Beranda Berita Psikolog: Kapan Anak Siap Kembali ke Sekolah

Psikolog: Kapan Anak Siap Kembali ke Sekolah

45
0
Psikolog Yunilia Juhana menyarankan orang tua atau wali murid harus mempersiapkan anaknya dengan baik saat kembali ke sekolah di tenhgah pandemi Covid-19. (Foto; istimewa)

SahabatGuru – Pemerintah telah memutuskan membuka sekolah yang berada di zona hijau atau yang bebas dari Covid-19. Setidaknya sudah ada 92 kabupaten/kota yang berada di zona hijau.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengizinkan sekolah melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap mata langsung pada saat tahun ajaran baru 2020-2021 dimulai pada, 13 Juli mendatang. Keputusan ini disampaikan Nadiem dengan sejumlah syarat yang harus dilakukan sekolah dan daerah.

Menurut psikolog Yunilia Juhana orang tua atau wali murid sebaiknya tidak terburu-buru memasukkan anaknya kembali ke sekolah. Setidaknya ada sejumlah aspek yang harus menjadi perhatian sebelum memutuskan putra-putrinya kembali ke sekolah. Terutama di masa pandemi Covid-19 dan adanya new normal atau kenormalan baru sehingga suasana berbeda dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga :   Bupati Aceh Timur Siapkan Guest House dan Asrama untuk Karantina Covid-19

Apakah sekolah menyediakan tempat cuci tangan atau hand sanitizer, pakai masker, penyemprotan disinfektan, dan menerapkan physical distancing termasuk para tenaga pengajarnya

Psikolog Yunilia menuturkan orang tua harus menyiapkan mindset atau pola pikir agar anak bisa merasa senang atau happy saat kembali ke sekolah. Orang tua harus bisa memastikan jiwa anak tidak dalam kondisi labil atau tertekan agar sistem kekebalan tubuhnya tak terganggu.

“Jika si anak merasa jiwanya tertekan atau tak merasa happy, saya khawatir akan berdampak terhadap sistem imunnya,” kata perempuan yang biasa disapa Yuni ini kepada SahabatGuru, Selasa (23/6/2020).

Aspek lainnya, orang tua harus memastikan sekolah atau fasilitas tempat belajar si anak telah menjalankan protokol kesehatan seperti tersedianya tempat cuci tangan atau hand sanitizer. Mereka yang berada di lingkungan sekolah harus memakai masker, menerapkan jaga jarak atau physical distancing dan penyemprotan dengan disinfektan.

Baca Juga :   Darurat Bencana, Nadiem Minta Pemda Prioritas Peserta Didik

“Di sini orang tua harus memastikan sekolah si anak itu belajar, apakah protokol kesehatan di tempat itu sudah disiapkan dengan baik. Apakah sekolah menyediakan tempat cuci tangan atau hand sanitizer, pakai masker, penyemprotan disinfektan, dan menerapkan physical distancing termasuk para tenaga pengajarnya,” ujar Yuni menerangkan.

Orang tua juga harus mempertimbangkan kondisi kesehatan si anak. Jika anaknya sering sakit-sakitan atau dalam kondisi tidak fit, alangkah lebih bijak orang tua tak mengizinkan anaknya belajar di sekolah. Karena ini akan berisiko anak tertular Virus Covid-19.

“Jika si anak sering sakit-sakitan atau orang tua merasa ragu melihat perilaku dan kondisi si anak, lebih baik anak itu tak perlu keluar rumah atau mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah,” ujar lulusan Universitas Indonesia ini.

Baca Juga :   Presiden: Pembangunan SDM Perlu Sistem Pendidikan yang Adaptif

Yuni menyarankan agar anak kembali ke sekolah antara bulan September-Oktober atau setelah kondisi sudah benar-benar stabil. Ia juga berharap kepada pihak sekolah memberikan kelonggaran sampai mereka benar-benar yakin kembali ke sekolah. (Irrm) *