Beranda Literasi Mengajar: Memberi Inspirasi, Bukan Informasi

Mengajar: Memberi Inspirasi, Bukan Informasi

103
0

“Tidak ada yang peduli seberapa banyak yang kamu tahu, sampai mereka tahu seberapa besar kamu peduli.”

Theodore Roosevelt

Ini adalah catatan penting bahwa mengajar adalah tentang membangun hubungan dengan siswa Anda. Bahkan, ketika saat ini dunia informasi ada di ujung jari. Kita tidak perlu pergi ke sekolah untuk mempelajari fakta dan angka? Cukup dengan pencarian cepat Google, pandangan sekilas ke Wikipedia, atau pertanyaan yang diajukan ke Siri, biasanya akan menghasilkan jawaban untuk pertanyaan tertentu.

Tapi apakah informasi itu semua sudah cukup untuk siswa-siswa kita? Tentu tidak. Jika kita membiarkan mesin-mesin pencari internet itu mengganti peran kita sebagai guru, kita hanya menghasilkan generasi pemamah. Memakan mentah-mentah apa yang sudah tersaji di dunia virtual itu.

Jadi, mengapa pergi ke sekolah? Apa peran guru?

Mengajar sebenarnya adalah tentang memberi inspirasi, bukan informasi.

Pengajaran yang efektif berfokus pada “mengapa” dan “bagaimana”, bukan pada “apa”. Tujuannya adalah untuk memicu imajinasi setiap siswa, untuk menemukan kaitan di hati dan pikiran mereka sehingga mereka merasa perlu mempelajari materi tersebut. Jika kunci itu sudah dipegang siswa, sisanya akan mudah buat mereka. Karena siswa sendiri yang kemudian mendorong pembelajarannya.

Baca Juga :   Anggaran Guru Tidak Berkurang Meski Pandemi Covid-19

Peran sebagai guru milineal adalah mengajukan pertanyaan inspiratif dan membantu siswa membuat jalan menuju jawaban. Jika mereka termotivasi untuk menemukan jalan, mereka akan mengukirnya sendiri. Jika saya harus mengeluarkan rumus-rumus lama untuk mencarikan jalan keluar, maka saya belum melakukan pekerjaan saya.

Bagaimana Anda memotivasi siswa?

Pertama-tama, dan ini yang utama, Anda harus punya kedekatan pribadi dengan tiap siswa.

Akan jauh lebih mudah untuk menumbuhkan minat siswa jika para siswa tahu bahwa Anda peduli terhadap mereka secara pribadi. Ada kedekatan personal antara guru dengan siswa-siswanya.

Dalami minat siswa, ketahui apa keinginan, kemampuan mereka. Tumbuhkan semangat untuk menyenangi materi-materi yang mereka anggap susah. Buatlah semua itu menjadi permainan, sesuatu yang mengasyikan untuk dipelajari.

Peran guru adalah menjadi roda penggerak minat dan motivasi mereka. Tak ada yang lebih menantang ketika guru bisa menggerakkan minat-minat siswa menjadi lebih hidup.

Ini sebuah contoh: Katakanlah Anda sedang mengajarkan bagaimana pesawat bisa tetap terbang tinggi. Tentu rumus-rumus aero-dinamika dan fisika akan terasa tidak nyata. Anda bisa mulai dengan membuat pesawat kertas, yang bahkan dapat dilakukan oleh anak berusia 5 tahun. Anda meminta siswa untuk membuat model yang berbeda untuk melihat mana yang terbang paling jauh. Semakin tua dan semakin matang, semakin jauh Anda dapat melakukan eksplorasi ini, akhirnya akan mengarahkan siswa antusias pergi ke laboratorium dengan terowongan angin untuk mengukur parameter tertentu, termasuk gaya, sudut dan hambatan. Di situ ia akan mengembangkan model-model baru penerbangan.

Baca Juga :   Kuliah Duduk Manis, Internet Gratis

Dengan memulai di awal, Anda mengembangkan fondasi yang kuat di mana setiap siswa dapat terus membangun jauh ke masa depan. Tanpa itu, mereka kemungkinan akan memiliki lubang dalam pemahaman mereka yang pasti akan menghasilkan ketidakmampuan mereka untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka nanti.

Kemudian temukan koneksi materi ajar ke dalam kehidupan siswa dan buatlah materi tersebut segera relevan. Tanpa ini, materi ajar seperti sepotong puzzle yang tidak terhubung dengan sisa gambar siswa yang sedang tumbuh tentang bagaimana dunia bekerja. Siswa tidak tahu mengapa itu relevan dengan kehidupan. Siswa akan kesulitan mempelajarinya dan dengan cepat membuangnya ketika kelas berakhir.

Untuk melakukan ini tidak terlalu sulit. Jika Anda mengajar fisika, Anda bisa mengikat prinsip-prinsip itu dalam permainan sepak bola atau kasti. Jika Anda mengajar sejarah, Anda dapat mengikat peristiwa-peristiwa sejarah dan karakter-karakter tokoh sejarah dengan kepribadian terkini. Jika Anda mengajar kimia, Anda bisa mengikatnya dengan makanan yang kita makan. Jika Anda mengajar kewirausahaan, Anda dapat mengikatnya dengan perusahaan dan pendiri setempat. Jika Anda mengajarkan teori musik, Anda dapat mengikatnya dengan lagu-lagu yang sedang populer. Dan lain sebagainya.

Baca Juga :   Tradisi Literasi Masih Sangat Lemah, Ini Penyebabnya

Ini yang dinamakan kontekstualisasi.

Yang terakhir, jangan pernah memberi tahu siswa apa yang perlu mereka lakukan untuk mendapatkan “A” di kelas. Jika Anda melakukannya, olah pikir dan imajinasi mereka hanya keluar secara minimum untuk mendapatkan nilai yang mereka inginkan. Cukup hanya menghafal rumus-rumus. Atau bahkan mencuri kunci jawaban. Itu jalan pintas yang tidak akan pernah memacu kreativitas positif siswa.

Dengan dorongan-dorongan ini, guru akan menemukan bahwa siswa mampu memberikan lebih dari yang pernah mereka bayangkan. Siswa-siswa kita akan merangkul gagasan menjadi luar biasa dengan antusiasme, dan meningkatkan standar setiap semester.

Ini semua terserah pada sang guru untuk menyalakan minat siswa dan melihat apa yang terjadi. Seperti yang dikatakan William Butler Yeats, “Pendidikan bukanlah seperti mengisi ember, melainkan seperti api yang menerangkan.”

JOTZ