Beranda Berita Dunia Kerja Berubah Cepat, Tantangan Bagi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa

Dunia Kerja Berubah Cepat, Tantangan Bagi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa

33
0
Dunia kerja sudah berubah cepat akibat transformasi dunia. Ini menjadi tantangan mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi dan memasuki dunia kerja. (foto: istimewa)

SahabatGuru – Dunia kerja sudah berubah cepat akibat transformasi dunia. Banyak pekerjaan yang hilang tetapi tak sedikit pula pekerjaan yang baru lahir. Dalam revolusi industri keempat atau revolusi 4.0, manusia kian tak terpisahkan dengan teknologi.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Profesor Nizam mengatakan dunia kerja terdisrupsi dengan cepat. Ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dan mahasiswa saat mereka lulus yang kemudian memasuki dunia kerja.

“Dampak dari transformasi yang sangat cepat ini dunia kerja terdisrupsi dengan sangat signifikan. Banyak lapangan kerja yang hilang dan baru lahir. Dalam Revolusi Industri keempat ini setiap manusia itu dimungkinkan atau diberdayakan oleh teknologi,” ujar Nizam dalam keterangan tertulis seperti dikutip antaranews.com di Jakarta, Selasa (19/5/2020).

Baca Juga :   Guru Honorer Cianjur Desak Kuota P3K Ditambah, Ini Alasannya

Hal ini pula yang mendasari lahirnya kebijakan Kampus Merdeka, agar sesuai dengan era 4.0 dan mahasiswanya lahir sebagai insan yang sesuai zaman

Menurut dia teknologi yang maju menjadikan akses pengetahuan bertambah. Manusia pun bisa berkomunikasi secara global. Namun yang harus diantisipasi pula mesin cerdas bisa jadi menggantikan peran manusia.

“Bagaimana kita mendidik dan menyiapkan mahasiswa ketika mereka nanti lulus dan menjadi tantangan berat bagi perguruan tinggi karena harus sesuai dengan tantangan zaman,” kata Nizam.

“Hal ini pula yang mendasari lahirnya kebijakan Kampus Merdeka, agar sesuai dengan era 4.0 dan mahasiswanya lahir sebagai insan yang sesuai zaman,” ucapnya.

Nizam menuturkan untuk bidang pendidikan sendiri oleh pemerintah dituangkan dalam RPJMN pada tahun 2020-2024. Ini mencakup antara lain pengembangan anak usia dini, mengatasi kesenjangan pendidikan antara kota dan desa yang masih sangat lebar, sarana dan prasarana pendidikan, kualitas serta pengelolaan guru.

Baca Juga :   Ingin Lihat Permendikbud No 51 Soal PPDB, Bisa Buka Tautannya

Perguruan Tinggi Merupakan Mata Air

Dalam kesempatan itu, Nizam memaparkan bagaimana peran perguruan tinggi sebagai mata air, pusat untuk memproduksi ilmuwan teknologi dan inovasi. Perguruan tinggi harus melakukan kerja sama antara industri, serta meningkatkan kualitas lulusannya agar menjadi generasi unggul dan relevan dengan kebutuhan.

Arah kebijakan dan strategi, kata dia, untuk menguatkan pendidikan tinggi berkualitas adalah dengan penguatan kelembagaan perguruan tinggi, perwujudan diferensiasi misi, perguruan tinggi sebagai produsen iptek inovasi dan pusat keunggulan, serta kerja sama antara perguruan tinggi, industri dan pemerintah.

“Inti dasar capaian pendidikan yaitu akhlak mulia, visi iptek, Merdeka Belajar dengan spiritualitas nilai-nilai kehidupan dan pengetahuan serta keterampilan, sikap mental dan etika profesi,” kata Nizam.

Baca Juga :   Ditingkatkan, Transparansi Penggunaan Dana BOS

Terkait dengan Merdeka Belajar dan Bela Negara, Nizam mengatakan hal tersebut dapat terintegrasi dalam kurikulum dan melalui kegiatan kemanusiaan seperti melalui membangun desa atau sukarelawan.

Nizam juga menyampaikan Indonesia akan menyongsong bonus demografi. Bonus demografi jika dimanfaatkan dengan baik akan membawa kemajuan dan kebangkitan suatu bangsa dengan contoh Jepang yang tumbuh menjadi kekuatan ekonomi Asia pada tahun 70-an seiring dengan proses demografi yang terjadi di negara itu. Demikian pula Korea Selatan dan China pada tahun 1990-an.*