Beranda Literasi Belajar Bukan Kompetisi

Belajar Bukan Kompetisi

93
0

Sejak tahun lalu (2019) Singapura mengubah paradigma pendidikannya. Bisa dikatakan perubahan yang revolusioner. Selama ini prestasi akademik murid-murid sekolah di Negeri Singa itu selalu berdasarkan angka-angka atau nilai kuantitatif. Mulai tahun ini tidak lagi.

Pemerintah Singapura meninjau ulang pendekatan pendidikan atau kurikulum yang pernah dipakai. Mereka melakukan serangkaian perubahan yang bertujuan untuk mengurangi kompetisi nilai antar siswa dan lebih mendorong siswa berkonsentrasi pada pengembangan pembelajaran dan diri mereka sendiri. Menteri Pendidikan Singapura waktu itu menegaskan: “Belajar bukan berkompetisi.”

Perubahan revolusioner dalam kurikulum pendidikan Singapura antara lain: tidak ada lagi ulangan atau tes untuk pendidikan dasar (6 tahun) dan pendidikan menengah (4 tahun). Sekolah akan menggunakan pendekatan “deskripsi kualitatif” sebagai ganti nilai.

Otomatis isi rapor (laporan) siswa tidak ada lagi nilai berupa angka-angka kuantitatif yang dipakai selama ini. Buku rapor model baru hanya berisi keterangan apakah seorang siswa tuntas menyelesaikan subyek pelajaran dengan menghilangkan rata-rata kelas, nilai total, nilai minimum dan maksimum. 

Rapor siswa tidak lagi menyorot gagal atau berhasil di akhir tahun ajaran. Pemeringkatan dalam kelas atau sekolah (ranking) juga dihilangkan.

Baca Juga :   Sudah Ada 502 Buku Literasi Dukung Gerakan Literasi Nasional

Dalam kurikulum baru ini, Kementerian Pendidikan Singapura meminta guru terus mengumpulkan informasi perkembangan pembelajaran siswa melalui diskusi, pekerjaan rumah dan kuis.

Khusus untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar dan sekolah menengah, nilai setiap mata pelajaran akan dibulatkan dan disajikan sebagai bilangan bulat, tanpa angka desimal agar tidak terlalu berfokus pada nilai akademik. 

Kebijakan ini tidak lagi mengejar pada kesempurnaan akademis namun lebih kepada pengembangan kemampuan interaksi sosial dan kompetensi dalam mengambil keputusan. Praktik pembelajaran di kelas akan disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga lulusan siap bekerja di berbagai sektor layanan yang terus berkembang.

Serangkaian program “pembelajaran terapan” dijadwalkan dimulai pada tahun 2023 untuk meningkatkan pengembangan pribadi dan membantu siswa memperoleh keterampilan di dunia nyata. Program ini memungkinkan anak-anak Singapura untuk terjun ke dalam topik-topik “ekspresif” seperti drama dan olahraga serta lebih banyak area pembelajaran berfokus pada industri seperti komputer, robotika dan elektronika.

Mengapa Harus Berubah?

Baca Juga :   Layani Literasi Masyarakat, Kabupaten Ini Raih Penghargaan Kihajar 2018

Ini juga yang menjadi pertanyaan banyak kalangan. Padahal selama ini Singapura dikenal memiliki pendidikan kelas wahid. Nomor satu di hampir semua pemeringkatan dunia.

Programme for International Student Assesment (PISA) selalu memeringkat pendidikan Singapura pada posisi pertama dengan perolehan skor rata-rata siswa 1.655.  Empat tempat teratas negara Asia dengan pendidikan terbaik versi PISA diduduki Singapura, Hong Kong, Jepang dan Macau.

Sebagai perbandingan, dalam ranking PISA Inggris menduduki peringkat ke-22 sedangkan Amerika Serikat ada di urutan ke-30 dengan skor rata-rata 1.476.

Pendekatan baru Singapura terhadap pendidikan ini sangat kontras dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, yang mengejar peringkat pendidikan Program OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk Penilaian Pelajar Internasional (PISA).

Tantangan Masa Depan

Dunia berubah makin cepat. Dalam kompetisi global yang makin sengit diperlukan kemampuan kreatif dan adaptasi yang tinggi untuk survive. Kementerian Pendidikan Singapura rupanya melihat: penyesuaian sikap siswa terhadap perubahan (adaptasi) akan jauh lebih mudah daripada mengubah pandangan orang tua Singapura.

Orang tua Singapura terlalu lama dibesarkan dengan tekanan dan kerasnya ujian. Satu hal belum berubah adalah masih diterapkankannya sertifikasi sebelum meninggalkan pendidikan dasar. Bagi generasi tua ujian ‘menegangkan’ secara tradisional masih dianggap berfungsi sebagai pemetaan rute menuju karir pemerintah tingkat tinggi. Belum ada rencana untuk mengubah aspek sistem pendidikan ini.

Baca Juga :   Eks Mendiknas: Jangan Hanya Andalkan ‘Mbah Gugel’

World Economic Forum dalam laporan tentang “Future Jobs” menyampaikan setidaknya akan ada 42% perubahan kemampuan kerja antara tahun ini hingga 2022. Soft skill seperti kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan dan kemampuan memecahkan persoalan menjadi kemampuan dasar yang sangat penting. Laporan tersebut mengingatkan kita untuk selalu menjadi manusia pembelajar.

Pendidikan Singapura telah beradaptasi mengikuti perubahan ini. Kini mereka lebih mengutamakan soft skill untuk menghadapi perubahan era ekonomi.

Perubahan paradigma pendidikan Singapura dari berorientasi akademik menjadi pendidikan berorientasi holistik akan membawa perubahan serius bagi masa depan Singapura. Apakah murid-murid Singapura akan tetap menduduki level atas pekerjaan-pekerjaan masa depan dunia? Kita akan melihatnya sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

JA HALIM