Beranda Berita Sekolah Bukan Bimbel, Ini Penjelasan Guru Besar UI

Sekolah Bukan Bimbel, Ini Penjelasan Guru Besar UI

102
0

SahabatGuru–Sekolah, menurut Guru besar teknologi komputer Universitas Indonesia Prof Riri Fitri Sari, bukan bimbingan belajar yang hanya memberikan siswa latihan soal-soal. Sekolah harus mendorong siswa berpikir kreatif, runtut, detail dan menyelesaikan masalah melalui budaya meneliti.

“Saya perhatikan saat ini sekolah lebih banyak seperti bimbingan belajar, hanya memberikan latihan soal-soal agar siswa bisa diterima di perguruan tinggi.  Seharusnya sekolah mendorong agar siswa memiliki budaya meneliti,” ujar Prof Riri di Jakarta, Rabu (20/2/2019).
   
Dia menambahkan budaya meneliti membuat anak mendorong anak untuk berpikir kreatif, runtut, detail dan menyelesaikan masalah. Menurut dia, budaya meneliti perlu dibangun di sekolah bukan untuk membuat semua siswa menjadi peneliti saat dewasa. Akan tetapi kegiatan itu melatih anak melihat masalah sekaligus mencari solusinya.
   
“Dengan meneliti, membuat anak berpikir kreatif, logis, runtut dan detail. Sangat bagus untuk pola pikirnya dan anak tidak mudah putus asa,” kata dia lagi.

Baca Juga :   Dana Pendidikan Kabupaten Kampar Capai Rp449,4 Miliar

Pandangan senada juga pernah diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Beberapa waktu lalu Mendikbud menyarankan kepada seluruh siswa yang menghadapi ujian nasional berbasis komputer untuk tidak terlalu percaya kepada lembaga bimbingan belajar.

Muhadjir mengatakan lebih baik siswa mempercayakan proses pembelajarannya kepada guru-guru di sekolah yang lebih mengerti tentang kenaikan standar dalam ujian nasional.

“Saya sarankan untuk tidak terlalu percaya pada bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh luar (sekolah). Percayakan kepada guru, kalau perlu guru harus ada pendalaman. Jadi sebaiknya sekolah yang menyelenggarakan bimbingan, jangan kemudian mendorong anak-anak ke bimbel,” kata Muhadjir.

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini, lanjut Muhadjir, sedang dalam proses peningkatan kualitas dengan menerapkan metode yang disebut HOTS (higher order thinking skill) atau keterampilan berpikir lebih tinggi.

Baca Juga :   Ternyata, Gaji P3K Dipastikan Sama Dengan PNS

Penerapan standar lebih tinggi dalam UNBK dilakukan untuk mendapatkan kualitas lulusan sekolah formal yang baik. Hal itu yang kemudian mengakibatkan banyak siswa menemui kesulitan dalam mengerjakan soal-soal UNBK.

Pelaksanaan UNBK tingkat sekolah menengah atas (SMA) yang berlangsung pada 10 – 13 April mendapat kritik dari sejumlah siswa karena soal-soalnya dianggap sulit dan tidak sesuai dengan pelajaran yang diterima di sekolah.

Selain soal mata pelajaran matematika, yang dianggap tidak sesuai kisi-kisi, siswa juga mengeluhkan mengenai penggunaan metode esai dan analisa dalam UNBK.

Federasi Serikat Guru Indonesia menemukan kondisi di mana soal matematika dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer menjadi soal yang banyak dikeluhkan siswa karena terlalu sulit dan tidak sesuai dengan kisi-kisi.

Baca Juga :   Kado Spesial Presiden Jokowi Untuk Guru Honorer

Keluhan soal matematika terutama matematika IPS tersebut terkait dengan jumlah dan cakupan materi tidak sesuai kisi-kisi, tidak sesuai dengan cakupan materi di simulasi UN dan uji coba UN, dan tidak sesuai kaidah penyusunan soal yang baik.(ant/ris)

Facebook Comments

Komentar