Beranda Majalah Guru dan Tentara

Guru dan Tentara

71
0
Seorang tentara mengajar di perbatasan. Guru dan Tentara mengabdi untuk tugas negara. [Yonif Mekanis 741 GN-TDH]

Guru dan Tentara. Dua profesi ini punya tugas negara amat penting. Alinea ke 4 Pembukaan UUD 1945 menyebut tugas negara ada empat, yakni:

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,

2. Memajukan kesejahteraan umum,

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan

4. Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tentara mengemban tugas no 1, sedang Guru no 3.

Ada kisah menarik bagaimana dulu profesi guru sebagai pendidik sangat dihormati tentara. Di barak-barak Komando Pasukan Khusus (Kopassus), kepada para gurulah mereka menitipkan anak-anak saat pergi bertugas atau berperang.

Seorang pensiunan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD kini disebut Kopassus) menceritakan dulu tentara sangat menghormati guru.

Baca Juga :   Mendikbud Siapkan 2,1 Juta Gawai Untuk Pelajar

Saat itu para prajurit baret merah nyaris tak pernah berada di rumah. Mereka harus terus pergi ke medan perang atau menjalani latihan.

Dalam setiap operasi, RPKAD selalu diterjunkan paling dulu. Seperti operasi melawan DI/TII, PRRI/Permesta, Dwikora hingga penumpasan G30S-PKI.

“Pada guru kami titip anak-anak kami. Pak Guru, mohon dibimbing, diajari sopan santun dan tata krama. Bapaknya harus pergi perang, jarang di rumah,” kata pensiunan itu.

Jika guru memukul anak, orang tua nyaris tak pernah komplain. Mereka sadar itu bagian dari proses pendidikan. Apalagi anak tentara yang terkenal dengan sebutan “anak kolong” memang dikenal nakal dan berani.

Biasanya tentara mengajarkan anak-anaknya untuk menghormati guru. Dulu anak-anak tentara dititipkan pada guru karena bapaknya pergi bertempur.

Baca Juga :   Sekolah di Daerah Terdepan, Terpencil Dapat Bantuan Laptop

Mengadu pada orang tua gara-gara dihukum guru, bukannya akan dapat pembelaan dari orang tuanya. Malah bisa-bisa pulang dipukul dengan kopelrim alias sabuk tentara. Pengalaman seperti itu biasa dirasakan anak tentara.

Kini banyak tentara yang membantu guru. Mereka membantu mengajar anak-anak di daerah-daerah pelosok, di wilayah perbatasan negara, di daerah tertinggal, terdepan dan terluar Indonesia, yang sangat jarang ada guru bertugas.

Guru dan Tentara berada dalam satu tarikan napas dalam pengabdian buat bangsa dan negara.

JOTZ