Beranda Inspirasi Kelas Digital, Guru Digital

Kelas Digital, Guru Digital

119
0

I Kadek Darsika Aryanta – balipost


Dunia tengah memasuki revolusi digital. Jika tidak mengikuti tren ini, guru akan kerepotan berkomunikasi dengan para murid.

SahabatGuru – Di Bali, siapa yang tak mengenal nama Kadek Darsika? Nama lengkapnya: I Kadek Darsika Aryanta. Ia begitu harum, apalagi di kalangan guru di Pulau Dewata. Maklum, guru muda ini pernah beberapa kali diminta Pemerintah Daerah Provinsi Bali untuk memberikan pelatihan mengajar kepada seluruh guru SMA di Bali. Seluruh guru SMA. Makanya di Bali, ia dijuluki “Maha Guru”.

Pak Kadek –begitu Kadek Darsika biasa disapa— menggunakan metode mengajar yang tidak biasa. Dia memanfaatkan kemajuan teknologi dengan menerapkan kelas digital.  

Pak Kadek yang sudah mengajar di SMA Bali Mandara selama 8 tahun ini menemukan sebuah platform Quipper School. Penggunaan metode e-learning di kelas ini mampu membuatnya mengelola kelas secara digital untuk mempermudah proses belajar mengajar. Sejak saat itu banyak rekan-rekannya sesama guru tertarik dan minta diajarkan menggunakan platform tersebut.

Pak Kadek, lulusan Universitas Pendidikan Ganesha, tidak menyangka kesungguhannya mengajar dapat mengantarkannya menjadi inisiator penggunaan teknologi untuk pendidikan di seluruh Bali.

“Ketika kita di kelas, fokus mengerjakan konsep. Bagaimana siswa memahami, menemukan sendiri konsep. Di luar kelas, kita mantapkan dengan memanfaatkan soal dan materi dari layanan tersebut. Pemberian soal dan penyerahan jawaban tidak menyita waktu lagi. Ini juga paperless, ramah lingkungan,” katanya.

Respons siswa pun sangat baik karena proses menjadi lebih efisien. Para siswa dapat menggunakan waktunya untuk hal lain yang memperkaya pengalaman mereka di luar kelas.

Baca Juga :   Agar Generasi Milenial Akrab Dengan Tembang Macapat

Ya, dunia tengah memasuki revolusi digital atau industrialisasi keempat. Penggunaan Internet of Things(IoT), big data, cloud database, blockchain dan lain-lain akan mengubah pola kehidupan manusia.

Kini lebih dari 93 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet dan sekitar 71 juta memiliki telepon pintar (smartphone). Mereka cenderung terhubung dengan media digital. Sebagian adalah orang muda yang senang terhubung (connected) dan berkomunikasi-(communicate), serta menggandrungi perubahan (change).

Sebagian besar adalah generasi baru yang menghadapi pergeseran kebiasaan lama ke tradisi baru yang tidak mudah menduga arahnya. Perkembangan dunia digital begitu dinamis yang lambat laun bukan sekadar mempengaruhi tapi mengubah gaya hidup masyarakat tanpa dapat dihindari oleh siapa pun.

Itulah sebabnya, kini banyak tumbuh pendidikan melalui media digtal. Contohnya, Ruangguru. Sejak didirikan tahun 2014, Ruangguru telah merekrut sekitar 150 ribu guru untuk bergabung dalam platform mereka. Para guru ini adalah mitra kerja Ruangguru sebagai tutor (guru) yang membantu anak memahami materi pelajaran.

Modul bimbingan belajar setiap materi disajikan secara visual dan dapat diunduh pengguna. Murid membayar setiap paket belajar yang dipilihnya, mulai puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Sementara tutor mendapat penghasilan sesuai dengan jumlah pengguna yang mengikuti paket belajarnya.

Contoh layanan yang disediakan Ruangguru, misalnya Ruangguru “On-The-Go”, yaitu aplikasi untuk mempermudah murid menyaksikan video tanpa kuota internet.

Baca Juga :   Pianis Bocah Asal Kendal Ini Siap Pecahkan Rekor Dunia di Berlin

Ruangguru juga memudahkan murid untuk mengakses ribuan video materi, pembahasan dan latihan dari beragam mata pelajaran tiap-tiap tingkatan kelas. Video tersebut didesain dan diproduksi Ruangguru bersama tutor pilihan.

Mereka saat ini mempunyai marketplace untuk guru les yang bernama RuangLes, platform tanya jawab dengan guru secara online bernama RuangLesOnline dan Digital Bootcamp, platform ujian (tryout) online yang disebut RuangUji, hingga kumpulan video dan materi edukasi dalam fitur RuangBelajar.

Dengan berbagai layanan yang mereka miliki, RuangGuru mengaku telah mempunyai enam juta pengguna, dengan siswa SMP dan SMA sebagai pengguna terbanyak.

Cukup Jadi Fasilitator

Ada banyak situs dan aplikasi belajar untuk siswa sekolah. Tak ketinggalan, startup yang menawarkan layanan-layanan spesialis, seperti perusahaan digital Sanggaripa, Sanggarips, Sanggarhitung, Sanggarbaca untuk memberi pengajaran kepada murid. Atau, Lemaripustaka yang menyediakan bacaan bagi murid dan Pondoksantri dan Kitabkuning yang mempromosikan berbagai pelajaran madrasah dan pesantren.

Situs-situs pendidikan digital seperti ini, menurut pendiri sekolahpintar.com Dian Martin, bermanfaat untuk belajar karena ada standarnya, dibanding dengan YouTube yang informasi dan ilmunya bebas tak tersaring.

Meski demikian, kata Dian, pendidikan digital tak bakal menghilangkan kelas konvensional yang mengandalkan kehadiran dan tatap muka. “Saya sendiri tak percaya bahwa pendidikan digital ini akan menghilangkan kelas konvensional tatap muka. Saya lebih percaya kelas hibrid ya, karena tatap muka tetap dibutuhkan untuk memberikan pencerahan,” ujarnya.

Baca Juga :   Keunikan Pianis Asal Kendal Ini Satu-satunya di Dunia

Seperti halnya Dian, Managing Director inibudi.org Wilita Putrinda juga mengatakan kelas tatap muka tetap diperlukan untuk lebih merangsang kegiatan belajar siswa.

“Kelas  tatap muka tetap diperlukan. Di Amerika sana, kelas itu tetap diperlukan untuk berinteraksi, berdiskusi, eksplorasi, percobaan-percobaan. Jadi,  guru nanti menjadi fasilitator dan membuat kegiatan belajar menjadi seru banget, beyond the class begitu,” jelas Wilita.

Pendiri Akademi Berbagi, Ainun Chomsun juga melihat guru di masa depan hanya akan menjadi fasilator, karena perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. 

“Di era digital ini guru jadi fasilitator saja, karena semua materi itu sudah tersedia semua di internet. Seperti anak saya, saya tak pernah ajari lho dia bikin presentasi, dia bisa sendiri, dari internet belajarnya,” tutur Ainun. “Kelas konvensional tidak hilang sama sekali, hanya orang jadi punya banyak pilihan, mau menghadiri kelas tatap muka atau jarak jauh.”

Sekali lagi, dunia tengah memasuki revolusi digital. Jika tidak mengikuti tren ini, guru akan kerepotan berkomunikasi dengan para murid. Apalagi saat ini, pemerintah  memfasilitasi “Gerakan Nasional 1000 Startup Digital”. Tujuannya mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi dalam menyediakan berbagai solusi inovatif.

Maka, tak salah kalau guru saat ini dituntut harus mampu menerapkan kegiatan mengajar di dalam kelas dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dengan begitu, kelas berubah menjadi kelas digital. Dan, guru pun menjadi guru digital.

LS, BAMBANG PRASETYO