Beranda Berita Diskusi Guru dan Industri 4.0, Dirjen GTK : Pelatihan Guru Berbasis Zonasi

Diskusi Guru dan Industri 4.0, Dirjen GTK : Pelatihan Guru Berbasis Zonasi

89
0

SahabatGuru–Kompetensi dan kualitas guru sangat penting dalam menghadapi era Industri 4.0 dan tantangan abad 21. Untuk itulah pelatihan guru perlu terus menerus dilakukan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memilih menggeser pelatihan guru dari pusat menjadi berbasis zonasi untuk menjawab tantangan tersebut.

Demikian rangkuman pendapat yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dr. Supriano saat menjadi nara sumber pada Dialog Guru dan Industri 4.0 di Panggung Publik Pekan Hari Pendidikan Nasional 2019 di Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (29/4/2019). Sejumlah nara sumber lain tampil dalam dialog tersebut.

“Ketika kita berbicara revolusi industri 4.0, tantangan abad 21, kalau gurunya tidak diperbaiki sampai kapanpun mungkin kita sulit menjawab itu. Ketika guru diperbaiki tentu diproses pelatihannya. Mulai tahun ini kami menggeser pelatihan berbasis zonasi. Anggaran Rp 840 miliar yang tadinya untuk pelatihan di pusat di geser ke zona,” papar Dr Supriano.

Baca Juga :   Program Indonesia Pintar Tumbuhkan Harapan Siswa

Menurut Dr. Supriano langkah menggeser pelatihan guru dari pusat ke zonasi antara lain bertujuan nantinya pelatihan bisa mandiri, baik menggunakan dana APBD maupun sumber lainnya. Namun, sebelumnya bisa mandiri dia mengatakan pelatihan guru yang sudah digester ke dalam zonasi bisa menggunakan Dana BOS, DAK non fisik.

Pada kesempatan tersebut Dirjen GTK Dr Supriano juga mengungkapkan bahwa sejalan dengan zonasi pelatihan guru maka pihak Kemendikbud (pusat) lebih fokus menyiapkan nara sumber atau instruktur nasional. Instruktur nasional inilah yang akan melatih guru inti. Selanjutnya para guru inti yang akan bertanggung jawab terhadap masalah atau proses dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

“Proses pengawasan dan pemantauan akan dilakukan oleh para Kepala Sekolah dan Pengawasan dan juga LPMP. Para Pengawas akan memiliki peran besar. Pengawas adalah Kepala Sekolah yang terbaik dan profesional. Kepala Sekolah dihasilkan dari guru-guru terbaik dan profesional. Sehingga Pengawas itu adalah jabatan yang ditunggu-tunggu para guru yang profesional,” papar dia.

Baca Juga :   Program Sekolah Menyenangkan di Tangerang, Mendikbud: Saya Apresiasi

Untuk itu, diungkapkan oleh Dirjen GTK Dr Supriano, saat ini sedang dibahas bersama Kementerian PAN-RB, tentang peran penting dan perubahan tunjangan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Sebagai gambaran diungkapkan bahwa Guru memiliki tunjangan 1 kali gaji, Kepala Sekolah memiliki tunjangan 1,5 kali gaji maka Pengawas memiliki tunjangan 2 kali gaji.

Pada kesempatan tersebut juga diungkapkan bahwa pelatihan MGMP adalah proses atau siklus belajar sehingga guru benar-benar bisa mengabaikan masalah yang terjadi. Satu siklus pelatihan kini selama 82 jam. Proporsinya 70 persen pedagogis dan 30 persen konten. Selain itu dalam pelaksanaan pelatihan MGMP tidak lagi berbicara soal modul. Sebab, kini sudah diubah menjadi unit bahasan. Untuk SD ada 35 unit dan SMP sebanyak 144 unit.

Baca Juga :   Zonasi Tidak Berlaku Untuk SMK dan Sekolah Swasta

“Mindset para guru harus diubah dalam menghadapi era Industri 4.0 dan tantangan abad 21 yaitu harus mampu masuk dalam analisis, sintesis dan menciptakan atau C4, C5 dan C6,” papar Dr Supriano.(ris)

Facebook Comments

Komentar