasa sudah melalui pendidikan dasar yang sudah memiliki kemampuan dasar berpikir secara sistematis dan memahami proses.

Tapi sudah banyak sekolah yang menerapkan tugas ke murid lewat HP pintar ini.

Saya lihat itu akan membentuk sikap yang tidak baik. Bayangkan saja, cara murid berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa-bahasa yang tidak pantas. Atau dengan kata-kata yang tidak sesuai ejaan yang benar, disingkat-singkat seperti biasa digunakan dalam chat. Kata “Ok”, misalnya, itu kurang pantas dilakukan murid ke guru. Padahal dalam dunia nyata murid menanyakan langsung ke guru dengan bahasa santun, menyalami, mencium tangan guru. Etika seperti itu bukan sesuatu yang kuno. Itu universal. Menghargai orang yang lebih tua itu ada di semua peradaban dunia.

Jika sekolah membiarkan hal ini terjadi maka akan menempatkan Guru hanya sebagai Mediator. Padahal peran mediator hanya ada dalam pendidikan orang dewasa. Bukan untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan.

Jadi 10 atau 20 tahun ke depan kita akan menghadapi generasi yang berbeda ya…

Profesi Guru itu dilahirkan. Kita harus membuat proses melahirkan guru-guru yang ideal. Proses rekrutmennya bagaimana. Latar belakang dan kepribadian calon guru juga harus diperhatikan. Kemudian baru diberikan ilmu pedagogik dan ilmu-ilmu yang akan ia ajarkan kepada murid. Jadi kita harus mulai memperbaiki ‘pabrik-pabrik’ untuk menghasilkan guru ideal.

Di Finlandia profesi guru itu terpandang. Gajinya tinggi. Tapi untuk menjadi guru di sana bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak kualifikasi yang harus dia miliki. Sementara di sini, Jakarta sebagai contoh, lulusan S1 apa saja bisa menjadi guru.

Seperti menjadi dokter, untuk bisa melakukan praktik dia harus melalui kualifikasi dan uji kompetensi dulu. Seharusnya guru juga begitu.

Itu yang harus dipikirkan bersama. Peran Guru tetap tidak bisa tergantikan. Ia harus hadir, menjadi sosok yang nyata, menjadi teladan yang nyata.

BAMBANG PRASETYO, H K ACHMAD MEDANG