Beranda Berita Mendikbud Sambut Baik Kritik Kebijakan Pendidikan

Mendikbud Sambut Baik Kritik Kebijakan Pendidikan

51
0
Mendikbud Nadiem Makarim ketika menjadi pembicara dalam diskusi di Jakarta, Kamis (30/1/2020). (Foto: antaranews.com)

SahabatGuru – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim tidak alergi kritik. Dirinya justru menyambut baik bila ada ‘resistensi’ kritik yang membangun atas kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, terutama soal pendidikan.

Kritik tersebut justru selalu memberikan solusi. Berbeda bila hanya sekadar mengritik tanpa memberi solusi. Mendikbud pun tak keberatan saat gagasan Kampus Merdeka yang dilontarkannya mendapat sorotan dan kritikan. Mendikbud akhirnya mengetahui mengapa gagasan itu mendapat sorotan.

“Menurut saya dari sisi pemerintahan kalau tidak ada resistensi sama sekali itu artinya Anda tidak melakukan tugas Anda. Kalau kita ingin melakukan perubahan di semua bidang di Indonesia harus dilakukan perubahan yang drastis,” kata Mendikbud Nadiem seperti dikutip antaranews.com di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Baca Juga :   Sistem Zonasi Dipertahankan di PPDB 2020

Di satu sisi ada juga resistensi yang tidak produktif. Itu hal-hal yang sifatnya hanya meng-highlight risiko tanpa memberikan solusi. Nyinyir tapi bawaannya lebih emosi dan biasanya karena tidak nyaman dengan perubahan

Kalau tidak ada resistensi maka perubahan yang ingin dilakukan oleh pemerintah tidak cukup besar atau cukup berdampak bagi kemajuan masyarakat. Mendikbud melihat resistensi yang konstruktif sebagai hal yang positif. Dia menyebut resisten tipe ini adalah kritik yang membantu pemangku kepentingan menyadari risiko-risiko dari kebijakan mereka.

Mendikbud mengambil contoh dari kebijakan Kampus Merdeka yang baru-baru dia deklarasikan. Bagaimana kritik yang dilontarkan menjadikan Kemendikbud mengidentifikasi permasalahan biaya bagi mahasiswa kurang mampu untuk pergi ke daerah lain melakukan magang atau proyek desa.

Baca Juga :   Anak-Anak Korban Gempa Palu Tetap Harus Sekolah

“Di satu sisi ada juga resistensi yang tidak produktif. Itu hal-hal yang sifatnya hanya meng-highlight risiko tanpa memberikan solusi. Nyinyir tapi bawaannya lebih emosi dan biasanya karena tidak nyaman dengan perubahan,” kata Nadiem.

Kritik tidak membangun itu, kata Mendikbud, biasanya memiliki asumsi bahwa kondisi pendidikan Indonesia saat ini sudah lumayan. Asumsi yang berbahaya, kata Nadiem.

Padahal, tegas dia, pendidikan Indonesia membutuhkan lompatan drastis untuk bisa mengatakan pembelajaran terjadi di ruang kelas.*