Beranda Berita Hasil Diagnosis UN Tiap Daerah Berbeda, Kemendikbud Minta Ini Pada Guru

Hasil Diagnosis UN Tiap Daerah Berbeda, Kemendikbud Minta Ini Pada Guru

97
0

SahabatGuru–Hasil diagnosis Ujian Nasional (UN), menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno, berbeda-beda di setiap daerah. Dia juga mengatakan UN harus menjadi alat refleksi para guru untuk memperbaiki metode pengajaran di kelas.

“Hasil UN harus menjadi alat refleksi bagi guru-guru dalam mengajar, mana yang harus diperbaiki. Jangan-jangan guru kurang memahami substansi sehingga anak-anak juga tidak menguasai materi itu,” ujar Totok, Minggu (28/4/2019) di Jakarta.

UN, papar dia, merupakan sistem penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran yang sudah disampaikan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Hasil UN juga bisa menjadi bahan evaluasi bagi Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP), Dinas Pendidikan, dan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan.

Baca Juga :   Inilah 5 Syarat Guru Era Industri 4.0 Menurut Prof Suyanto

“Nah sekarang, jika ada siswa yang mengeluh soal UN, hal itu perlu menjadi bahan refleksi untuk mengetahui penyebab dan mencari solusinya. Dinas pendidikan dan Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP) harus menggali lagi mengapa materi ini kurang dikuasai. Dimana kurangnya Dan dimana lebihnya,” tambah dia.

Menurut dia, profil diagnosisnya berbeda untuk masing-masing daerah. Ada yang bagus untuk materi ini ada juga yang tidak. Semua itu bisa dilihat dalam hasil UN secara keseluruhan.

“Ada daerah yang materi tertentu cenderung sulit, itu kemudian yang menjadi fokus pelatihan di MGMP, mengapa materi ini cenderung susah dikuasai dan mengapa materi lainnya mudah dikuasai,” kata Totok.

Baca Juga :   Apkasi Dorong Pengembangan Wisata Batas Negara dan Desa Wisata

Sejak tahun lalu, Kemendikbud memberikan hasil diagnosis UN yang diberikan kepada sekolah, dinas pendidikan serta Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. Dengan hasil tersebut bisa dilihat penguasaan siswa akan suatu materi.

Totok menambahkan nantinya, diagnosis UN itu bisa diakses melalui internet. Sehingga bisa digunakan untuk memperbaiki metode belajar mengajar di dalam kelas. Meski demikian, pihaknya tidak memaksa penggunaan hasil diagnosis UN itu. Menurut dia lebih kepada kesadaran.

“Lebih pada kesadaran, harus sadar betul bahwa tanggung jawab moral pendidikan itu adalah mencerdaskan anak. Cerdas sikap, fisik, karakter hingga pikiran. Lalu bagaimana anak ini berpikir kritis, kreatif dan mampu menggunakan konsep yang diajarkan,” kata dia lagi.(ant/ris)

Baca Juga :   Hadapi Persaingan Global, Ngawi Gandeng APKASI-YPAN Adakan Pelatihan Smart English