Beranda Berita PPDB Zonasi Selesaikan Masalah Ketidakmerataan Guru

PPDB Zonasi Selesaikan Masalah Ketidakmerataan Guru

176
0
Guru yang berstatus PPPK di Kabupaten Bogor masih belum menerima gaji. Mereka pun hanya mendapat honor. Foto ilustrasi dari guru yang sedang mengikuti upacara. (foto: G. Susatyo)

SahabatGuru – Sisistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi solusi berbagai persoalan dunia pendidikan. Sistem itu tidak hanya untuk penerimaan siswa baru tetapi juga mengupayakan pemerataan guru.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan sistem zonasi juga menjadi solusi masalah ketidakmerataan guru. Dia justru tidak sepakat jika sistem zonasi dikatakan menimbulkan masalah. Menurut Muhadjir, zonasi membuat pemerintah lebih mengetahui persoalan sekolah di berbagai daerah secara lebih detail.

“Zonasi itu untuk menyelesaikan masalah infrastruktur dan ketidakmerataan guru. Zonasi ini untuk memperkecil, istilahnya itu men-close up masalah. Karena kalau petanya nasional itu buram. Tapi kalau kita pecah-pecah ke zona-zona itu jadi lebih tajam, lebih luas,” kata Mendikbud.

Baca Juga :   Wakil Ketua Komisi X DPR RI Minta Pelajaran PMP Tak Indoktrinatif

Selanjutnya, berbagai persoalan sekolah di tiap zona akan ditindaklanjuti pemerintah. Dengan sistem zonasi, menurutnya, diketahui banyak daerah yang belum memiliki sekolah memadai atau tidak cukup menampung siswa dari zona tersebut.

“Setelah tahu masalah ini akan kita selesaikan per zona. Mulai dari ketidakmerataan peserta didik, kesenjangan guru, ketidakmerataan guru, jomplangnya sarpras antarsekolah,” ujarnya.

“Ini memang karena uangnya ada di daerah, ya tinggal kita mereka meminta mereka agar membenahi banyaknya kontroversi. Bahwa di daerah-daerah sudah banyak yang sadar bahwa di daerahnya sekolahnya masih belum sebagus yang seperti didengung-dengungkan,” kata Mendikbud lagi

Selain itu, Muhadjir mengatakan sistem zonasi juga menghapuskan kastanisasi sekolah-sekolah. Menurut dia, istilah ‘sekolah favorit’ sudah usang.

Baca Juga :   1000 Guru SMK Dikirim ke Singapura

“Saya mohon masyarakat mulai menyadari bahwa namanya era sekolah favorit itu sudah selesai. Sekarang tidak ada sekolah yang isinya anak-anak tertentu, terutama mereka yang dari proses passing grade, yang relatif homogen,” ucap Muhadjir menegaskan.