Beranda Berita Tak Puas dengan Sistem Zonasi? Wajar

Tak Puas dengan Sistem Zonasi? Wajar

95
0

SahabatGuru – Sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) masih memunculkan banyak pro dan kontra. Tak sedikit siswa yang memiliki nilai tinggi gagal masuk sekolah ‘favorit’ karena rumahnya berada di luar zonasi. Artinya jarak rumah siswa secara geografis terhitung jauh dengan sekolah yang diincar.

Akibatnya, dia harus bersekolah di sekolah terdekat yang sesungguhnya kurang ‘favorit’. Mereka yang bernasib seperti ini tentu saja merasa kecewa dengan sistem zonasi. Apalagi bila nilai ujian nasional siswa termasuk tinggi tetapi harus masuk ke sekolah yang nilai ujian siswa hanya rata-rata saja.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa sistem zonasi dalam PPDB tahun ini masih banyak pro dan kontra. Namun dia kembali menegaskan bila kebijakan itu sangat bagus untuk pemerataan.

Baca Juga :   Presiden Terima Dokumen Strategi Kebudayaan

Jadi semua sekolah harus unggul. Caranya dengan pemerataan pendidikan. Input kepada siswa harus sama. Tugas semua guru yang mengolah input

“Pasti ada yang puas ada yang tidak (sistem zonasi). Namanya juga sistem,” kata Muhadjir Effendy di Pekanbaru.

Dia menjelaskan bila sistem zonasi merupakan strategi pemerintah dalam melakukan pemerataan pendidikan. Dengan diterapkannya zonasi tidak ada sekolah unggulan. Tidak ada lagi istilah sekolah favorit’.

“Jadi semua sekolah harus unggul. Caranya dengan pemerataan pendidikan. Input kepada siswa harus sama. Tugas semua guru yang mengolah input,” ujar Mendikbud.

Mendikbud mengambil contoh SMA Negeri 8 Riau yang termasuk unggulan. Sekolah tersebut meyambut baik sistem tersebut.

“SMA 8 selama ini dikenal sebagai sekolah dengan siswa unggulan. Setelah kami jelaskan, mereka menyambut baik sistem zonasi karena ada pemerataan antara yang pintar dan tidak pintar,” kata Muhadjir.

Baca Juga :   PPDB Zonasi Selesaikan Masalah Ketidakmerataan Guru