Beranda Berita KKN UII Kembangkan One Village One Concept di Desa Petir

KKN UII Kembangkan One Village One Concept di Desa Petir

66
0
Tim KKN UII saat beraudiensi dengan Asisten 1 Bupati Gunungkidul, Sudodo, Selasa (27/8/2019). Audiensi didampingi Himmatul Hasanah dari Apkasi. (Foto: istimewa)

SahabatGuru Universitas Islam Indonesia yang menerjunkan mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Gunungkidul benar-benar membuat gebrakan. Meski baru pertama kali mengirim mahasiswa angkatan 59 untuk KKN di Desa Petir, Kecamatan Rongkop, namun mereka memberi kontribusi nyata.

KKN dari UII menyelaraskan program dengan Perencanaan Pemerintah Desa (PPD) melalui One Village One Concept atau ‘Satu Desa Satu Konsep’. Program PPD itu sendiri berdasarkan Konsep Pengembangan Desa yang terintegrasi sehingga mampu mengembangkan potensi unggulan berbasis pada originalitas Desa Petir.

Menurut Kepala Pusat KKN Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII Soni Laksono bila pelaksanaan KKN terfokus melaksanakan program yang sesuai dengan perencanaan pemerintah desa.

“Pelaksanaan KKN UII di Desa Petir terfokus pada melaksanakan program yang sesuai dengan perencanaan pemerintah desa. Dengan demikian, KKN benar-benar terintegrasi dengan target One Village One Concept dari desa tersebut,” kata Soni Laksono.

Baca Juga :   Anang Hermansyah Sambut Positif Penarikan RUU Permusikan dari Prolegnas

Desa Petir sendiri tengah melakukan rintisan Desa Budaya. Menurut rencana, desa tersebut mengembangkan konsep Wisata Edukasi Berbasis Budaya dan Ilmu Teknologi (Iptek).

Di Desa Petir, 90 persen masyarakat adalah petani. Mereka memiliki ladang yang luas, tetapi fasilitas yang dimiliki menjadi hambatan. Mereka butuh peralatan penunjang untuk bercocok-tanam

Usmar Ismail, pembimbing lapangan KKN di Desa Petir, menuturkan program KKN tidak hanya mengangkat paket wisata tetapi juga membantu mengembangkan potensi alam Bukit Buthak dengan membangun embung di atas bukit. Ini selaras dengan Potensi Alam Masterplan dari Bukit Buthak.

“Embung bukan hanya sebagai penampung air namun juga menjadi irigasi pengembangan pertanian di sekitar lokasi wisata,” kata Soni.

Tidak Mengabaikan Masyarakat

Meski tengah mengembangkan konsep wisata edukasi, pemerintah Desa Petir tak mengabaikan bila masyarakat desa rata-rata bekerja sebagai petani. Keberadaan embung akan sangat bermanfaat bagi masyarakat petani. Para mahasiswa yang mengikuti KKN pun menyampaikan bila masyarakat membutuhkan peralatan yang menunjang untuk bercocok-tanam agar bisa meningkatkan produksinya.

Baca Juga :   Sistem Zonasi Paksa Pemda Ratakan Mutu Pendidikan

Hal itu pula yang disampaikan para mahasiswa yang diwakili Muhammad Farrel (ketua tim KKN), Dimas Septianto dan Thalya Alfiani Safira saat melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan DPRD Gunung Kidul, Selasa (27/8/2019). Saat audiensi dihadiri mahasiswa dan pihak UII, Soni Laksono beserta dosen pembimbing Aden Wijdan SZ dan Usmar Ismail. 

Selain itu ada Kepala Desa Petir Sarju yang didampingi Jimin dan Kepala Dukuh Siyono. Mereka didampingi Himmatul Hasanah dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

Mereka beraudiensi dengan Asistan 1 Bupati Gunung Kidul, Sudodo beserta jajaran. Tim bersama Himmatul dari Apkasi juga melakukan audiensi dengan anggota dewan Gunungkidul. Mereka diterima langsung Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntaringsih beserta jajaran ketua fraksi.

Baca Juga :   Disalurkan, Tunjangan Khusus Guru Korban Gempa NTB

Dalam audiensi itu Farrel menyampaikan bila masyarakat petani membutuhkan peralatan penunjang bercocok-tanam. Selain itu para generasi muda membutuhkan pelatihan sehingga mereka memang bisa disiapkan untuk mendukung rintisan sebagai desa wisata.

“Di Desa Petir, 90 persen masyarakat adalah petani. Mereka memiliki ladang yang luas, tetapi fasilitas yang dimiliki menjadi hambatan. Mereka butuh peralatan penunjang untuk bercocok-tanam,” kata Farrel.

“Selain itu, desa tengah mengangkat budaya dan wisata. Namun desa masih minim sarana dan prasarana,” ujarnya lagi.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Petir, Sarju. Menurut dia kondisi sarana dan prasarana memerlukan perhatian dari pemerintah kabupaten maupun DPRD.

“Kondisi sarana prasarana memerlukan perhatian baik dari pemerintah kabupaten maupun DPRD Gunungkidul. Salah satunya membuka akses kemudahan bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Petir sebagai Desa Rintisan Budaya,” tutur Sarju.