Bercerita Gempa Lombok Utara, Begini Aksi Imam Safwan Membawakan Puisi ‘Malam Itu’

    227
    0

    SahabatGuru–Memukau. Itulah kata yang tepat menggambarkan aksi budayawan kelahiran Pamenang, Lombok Utara, 12 April 1978 saat membacakan karya puisi berjudul ‘Malam Itu’. Puisi bertutur tentang peristiwa gempa Lombok Utara yang terjadi akhir 2018.

    Merampungkan studi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram, Imam amat sublim saat berpuisi. Maklum Imam adalah penyair kampiun. Puisi-puisinya telah diterbitkan beberapa media seperti Indo Pos, Sinar Harapan, Bali Pos, banjar masin Pos,Suara NTB, Koran Kampung, Jurnal Santarang, Jurnal Replika, Buletin KLU, Jurnal Duntal.

    Tak hanya itu, karya Imam juga termaktub dalam antologi bersama Simpang Lima (2009), Dari Takhalli Sampai Temaram (Dewan Kesenian NTB, 2012) Indonesia di Titik 13 (2013) Tifa Nusantara (2013). Juga dalam Negeri poci ”Negeri langit”( 2014), Negeri poci”Negeri Laut”, Negeri poci”Negeri Awan”. Atologi Puisi pilihan suara NTB. “ Kembang Mata”, dan “Ironi Bagi Para Perenang”. Bersepeda ke Bulan (Indo Pos), NUN (Yayasan Hari Puisi 2015),. Jalan Cahaya (KSI).

    Baca Juga :   ZONASI GURU: BERSAMA MEMBANGUN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN MERATA

    Imam juga diundang membaca puisi dalam event Temu Karya Sastrawan Nusantara di Tangerang, Banten (Desember 2013), Fokus Sastra 14 di Bandung (April 2014). Menjadi Narasumber Penulisan Karya Sastra, Lombok, Sumbawa, Bima ( Kantor Bahasa Provinsi NTB 2015 ).

    Cerpennya pernah terbit di Suara NTB dan majalah Ekspresi Bali. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Gili Tiga Bidadari (2012) Rindu Desir Pada Pasir (2012),dan Langit Seperti Cangkang Telur Bebek ( 2014), Naskah Drama 3 babak Maling. Buku reprensi tentang kebudayaan berjudul Memulang (Dikbudpora KLU, 2013).

    Video dibawah ini memuat aksi Imam Safwan saat membacakan karya puisinya ‘Malam Itu’.(ris)

    MALAM ITU

    malam itu, usai kumandang Isa
    drap kaki menuju masjid dan moshola
    anak anak mengaji dan berdoa
    para pemuda kelakar di pos ronda
    rencana tergelar di atas meja kerja

    dalam sekejap
    dalam sikap yang tak sigap
    gempa datang
    orang orang lari tunggang langgang
    rencana yang tergelar hilang
    nyawa dalam buruan
    melayang

    takbir dan zikir seperti mantra pengusir sihir
    Ibu mencari anak mencari bapak mencari tetangga mencari
    saling cari
    mengais
    menangis.

    seseorang teriak tersebab ketakutan
    ada kabar air laut naik di plabuhan
    kembali riuh
    kembali gemuruh
    Orang orang naik ke gunung
    karena takut yang menggunung

    gelap
    sejenak senyap
    hanya suara sisa nafas

    di atas bukit
    malam kami akrabi
    tak ada selimut dan pengisi perut
    tak ada plafon dan balon
    bintang dan bulan jadi obrolan
    ada yang merangkainya
    jadi kaligrafi bertuliskan Tuhan
    ada yang berimaji jadi putri dewi anjani
    sementara anak anak sejenak berpantasi
    seorang ibu bercerita tentang bintang dan bulan mengalihkan pertanyaan sang anak tentang neneknya yang tertinggal saat berlari diantara reruntuhan.
    maka segala simpulan dan perkiraan berhamburan laksana bintang.

    hanya semak dan serangga
    mata dan telinga siaga
    ditiap getaran gempa
    di bibir mengalirkan takbir dan doa.

    Komentar