Beranda Berita Pusing Internet Lemot, Guru di Klaten Mengajar Pakai WA

Pusing Internet Lemot, Guru di Klaten Mengajar Pakai WA

49
0
Sistem pembelajaran jarak jauh membutuhkan jaringan internet yang bagus, gawai dan kuota siswa. Bila sulit dipenuhi bisa memakai WA. (Foto: Sahabat Guru)

SahabatGuru Siswa belajar secara daring menjadi solusi di tengah pandemi Covid-19. Terutama bila sekolah di daerah yang masuk kategori kuning, merah dan bahkan hitam sudah tidak bisa menyelenggarakan proses belajar mengajar secara tatap muka atau offline.

Namun bagaimana bila siswa kesulitan dengan pembelajaran secara daring? Mereka juga rentan kehilangan semangat belajar. Selain itu siswa mengalami kesulitan menerima penjelasan dari guru saat belajar jarak jauh.

Selain itu, kemampuan teknologi dan ekonomi setiap siswa berbeda-beda. Tidak semua siswa memiliki fasilitas yang menunjang kegiatan belajar jarak jauh. Koneksi lemot, gawai yang kurang mumpuni dan kuota internet yang mahal menjadi hambatan nyata bagi para siswa.

Koneksi internet yang lemot, gawai dan kuota internet bisa menjadi hambatan, terutama bagi siswa kurang mampu. Kuncinya guru harus kreatif agar proses belajar mengajar tetap bisa dilaksanakan

Menurut Muhammad Abdul Basir, guru SMAN I Cawas, Klaten, sistem pembelajaran daring juga diterapkan di sekolahnya. Namun dia mengakui bila proses belajar dari rumah rentan membuat murid kehilangan semangat belajar. Tidak adanya patokan waktu hingga guru yang tak hadir untuk mengajar bisa menjadi sejumlah alasan siswa untuk malas belajar. Bagi tenaga pengajar sistem pembelajaran daring hanya efektif untuk penugasan. Guru mengakui tak mudah membuat siswa memahami materi cara daring.

Baca Juga :   Kemendikbud Optimistis Kepala Sekolah Gunakan Dana BOS dengan Bijak

Namun pembelajaran harus terus berlanjut. Setiap sekolah memiliki kebijakan masing-masing dalam menyikapi aturan ini seperti yang dilakukan SMAN 1 Cawas yang  menggunakan beberapa aplikasi yang dapat membantu proses pembelajaran daring sejak April. Sekolah memakai aplikasi Google Class Room  dan aplikasi Jaga Ratu.

Hanya Abdul Basir menilai aplikasi tersebut tidak bisa diandalkan bahkan sama sekali tidak efektif untuk mata pelajaran yang diampunya. Sedangkan untuk aplikasi lain terkendala dengan keterbatasan kemampuan guru yang sudah berusia lanjut. Selain itu masalah ekonomi setiap siswa yang berbeda tentunya juga turut mempengaruhi.

“Kalau berbicara efektivitas, memang berbeda jauh dengan KBM secara langsung, karena materi yang disampaikan belum tentu bisa dipahami semua siswa,” kata Abdul Basir di Klaten, beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   Covid-19, Dana BOS dan BOP PAUD untuk Beli Pulsa dan Masker

“Apalagi mata pelajaran kimia, fisika dan matematika yang memerlukan usaha ekstra untuk menjelaskan. Belum lagi adanya keterbatasan untuk tanya jawab. Ini menjadi tantangan bagi setiap guru,” ujarnya lebih lanjut.  

Kemampuan Teknologi Pengaruhi Pembelajaran Jarak Jauh

Kemampuan teknologi juga mempengaruhi sistem pembelajaran jarak jauh. Koneksi lemot, gawai yang kurang mumpuni dan kuota internet menjadi hambatan meski sudah disediakan anggaran yang diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu sebagai subsidi kuota belajar. Namun tetap saja ini menjadi hambatan karena cukup memberatkan bagi siswa.

“Koneksi internet yang lemot, gawai dan kuota internet bisa menjadi hambatan, terutama bagi siswa kurang mampu. Kuncinya guru harus kreatif agar proses belajar mengajar tetap bisa dilaksanakan,” kata Abdul Basir.

Kunci efektivitas dari sistem pembelajaran daring adalah bagaimana seorang guru tetap kreatif menyajikan materi secara menyenangkan dan mudah dimengerti serta tidak membebani. Abdul Basir pun memilih Whatsapp (WA) yang merupakan standar minimal sebagai media pembelajaran daring yang paling efektif saat ini.

Baca Juga :   Belajar Secara Daring? Tidak Masalah Bagi Anak Indonesia

“Aplikasi Whatsapp merupakan standar minimal. Lebih mudah dioperasikan dan hemat biaya,” ujarnya.

Selain mudah dioperasikan, lebih hemat biaya kuota internet dan dia bisa mengontrol siswa melalui grup kelas yang sudah dibentuk. Tak jarang pula Abdul Basir melakukan video call dengan siswa secara acak hanya untuk menjelaskan ulang materi yang kurang dipahami oleh mereka. Dia juga membimbing siswa untuk mengerjakan soal atau bahkan sekadar menanyakan apakah siswa sudah siap untuk mulai belajar.

Sistem pembelajaran daring menggunakan WA bisa dikatakan berhasil. Hal ini dapat dilihat dari antusias setiap siswa yang selalu aktif di grup baik untuk bertanya, berdiskusi ataupun menjawab soal-soal yang kerap diberikan setelah proses penyampaian materi berlangsung. Nilai pra-test siswa justru meningkat dibandingkan dengan saat menggunakan aplikasi Google Class Room dan aplikasi Jaga Ratu. Respons dari siswa yang menyukai sistem belajar melalui aplikasi Whatsapp membuat Abdul Basir semakin yakin tetap mempertahankannya sampai ia benar-benar menemukan aplikasi lain yang lebih efektif untuk proses belajar mengajar. *