Beranda Berita Literasi Indonesia Masih Sangat Rendah

Literasi Indonesia Masih Sangat Rendah

273
0
Anak sekolah sedang membaca buku di perpustakaan sekolah. (Foto: istimewa)

SahabatGuru – Masyarakat Indonesia sudah mengenal enam literasi dasar yakni baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial serta budaya, dan kewargaan. Akan tetapi berdasarkan peringkat Programme for International Student Assesment (PISA) 2015, literasi Indonesia menempati peringkat 69 dari 76 negara atau dengan kata lain termasuk rendah. Artinya, masyarakat Indonesia ternyata tidak gemar membaca.

Ironisnya membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal oleh manusia. Ini terbukti dengan ditemukan banyak peninggalan karya sastra di zaman dulu.

Dengan kondisi literasi bangsa yang rendah perlu ditingkatkannya budaya literasi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menuturkan gerakan literasi nasional sudah digalakkan untuk meningkatkan literasi nasional.

Baca Juga :   Tak Patuhi Zonasi PPDB, Mendikbud Tegur Pemda

“Sejak 2015 kami menggalakkan gerakan literasi nasional. Saya berharap gerakan itu tidak hanya sekedar membaca untuk memahami teks, tetapi memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi,” kata Mendikbud.

Dengan kemampuan itu, siswa tidak hanya terpaku pada jawaban proses menghafal tetapi memahami konsep ilmunya. Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu keterampilan abad 21.

Menurut Mendikbud budaya literasi harus dikembangkan melalui pendidikan terintegrasi yang dimulai dari keluarga, sekolah hingga masyarakat.

Pasalnya membaca dan menulis termasuk literasi fungsional yang berguna, yang mana dalam hal ini membaca merupakan kunci untuk mempelajari semua ilmu pengetahuan termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak dalam kehidupan masyarakat. Kualitas hidup seseorang lebih baik dengan kemampuan membaca dan menulis.

Baca Juga :   Pengangkatan PPPK, PGRI Minta Guru Honorer Senior Diprioritaskan

“Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad 21, melalui pendidikan terintegrasi,” ujar Muhadjir.