Beranda Berita Kemendikbud Prioritaskan Persiapan Pendidikan Jarak Jauh

Kemendikbud Prioritaskan Persiapan Pendidikan Jarak Jauh

40
0
Pendidikan Jarak Jauh menjadi prioritas utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk tahun ajaran baru 2020/2021. (Foto: antaranews.com)

SahabatGuru – Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) kembali dilaksanakan di tahun ajaran baru 2020/2021. Pandemi Covid-19 menjadikan tak sedikit daerah atau kota yang terdampak dan berada di zona kuning atau merah. Bagi siswa sekolah yang bertempat tinggal di zona tersebut, pendidikan daring atau sistem jarak jauh tetap diberlakukan. Sekolah secara tatap muka atau offline tetap ditiadakan.

Sebaliknya, daerah yang termasuk zona hijau masih bisa menyelenggarakan pendidikan secara tatap muka guru dan siswa. Namun pembukaan sekolah pun tetap dilakukan secara ketat karena pandemi itu memang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir atau minimal mengalami penurunan.

Dengan situasi seperti itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadikan Pendidikan Jarak Jauh sebagai prioritas utama. Kementerian juga melakukan perbaikan karena banyak kendala yang dihadapi selama pendidikan secara daring itu.

Baca Juga :   Dinas Pendidikan Harus Sesuaikan Penerimaan Peserta Didik Baru

Penyesuaian kompetensi dasar itu dilakukan agar pembelajaran di rumah tidak terlalu berat. Misalnya untuk kelas tiga SD, terdapat 26 kompetensi dasar, namun kita integrasikan dan pilih yang penting dan jadi 16 kompetensi dasar

“Persiapan PJJ untuk tahun ajaran baru menjadi prioritas utama,” ujar Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad di Jakarta seperti dikutip antaranews.com, Jumat (26/6/2020).

Menurut Hamid dari evaluasi yang dilakukan selama tiga bulan terakhir ada sejumlah kendala. Mulai dari kendala infrastruktur seperti jaringan internet, kuota internet dan kepemilikan gawai. Kendala lainnya kecakapan guru dalam melakukan PJJ.

“Kami sudah respons kendala seperti ketersediaan kuota internet tersebut, dengan pelonggaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pekan lalu, Mas Menteri (Mendikbud Nadiem Anwar Makarim) sudah mengumumkan mengenai relaksasi dana BOS Afirmasi dan Kinerja untuk sekolah yang berada di daerah terdampak Covid-19,” kata Hamid menjelaskan.

Baca Juga :   Simulasi Lancar, DIY Siap Laksanakan UNBK 2019

Sedangkan untuk kendala jaringan internet, Kemendikbud telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pasalnya masih ada daerah yang tidak terjangkau jaringan internet sehingga ini menjadi problem masih siswa saat mengikuti pelajaran secara daring. Untuk itu perlu penyediaan jaringan internet di daerah seperti itu.

Kemendikbud juga menyelenggarakan pelatihan bagi para guru, agar memiliki kecakapan dalam melakukan PJJ. Dari hasil evaluasi Kemendikbud, sebanyak 60 persen guru yang tidak memiliki kendala infrastruktur belum mempunyai kecakapan yang optimal untuk mengintegrasikan PJJ dengan perangkat digital.

“Selama beberapa bulan terakhir, kami melakukan pelatihan tidak hanya guru tapi juga pemerintah daerahnya,” kata Hamid.

Untuk kurikulum selama masa pandemi Covid-19, Kemendikbud melakukan dua hal yakni penyesuaian kompetensi dasar dan penyiapan modul. Hasil evaluasi Kemendikbud diketahui bahwa hanya 20 persen guru yang melakukan adaptasi kurikulum.

Baca Juga :   Kemendikbud Luncurkan Portal Guru Berbagi

“Penyesuaian kompetensi dasar itu dilakukan agar pembelajaran di rumah tidak terlalu berat. Misalnya untuk kelas tiga SD, terdapat 26 kompetensi dasar, namun kita integrasikan dan pilih yang penting dan jadi 16 kompetensi dasar,” tuturnya.

Selanjutnya untuk penyiapan modul, Kemendikbud menyiapkan modul pembelajaran yang bisa dipakai siswa untuk belajar secara mandiri di rumah. Modul tersebut lebih ringkas dan mudah dipahami oleh siswa. Untuk mendampingi modul tersebut, Kemendikbud juga menyiapkan video pembelajaran yang bisa ditonton siswa selama pembelajaran dari rumah.*