Beranda Berita Butuh Rp 200 M, Pemulihan Pendidikan Pascabencana Sulteng

Butuh Rp 200 M, Pemulihan Pendidikan Pascabencana Sulteng

154
0

SahabatGuru–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah tengah merampungkan assessment atau penghitungan kebutuhan dana pemulihan sektor pendidikan pascabencana gempa 28 September 2019. Hasilnya, dibutuhkan dana Rp 200 Milliar untuk pemulihan pendidikan.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah Irwan Lahace saat ini, tim assessment sementara merampungkan data base bidang pendidikan terdampak bencana alam yang terjadi pada 28 September 2018 itu. Diharapkan akan segera rampung.

“Kita berharap segera bisa dirampungkan,” kata dia, Jumat (22/2/2019).

Irwan juga mengatakan dana pemulihan pendidikan sebesar itu antara lain untuk membangun dan memperbaiki kembali berbagai sarana dan prasana yang rusak karena bencana alam. Juga pemulihan lain yang diperlukan.

Bencana  gempa  dengan magnitudo 7,4 SR yang disusul tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong, menelan korban jiwa ribuan orang dan merusak banyak sekali sarana pendidikan.

Baca Juga :   Tak Cukup Pendidikan Karakter, BNPB Minta Kebencanaan Masuk Kurikulum

Tercatat sebanyak 1.000 ruang kelas dan 339 unit bangunan sekolah tersebar di empat wilayah terdampak bencana di Sulteng itu mengalami kerusakan berat. Selain itu, lanjut Irwan, ada sebanyak 50 guru meninggal dunia dan 30 guru lainnya hilang serta sekitar 200.000 siswa terdampak bencana alam itu.

Khusus sekolah-sekolah yang rusak total, sedang dan ringan sudah mulai dibangun dan diperbaiki kembali. Hingga kini, katanya, masih ada siswa yang belajar di tenda-tenda darurat dan sekolah darurat yang disediakan menggunakan kerangka baja ringan dan juga konstruksi kayu tahan gempa.

Sementara Bupati Sigi Irwan Lapata mengatakan sekolah yang rusak di daerahnya akibat bencana alam ini sebanyak 114 unit tersebar di 13 kecamatan. Pemkab Sigi dan sejumlah lembaga kemanusiaan saat ini sedang membangun dan memperbaiki kembali sekolah yang rusak agar proses belajar-mengajar bisa kembali normal.(ant/ris)

Baca Juga :   Penting, SMK harus Berbasis Wirausaha