Beranda Berita Pandemi Covid-19, Guru Masih Fokus Ketercapaian Kurikulum

Pandemi Covid-19, Guru Masih Fokus Ketercapaian Kurikulum

102
0
Generasi muda Indonesia merupakan generasi yang ulet dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan seperti Covid-19. (Foto: antaralampung.com)

SahabatGuru – Guru masih fokus pada ketercapaian kurikulum pada pembelajaran daring saat pandemi Covid-19. Padahal selama pandemi, proses belajar dan mengajar tak lagi dilakukan secara offline tetapi online. Ini berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).

Dari survei itu menunjukkan bila guru masih menyamakan pembelajaran seperti kondisi normal. Guru seperti berkewajiban menuntaskan pembelajaran meski dilaksanakan secara daring

“Hal ini bertentangan dengan Surat Edaran Mendikbud 4/2020 tentang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Bahwa pembelajaran yang dilakukan tidak harus tuntas,” ujar Wakil Sekjen FSGI, Satriwan Salim dalam konferensi pers daring seperti dikutip antaranews.com di Jakarta, Selasa.

Baca Juga :   Apresiasi Anggaran Pendidikan Riau, Ini Penjelasan Mendikbud

Hanya 19,1 persen responden yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi daring. Selebihnya lebih banyak menggunakan media sosial. Hal itu, membuat PJJ menjadi model pembelajaran yang tidak menarik bagi siswa

Menurut Satriawan kondisi saat ini tidak dalam situasi normal. Karena adanya pandemi, fleksibilitas dan kelonggaran kurikulum adalah kunci agar anak dan guru tetap ‘Merdeka dalam Belajar’. Guru pun hendaknya tidak menyamakan pembelajaran seperti kondisi normal.

Fenomena tersebut bisa terjadi, kata Satriawan, karena disebabkan dua hal, yakni informasi SE Mendikbud tidak sampai atau tidak dipahami dengan baik oleh Dinas Pendidikan di daerah. Selain itu faktor psikologis guru yang tetap ingin ‘bersikap’ ideal dalam menuntaskan kurikulum.

“Ada perasaan yang mengganjal pada pikiran, jika pembelajaran tak tuntas. Jadi lebih pada faktor subyekivitas guru. Mereka merasa tak sempurna jika kompetensi dasar tidak tercapai,” kata Satriwan.

Baca Juga :   Khawatir Sekolah Jadi Klaster Covid-19, Ini Penjelasan Kemendikbud

Ini menjadikan guru lebih menekankan dan berorientasi pada kegiatan penilaian atau aspek standar penilaian pada pelaksanaan PJJ atau 77,6 persen. Guru tak menekankan pada kegiatan pembelajaran bermakna. Menurut dia, hal itu terpaksa dilakukan guru akibat kurangnya penguasaan terhadap aplikasi pembelajaran daring.

“Hanya 19,1 persen responden yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi daring. Selebihnya lebih banyak menggunakan media sosial. Hal itu, membuat PJJ menjadi model pembelajaran yang tidak menarik bagi siswa,” ujarnya.

Secara umum penerapan PJJ berjalan dengan baik meski menghadapi banyak kendala. Kendala tersebut di antaranya kemampuan guru dalam mengelola PJJ, metode pembelajaran yang digunakan, keterbatasan kepemilikan media gawai pintar, dan keterbatasan akses terhadap internet. Ini yang menjadikan PJJ menjadi kurang bermakna dalam proses pembelajaran.

Baca Juga :   Psikolog: Kapan Anak Siap Kembali ke Sekolah

Guru yang mengajar di perkotaan cenderung memiliki akses yang lebih luas terhadap kepemilikan gawai dan akses internet. Para guru juga sebagian besar menggunakan media digital dalam pembelajaran, setidaknya menggunakan pembelajaran daring sebanyak satu kali.

Sementara itu, guru yang sudah terbiasa menggunakan pembelajaran daring terus-menerus di kelas paling sedikit hanya delapan persen. Bahkan, masih ada guru yang sama sekali belum pernah melaksanakan pembelajaran daring sebelum pandemi (9,6 persen).

Survei diselenggarakan selama lima hari, mulai tanggal 17 April 2020 hingga 21 April 2020. Survei menjaring 602 responden di 14 provinsi di Tanah Air. *