Beranda Berita Mendikbud: Merdeka Belajar Jadi Teriakan Revolusi di Tanah Air

Mendikbud: Merdeka Belajar Jadi Teriakan Revolusi di Tanah Air

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengatakan Merdeka Belajar merupakan esensi dari filosofi Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Ini menjadi tantangan tidak mudah untuk mewujudkannya karena situasi pandemi Covid-19.

66
0
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mndikbud) Nadiem Anwar Makarim. (Foto: kemdikbud.go.id)

SahabatGuru – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan Merdeka Belajar menjadi suatu teriakan revolusi dari Sabang sampai Merauke untuk pendidikan Indonesia yang makin berkualitas. Mendikbud menuturkan bila Merdeka Belajar merupakan esensi dari filosofi pengajaran Ki Hadjar Dewantara.  

“Kita ingin esensi dan cepat dari filosofi Ki Hadjar Dewantara itu diterapkan dan dimiliki bersama. Bukan hanya pada unit-unit pendidikan dari Sabang sampai Merauke, tapi dari masyarakat,” kata Mendikbud Nadiem dalam diskusi virtual di Jakarta seperti dikutip antaranews.com.

“Semua orang tua mengerti esensi dari apa yang dimaksudkan Ki Hadjar Dewantara mengenai Merdeka Belajar,” ujar Mendikbud melanjutkan.

Kemerdekaan itu adalah esensi dari merdeka belajar dan karena itu harus kita gaungkan filosofi ini dari Sabang sampai Merauke

Namun Mendikbud juga mengakui bila tantangan mewujudkan Merdeka Belajar memang tidak mudah. Terutama di tengah pandemi Covid-19 saat ini yang memang sulit dan menjadi suatu tantangan yang luar biasa.

Baca Juga :   Reformasi Pendidikan Melalui Merdeka Belajar Butuh Guru Berkualitas

Meski demikian berbagai upaya dilakukan pemerintah agar pendidikan tetap berjalan optimal meski harus dalam pembelajaran jarak jauh. Termasuk di antaranya terkait saluran penyiaran untuk mendukung kegiatan pendidikan dalam jaringan maupun kurikulum darurat. Bahkan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ‘dimerdekakan’ agar bisa digunakan untuk pulsa belajar siswa dan membeli alat untuk pendidikan jarak jauh, serta untuk persiapan protokol kesehatan.

“Dengan modul kurikulum yang telah kita buat, ini bisa menjadi suatu kemerdekaan bagi orang tua yang sekarang. Apalagi bagi mereka yang memiliki anak SD bisa mengimplementasikan berbagai macam modul di dalam rumahnya sendiri,” kata Nadiem lagi.

Mendikbud mengatakan kemerdekaan dapat dimaknai saat melakukan debirokratisasi di sistem pendidikan dan perguruan tinggi. Dengan adanya debirokratisasi maka memberikan kebebasan pada perguruan tinggi memilih spesialisasi yang diinginkan, saat membiarkan mahasiswa memanfaatkan satu tahun dari periode belajar reguler empat tahun untuk keluar dari kampus guna mencari pengalaman di dunia industri, di dunia nonprofit, serta melakukan program pertukaran ke tempat lain.

Baca Juga :   Ternyata, Gaji P3K Dipastikan Sama Dengan PNS

Kemerdekaan juga berarti saat memberikan berbagai macam fleksibilitas di kurikulum, sehingga anak-anak yang ketertinggalan masih bisa mengikuti kurikulum sesuai dengan kompetensi levelnya masing-masing.

Menurut Mendikbud yang terpenting adalah kemerdekaan pemikiran agar anak-anak bangsa bisa berpikir secara merdeka. Mereka tidak terjajah oleh pemikiran sempit, hoaks dan opini-opini yang tidak bertanggung jawab.

“Kemerdekaan itu adalah esensi dari merdeka belajar dan karena itu harus kita gaungkan filosofi ini dari Sabang sampai Merauke,” tuturnya.

Mendikbud Nadiem menuturkan saat ini memang belum bisa dikatakan sudah ‘merdeka belajar’. Ini menjadikan Merdeka Belajar digaungkan untuk memerdekakan otak anak-anak penerus bangsa, memerdekakan kesempatan ekonomi mereka pada saat mereka sudah keluar dari sekolah dan masuk ke dunia pekerjaan, memerdekakan guru untuk bisa menentukan apa yang terbaik bagi level kompetensi dan minat dari anak-anaknya, serta memerdekakan institusi-institusi pendidikan untuk berinovasi dan mencoba hal-hal yang baru. *

Baca Juga :   Pemerintah Berikan Tunjangan Khusus bagi Guru Terdampak Bencana