Beranda Berita Mendikbud: Sekolah di Zona Hijau Dibuka Tetapi Bisa Ditutup Lagi

Mendikbud: Sekolah di Zona Hijau Dibuka Tetapi Bisa Ditutup Lagi

58
0
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mndikbud) Nadiem Anwar Makarim. (Foto: kemdikbud.go.id)

SahabatGuru – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan sekolah di zona hijau boleh dibuka pada tahun ajaran baru 2020/2021 pada Juli mendatang. Namun sekolah di zona tersebut hanya boleh dilaksanakan berdasarkan pertimbangan kemampuan peserta didik dalam menerapkan protokol kesehatan.

Pasalnya kesehatan dan keselamatan mereka yang berada di lingkungan sekolah tetap menjadi perhatian utama di tengah pandemi Covid-19.

“Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat,” kata Mendikbud Nadiem saat mengumumkan rencana penyusunan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) secara virtual melalui webinar, Senin (15/6/2020).

Begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali

Mendikbud, dalam keterangan tertulis, menyampaikan rencana itu bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 bersama sejumlah kementerian terkait. Di antaranya, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Komisi X DPR RI.

Baca Juga :   Bupati Aceh Timur Siapkan Guest House dan Asrama untuk Karantina Covid-19

Dalam panduan pembelajaran tatap muka pada zona hijau, urutan pertama yang diperbolehkan pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas dan sederajat. Selanjutnya tahap kedua pendidikan tingkat menengah dan sederajat, lalu tahap ketiga tingkat dasar dan sederajat. Itupun harus dilakukan sesuai dengan tahapan waktu yang telah ditentukan.

Sekolah dengan Tatap Buka Harus Terapkan Protokol

Dibukanya sekolah dengan tatap muka memperhatikan sepenuhnya bagaimana menerapkan protokol. Bila ada status risiko di daerah tersebut naik menjadi zona kuning atau oranye dan bahkan merah, maka sekolah harus ditutup.

“Begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali,” kata Mendikbud.

Meski sekolah bisa dibuka di zona hijau, namun bukan berarti semua kembali normal. Sekolah tetap memasuki new normal atau normalitas baru seperti sekolah berasrama dilarang membuka asrama selama masa transisi.

Sekolah dan madrasah berasrama harus melaksanakan Belajar dari Rumah serta dilarang membuka asrama dan pembelajaran tatap muka selama masa transisi (dua bulan pertama). Pembukaan asrama dan pembelajaran tatap muka dilakukan secara bertahap pada masa kebiasaan baru dengan mengikuti ketentuan pengisian kapasitas asrama.

Baca Juga :   Nadiem: Saatnya Mengerti dan Tidak Sekadar Hafal Pancasila

Selanjutnya untuk satuan pendidikan di zona hijau, kepala satuan pendidikan wajib melakukan pengisian daftar periksa kesiapan sesuai protokol kesehatan Kementerian Kesehatan. Kemendikbud akan menerbitkan berbagai materi panduan seperti program khusus di TVRI, infografik, poster, buku saku, dan materi lain mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan pada fase pembelajaran tatap muka di zona hijau.

Di luar Zona Hijau Tetap Belajar dari Rumah

Nadiem mengatakan bila tahun ajaran baru 2020/2021 tetap dimulai pada Juli 2020. Untuk sekolah di daerah yang termasuk zona kuning, oranye dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Hal itu berdasarkan surat keputusan bersama sejumlah kementerian. Satuan pendidikan pada zona tersebut tetap melanjutkan pembelajaran dari rumah.

“Untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan Belajar dari Rumah,” kata Mendikbud

Terkait jumlah peserta didik, hingga 15 Juni 2020, terdapat 94 persen peserta didik yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dalam 429 kabupaten/kota sehingga mereka harus tetap Belajar dari Rumah. Adapun peserta didik yang saat ini berada di zona hijau hanya berkisar 6 persen.

Baca Juga :   Selamat, Pakde Karwo Raih Doktor HC Pendidikan Vokasi Kerakyatan

Nadiem menegaskan, proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten/kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis. Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.

Persyaratan kedua, adalah jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin. Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Keempat, orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

“Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik melanjutkan Belajar dari Rumah secara penuh,” kata Nadiem menegaskan.

Nadiem juga mengajak semua pihak termasuk seluruh kepala daerah, kepala satuan pendidikan, orang tua, guru, dan masyarakat bergotong-royong mempersiapkan pembelajaran di tahun ajaran dan tahun akademik baru.

“Dengan semangat gotong-royong di semua lini, saya yakin kita pasti mampu melewati semua tantangan ini,” kata Mendikbud.*