Beranda Berita Surat Inspiratif Guru dan Siswa, Merajut Hikmah di Balik Pandemi

Surat Inspiratif Guru dan Siswa, Merajut Hikmah di Balik Pandemi

54
0
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim membacakan surat paling inspiratif melalui kanal Youtube Kemendikbud di Jakarta, Selasa (26/5/2020). (Foto: kemdikbud.go.id)

SahabatGuru – Lomba menulis surat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim di masa pandemi Covid-19 diikuti ribuan siswa dan guru. Dari 6.689 surat yang dikirim selama lomba yang digelar pada 11 sampai 17 Mei 2020 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter (PPK) ini ada lima surat paling menginspirasi. Surat itu dua yang dikirim guru dan tiga dari siswa.

Lomba menulis surat itu bertemakan ‘Hikmah Hari Kemenangan di Masa Pandemi, Surat untuk Mas Menteri Nadiem Makarim’. Dari ribuan surat yang masuk, ada tiga hal yang tersirat, jujur, tulus, dan bermakna. Mendikbud menuturkan begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari masa krisis Covid-19.

“Jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal dan hikmah. Kesulitan adalah akar pembelajaran yang penting,” ucap Mendikbud ketika mengomentari surat paling inspiratif melalui kanal Youtube Kemendikbud di Jakarta, Selasa (26/5/2020).

Jaringan internet dan siaran televisi di wilayah kami sulit dijangkau. Selain itu, orang tua siswa kebanyakan tidak memiliki HP android sehingga saya rutin mengunjungi siswa secara bergiliran

Melalui acara ‘Cerita Inspiratif Guru dan Murid bersama Mendikbud Nadiem Makarim’, Mas Menteri mengatakan rasa bangga kepada seluruh guru dan tenaga pendidik. Mereka tetap bersemangat menjalankan roda pendidikan di tengah pandemi.  

Baca Juga :   APKASI Sumbang 1.000 APD ke 10 Kabupaten Terdampak Covid-19

“Ini adalah saat pembelajaran bagi kita semua,” ujar Nadiem yang juga membacakan lima surat paling inspiratif itu.

Surat paling inspiratif kategori guru ditulis Santi Kusuma Dewi dari SMP Islam Baitul Izzah, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dan Maria Yosephina Morukh dari SD Kristen Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan surat paling inspiratif dari siswa ditulis Rivaldi R. Yampata, siswa SD 016 Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Atrice G. Napitupulu, siswa SD YPPK Gembala Baik, Jayapura, Papua dan Alfiatus Sholehah, siswa SDN Pademawu Barat 1, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Kelima surat paling inspiratif tersebut berdasarkan penilaian dari tim yang terdiri dari perwakilan unit utama di bawah Kemendikbud yaitu Badan Bahasa, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Pusat Penguatan Karakter serta Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah. Aspek yang menjadi penilaian panitia terdiri dari kesesuaian dengan tema, bahasa, kreativitas dan mengandung unsur penguatan karakter gotong royong, serta toleransi.

Baca Juga :   Bupati Rocky: Paket Sembako Harus Disalurkan Tepat Sasaran

Tak Menyangka Surat Dibacakan Mas Menteri

Guru yang suratnya terpilih merasa senang dan tidak menyangka apa yang ditulis dibacakan oleh Mas Menteri. Tak hanya itu, mereka dapat berbincang langsung menteri.  

“Saya senang karena bisa bicara langsung dengan Mas Menteri,” ujar Maria.

Ia bercerita tentang kondisi wilayah yang berada di pedalaman dan sarana pembelajaran yang minim. Hal itu menjadikan dia harus melakukan kunjungan ke rumah-rumah agar para siswa tetap mendapatkan pembelajaran.

“Jaringan internet dan siaran televisi di wilayah kami sulit dijangkau. Selain itu, orang tua siswa kebanyakan tidak memiliki HP android sehingga saya rutin mengunjungi siswa secara bergiliran,” tutur Maria yang menggunakan motor untuk berkunjung ke rumah siswanya

“Setiap hari saya mengunjungi lima rumah, anak-anak saya beri tugas. Mereka tetap bersemangat menjalankan tugas dari saya. Sambil berkunjung, saya ingatkan anak-anak untuk menjaga kebersihan cuci tangan dan memakai masker jika hendak keluar rumah,” kata dia melanjutkan.

Maria berharap pemerintah memberikan perhatian kepada sekolah tempat dia mengajar agar kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. “Di masa sekarang ini, orang tua berupaya mendukung pembelajaran. Namun karena keterbatasan ekonomi, orang tua tidak punya HP android sehingga susah dalam komunikasi. Mohon perhatikan sekolah saya, fasilitasnya agar diperhatikan,” ujar Maria berharap.

Baca Juga :   TP PKK Serentak Bagikan Masker di Aceh Timur

Kondisi lebih bajik dirasakan guru Santi yang mengajar Bahasa Inggris. Menurut dia wilayah dan fasilitas pembelajaran lebih mudah diakses, namun tantangan justru datang dari budaya pembelajaran.

“Biasanya guru mengajar hanya berpedoman pada buku pegangan guru. Kini kami ‘dipaksa’ belajar memanfaatkan teknologi untuk melakukan pembelajaran secara dalam jaringan (daring),” kata Santi.

Santi mengaku senang dengan kebijakan Merdeka Belajar Kemendikbud. Ia mendukung perubahan di dunia pendidikan dalam menciptakan metode pembelajaran yang menarik untuk memotivasi siswa belajar.

“Kini banyak guru mulai belajar tentang beberapa platform pembelajaran. Padahal biasanya mereka hanya berpegang pada buku pegangan guru. Saya dulu dianggap aneh di sekolah karena mengajarkan siswa-siswa bermain coding. Padahal saya guru bahasa Inggris atau mengajak mereka keliling dunia dengan Google Earth,” tuturnya.

Lebih lanjut, Santi berharap kulitas tenaga pendidik, pengembangan teknologi dan penguasaan bahasa asing terutama Bahasa Inggris terus ditingkatkan. Menurut dia  hal ini menjadi modal yang harus dihadapi siswa dalam menghadapi perkembangan zaman.*