Beranda Berita Jumlah Kompetensi Dasar pada Kurikulum Darurat Dikurangi

Jumlah Kompetensi Dasar pada Kurikulum Darurat Dikurangi

43
0
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. (Foto: Instagram/@kemdikbud.ri)


SahabatGuru – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno mengatakan perbedaan antara kurikulum nasional dan kurikulum darurat adalah dikuranginya jumlah kompetensi dasar (KD). Sedangkan jumlah KD yang dikurangi pada kurikulum darurat sebanyak tiga persen hingga 75 persen.

“Perbedaan yang paling menonjol adalah berkurangnya KD pada kurikulum darurat,” kata Totok dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (1/9/2020.

Menurut Totok seperti dikutip antaranews.com meski jumlahnya berkurang, namun jabaran KD pada kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) tersebut memastikan kompetensi yang harus tercapai tetap bisa terpenuhi. Hal itu dikarenakan KD yang dipilih adalah KD yang bersifat prasyarat dan penting.

Baca Juga :   Kemendikbud Buka Kesempatan Fasilitator dan Pendamping Guru Penggerak

“Jabaran KD tersebut dihasilkan dengan mempertahankan KD yang ada sebelumnya dan atau dari hasil pengintegrasian beberapa KD maupun hasil reformulasi KD dengan mempertimbangkan cakupan dan ruang lingkupnya untuk memudahkan pelaksanaan pembelajarannya,” ujar dia.

Sebelumnya, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim meluncurkan kurikulum darurat yang dapat digunakan pada masa krisis atau bencana. Kurikulum darurat tersebut merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Penggunaan kurikulum darurat merupakan salah satu opsi yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk melaksanakan relaksasi dan adaptasi pembelajaran dalam kondisi khusus, seperti saat terjadi bencana.

Baca Juga :   Milenial Jadi Kata Bahasa Indonesia Terpopuler Tahun 2019

Sekolah dapat memilih opsi, apakah tetap menggunakan kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus), atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

Dia menambahkan jika status kondisi khusus dicabut sebelum tahun ajaran selesai, maka pelaksanaan pembelajaran yang merujuk pada kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) tersebut tetap dilanjutkan sampai berakhirnya tahun ajaran.*