Beranda Kolom Muhammadiyah dan Orang-orang Politik!

Muhammadiyah dan Orang-orang Politik!

230
0

Oleh : Suyoto

(Orang politik sebaiknya jangan membaca tulisan ini)

Orang politik adalah mereka yang merebut posisi politik baik dalam legislatif, eksekutif atau jabatan lainnya yang didapatkan dengan legitimasi publik. Orang orang politik ini ada yang berlatar belakang  kader dan aktifis Muhammadiyah, simpatisan atau politisi umum lainnya.

Sebagai ormas yang memiliki anggota, simpatisan dan amal usaha, langsung maupun tidak langsung Muhammadiyah memiliki kekuatan. Pertama kekuatan elektoral atau ceruk pemilih, kumpulan orang Muhammadiyah dan kerapian oraganisasinya adalah suara. kedua, kekuatan moral yang dapat digunakan untuk memberi legitimasi bagi keadaan atau orang politik. Ketiga, kekuatan finansial baik yang berasal dari organisasi maupun dari  pendukung Muhammadiyah.

Dalam posisi seperti ini maka sangat wajar bila dalam setiap ada gawe politik  Muhammadiyah suka tidak suka bersinggungan dengan politik. Orang orang politik akan berhubungan dengan Muhammadiyah sesuai kepentingan politiknya.  Inilah yang disebut kepentingan politik terhadap Muhammadiyah.

Baca Juga :   Badak Jawa dan Letusan Krakatau

Dalam perjalanan sejarah kepentingan politik terhadap Muhammadiyah dapat dikelompokkan dalam dua model:

  1. Model  Modal Moral Muhammadiyah, seperti Jenderal Sudirman: Sudirman seorang guru Muhammadiyah, Aktif di Kepanduan HW, lalu terlibat dalam barisan pejuang kemerdekaan. Sudirman mendapatkan kedudukan sebagai panglima TNI tidak pernah membawa bawa nama Muhammadiyah. Eksistensinya diakui sejarah sebagai teladan dan standar moral perjuangan TNI. Ada banyak aktifis politik berlatar belakang Muhammadiyah berkiprah dimana mana tidak perlu menyebut embel embel Muhammadiyah dan tidak me gandalkan elektoral Muhammadiyah, namun bangsa, negara dan rakyat mendapatkan manfaatnya. Nama atau brand Muhammadiyah jadi harum dan naik karenanya
  2. Model Modal Elektoral Muhammadiyah. Di beberapa wilayah yang jumlah pengikut Muhammadiyah sigifikan untuk elektoral aktifis Muhammadiyah yang terjun di politik memperebutkan suara Muhammadiyah sebagai tujuan utama atau sebagai modal utama. Biasanya mereka akan menjual loyalitas dan jasanya selama ini kepada Muhammadiyah. Orang luar Muhammadiyah akan berusaha mendekati pengurus Muhammadiyah dengan berbagai cara untuk mendapatkan modal elektoral Muhammadiyah.   Pendekatan orang politik ini bisa sangat menggoda pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk terlibat aktif memberikan dukungan politik secara nyata.
Baca Juga :   Selat Sunda Rawan Tsunami

OJO Kagetan!
Rekomendasi Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu belum lama ini sebenarnya memberi pesan yang sangat jelas agar orang Muhammadiyah tidak kagetan, mudah terjebak dalam pergulatan politik dan permainan  orang politik baik yang berlatang belakang aktifis Muhammadiyah maupun non aktifis. Politik is politik kepentingan utamanya merebut kekuasaan, senjata apa saja dapat digunakan untuk merebut dukungan, termasuk politisasi agama. Kebetulan agama dan sejarahnya menyediakan narasi apa saja untuk kepentingan anteman, ageman dan ugeman. Dengan semangat menghadirkan Islam yang berkemajuan Pimpinan Muhammadiyah harus mampu mengelola modal politik Muhammadiyah untuk wujudkan Indonesia berkemajuan, sebagai daarul ahdi wasshahadah. Jangan mudah tersanjung atau terhina oleh rayuan orang politik, sebab kepentingan Muhammadiyah jauh lebih mulia dan berjangka panjang dibanding kepentingan orang politik.

Baca Juga :   Menjadi Bagian Sukses Generasi Milenial 2000

Terhadap aktifis Muhammadiyah yang berpolitik doronglah mereka meniru Jendral Sudirman, ambillah atau rebutlah kekuasaan dari berbagai pintu, gunakanlah moral Muhammadiyah, dan kelak gunakanlah kekuasaan untuk memberi manfaat kepada bangsa dan negara. Itulah semangat Islam berkemajuan, Semangat Islam produktif, yang maju dan memajukan!(*)

Unmuh Gresik 25 Februari 2019
Suyoto (Pengajar Perilaku Organisasi)